
Instagram | Foto: freepik.com
Instagram | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Instagram mulai menguji coba menyembunyikan jumlah “Likes” untuk pengguna aplikasinya di Amerika Serikat.
CEO Instagram Adam Mosseri membuat pengumuman tersebut ketika menghadiri acara konferensi WIRED25 yang digelar pada 8-9 November lalu di San Fransisco, demikian seperti dikutip dari The Verge yang diakses Minggu (10 November 2019).
Uji coba tersebut dilakukan pada unggahan dari Feed, web, dan profil. Pemilik akun akan tetap bisa melihat jumlah “Likes" dan siapa saja yang menaruh “Likes” pada unggahan. Hanya, orang lain tidak akan bisa melihat berapa banyak orang yang menge-“Like” status tersebut.
Uji coba penghapusan jumlah "Likes" pertama kali telah dilakukan Instagram di Kanada, lalu diikuti Irlandia, Italia, Jepang, Brasil, Australia, dan Selandia Baru.
Dengan perubahan itu, Instagram berharap aplikasi bisa lebih bermanfaat bagi pengalaman semua pengguna.
Berita Terkait:
Laporan BBC pada tahun lalu menunjukkan, media sosial telah mempengaruhi kejiwaan seseorang. Seseorang bisa merasakan sedih, kesepian, cemburu, tidak percaya diri, bahkan merasa tidak memiliki harga diri di dunia nyata lantaran postingan di media sosial.
Pada 2015, Pew Research Center yang berbasis di Washington DC menyurvei 1.800 orang dan menyimpulkan bahwa penggunaan media sosial memiliki keterkaitan dengan stres meski masih dalam tingkat rendah.
Para peneliti mengkaji kecemasan yang disebabkan medsos yaitu ditandai dengan perasaan gelisah dan khawatir, dan susah tidur dan berkonsentrasi.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Computers and Human Behaviour menemukan bahwa orang-orang yang menggunakan tujuh atau lebih jenis medsos bisa menderita tiga kali atau lebih gejala kecemasan dibandingkan mereka yang hanya menggunakan 0-2 medsos.
Studi pada 2016 yang melibatkan 1.700 orang juga menemukan risiko depresi dan kecemasan mencapai tiga kali lipat di antara orang-orang yang paling banyak menggunakan platform medsos. Penyebabnya, perkiraan peneliti salah satunya, cyberbullying.
Kepercayaan diri
Dulu, majalah perempuan dan penggunaan model dengan tubuh langsing, tentu saja dengan foto yang diedit lebih cantik, menjadi pengaruh kuat bagi kalangan remaja perempuan.
Namun, kini medsos telah menggantikannya dan membuat pengguna medsos merasa tidak puas diri, demikian survei yang melibatkan 1.500 orang oleh sebuah badan pendukung kaum disabilitas, Scope.
Sebuah studi yang dilakukan pada 2016 di Penn State University juga menunjukkan bahwa melihat swafoto seseorang menurunkan kepercayaan diri karena para pengguna membandingkan diri mereka dengan foto orang yang tampak paling bahagia.
Para peneliti dari Universitas Strathclyde, Universitas Ohio dan Universitas Iowa juga menemukan bahwa perempuan membandingkan dirinya secara negatif terhadap swafoto perempuan lain.
Share: