IND | ENG
Aktivis Ini Kembangkan Alat Pengenal Wajah untuk Identifikasi Polisi Tak Berseragam

Ilustrasi | Foto: freepik.com

Aktivis Ini Kembangkan Alat Pengenal Wajah untuk Identifikasi Polisi Tak Berseragam
Tenri Gobel Diposting : Minggu, 03 Januari 2021 - 15:26 WIB

Cyberthreat.id – Teknologi pengenalan wajah (facial recognition) biasa dipakai oleh aparat penegak hukum untuk melacak tersangka kejahatan, tapi alat yang dikembangkan satu ini justru dipakai sebaliknya.

Seorang aktivis di Portland, Amerika Serikat, Christopher Howell, juga mengembangkan alat FR, bedanya ia pakai untuk “melacak para polisi yang seringkali tidak berseragam atau mencoba menyembunyikan identitasnya,” demikian tulis The New York Times, diakses Minggu (3 Januari 2021).

Howell mengatakan, dirinya terlibat mengembangkan alat FR karena seringkali aparat Portland tak memakai seragam ketika di publik. Sayangnya, alat pelacakan dan indentifikasi seperti itu bakal dilarang  di kotanya; inilah yang menjadi kekhawatirannya.

Awal September 2020, pemerintah setempat sedang menggodok RUU yang akan melarang polisi melacak para pengunjuk rasa dengan perangkat lunak.

Wali Kota Portland, Ted Wheeler, mengkhawatirkan apa yang dilakukan oleh Howell dan timnya. Ia menyebut alat tersebut “sedikit menyeramkan”.

Namun, Howell berpegangan pada pertimbangan seorang ahli hukum bahwa ketika aturan itu disahkan menjadi UU, tidak berlaku untuk individu.

Howell pun memilih melanjutkan meneruskan pengembangan teknologi FR-nya meski ada banyak tekanan yang diterimanya di Portland.

Lelaki 42 tahun itu mengaku mulai mendalami teknologi kecerdasan buatan sejak di sekolah pascasarjana. Idenya ini lahir saat dirinya sedang mandi yang dibantu dengan pemahamannya dan minatnya terhadap teknologi itu.

Pengembangan FR, menurut dia, penting dilakukan sebagai bentuk akuntabilitas. “Kita perlu tahu siapa yang melakukan apa, jadi kita bisa menghadapinya,” ujar Howell.

Seperti diketahui, polisi juga melakukan hal dengan tujuan yang sama dengan Howell, yakni untuk mengetahui siapa yang melakukan apa, jika konteks polisi yakni mencari tahu pelaku kejahatan.

Melihat adanya kegiatan itu, Clare Garvie, pengacara di Pusat Privasi dan Teknologi Universitas Georgetwon menilai apa yang dilakukan Howell adalah sebuah keadilan. Namun, Clare menyoroti risiko pengembangan di tangan semua orang atau umum.

Selain itu, yang menjadi pertanyaan dari mana basis data gambar/foto yang didapat Howell, karena alat FR sangat memerlukan basis data foto. Sementara, di kepolisian mereka telah mendapat dukungan dari basis data pemerintah atau selama ini dipasok oleh Clearview AI, perusahaan kecerdasan buatan yang kontroversial.

Untuk mendukung basis data, Howell pun sempat membuat permintaan publik untuk daftar petugas polisi, seperti nama dan nomor personel mereka, tetapi itu ditolak.

Lantas bagaimana caranya dirinya mengumpulkan data untuk mengembangkan teknologi pengenal wajahnya?

Howell mengumpulkan ribuan gambar petugas polisi Portland dari artikel berita dan media sosial setelah menemukan nama mereka di situs web kota.

Sumber gambar yang menurutnya sangat membantu adalah media sosial Facebook. Howell mengatakan banyak petugas yang berfoto dan foto itu diunggah dengan keadaan petugas menggunakan seragamnya, sehingga memudahkan dirinya. Namun, tantangan terbesarnya yakni mendapatkan gambar berkualitas, tuturnya.

Sebetulnya upaya sipil untuk mengidentifikasi polisi-polisi yang berlaku kasar juga telah dilakukan oleh kantor media ProPublica dengan meminta bantuan dari pembacanya—melaporkan berbasis video.

Ada pula,sebuah kelompok anti-pengawasan di Chicago, Lucy Parsons Lab, memulai proyek OpenOversight pada 2016—sebuah basis data aparat penegak hukum yang dapat ditelusuri publik”. Layanan ini meminta umum mengunggah foto petugas berseragam dan mencocokannya dengan nama petugas atau nomor lencana.

Foto lebih dari 1.000 petugas telah diunggah ke situs web tersebut, kata pengembang utama OpenOversight Jennifer Helsby.

Selain ketiga sumber tadi, basis data sumber terbuka yang dikembangkan di kota-kota lain, misalnya, Cops.Photo, juga dijadikan Howell untuk menambah basis ata yang diperlukan alat FR-nya.

Howell cukup terbantu dengan perangkat lunak pengenal gambar siap pakai yang telah tersedia dalam beberapa tahun terakhir. Ia menggunakan platform yang disediakan Google, TensorFlow, yang membantu orang-orang membuat model pembelajaran mesin.

Saat ini alat pengenalan wajahnya masih dalam proses dan hanya bisa mengenali sekitar 20 persen dari anggota polisi Portland.

Howell pun tidak membuat teknologi ini untuk umum, tetapi dia mengatakan teknologinya sudah membantu seorang teman untuk mengonfirmasi identitas petugas. Namun, Howell menolak memberikan rincian lebih lanjut.

Sementara itu, Derek Carmon, petugas informasi publik di Biro Kepolisian Portland menolak berkomentar terkait teknologi yang dikembangkan Howell.

Namun, Carmon mengatakan identitas nama pada seragam petugas kini telah diubah menjadi nomor personel. Upaya ini dilakukan untuk menghindari aktivitas doxxing terhadap petugas, kata dia.[]

Sumber: The NYT | UberGizmo | Redaktur: Andi Nugroho

#facialrecognition   #alatpengenalwajah   #keamanandanprivasi   #portland   #amerikaserikat

Share:




BACA JUGA
China Tuduh Amerika Lakukan Spionase Siber Selama Satu Dekade Terhadap Server Huawei
Pemerintah China Hantam iPhone, Demi Huawei Mate60 Pro?
Gedung Putih Panggil Sejumlah CEO Perusahaan Teknologi, Bahas Isu Kecerdasan Buatan
Italia Larang Sementara ChatGPT. Dituding Kumpulkan Data Pengguna secara Ilegal
Google vs Bing: Bersaing AI Generatif di Mesin Pencari