IND | ENG
Status Decacorn Go-Jek Dipertanyakan Media AS

Foto: Go-jek.com

Status Decacorn Go-Jek Dipertanyakan Media AS
Andi Nugroho Diposting : Senin, 08 April 2019 - 19:43 WIB
  • CB Insight memasukkan Go-Jek dalam daftar perusahaan berstatus decacorn.
  • Tampaknya CB Insight menggunakan batas atas US$10 miliar sebagai penilaian atas valuasi Go-Jek.

Jakarta, Cyberthreat.id - Pada 7 April 2019, Badan Ekonomi Kreatif mengunggah cuitan di Twitter-nya (@BekrafID) tentang capaian perusahaan layanan transportasi, Go-Jek, yang berstatus decacorn pertama di Indonesia.

"Sekarang giliran kami yang mengirimkan karangan bunga digital ini ke @gojekindonesia. Selamat telah menjadi perusahaan anak bangsa pertama yang menyandang status decacorn! Terima kasih telah banyak membantu kami. Oiya, kami tunggu promo-promo berikutnya ya ???? Indonesia bangga!" demikian tulis Bekraf.

Unggahan itu menyusul pemberitaan dari The Jakarta Post pada 5 April 2019 pukul 09.40 WIB dengan judul "Go-Jek becomes Indonesia’s first decacorn".

Selanjutnya, dengan mengutip berita The Jakarta Post, Bloomberg juga menurunkan artikel berjudul "Go-Jek Joins ‘Decacorn’ Ranks With $10 Billion Valuation" pada 6 April 2010 pukul 13.19 WIB.

Sumber yang dipakai The Jakarta Post dan Bloomberg adalah data yang dipaparkan CB Insight, lembaga penelitian pasar asal New York, Amerika Serikat.

Dalam laporan Global Unicorn Report, CB Insight memasukkan Go-Jek dalam daftar perusahaan berstatus decacorn--perusahaan rintisan yang memiliki nilai valuasi (nilai ekonomi sebuah perusahaan) lebih dari US$10 miliar (di atas Rp141 triliun jika nilai kurs Rp14 ribuan).

Go-Jek berada di posisi 18 di bawah pesaing kuatnya, GrabTaxi, yang memiliki nilai valuasi US$11 miliar. Sementara Uber, aplikasi transportasi yang di Indonesia bergabung bersama Grab, menempati posisi kedua dengan nilai US$72 miliar.

Menurut The Jakarta Post, perusahaan startup yang didirikan oleh Nadiem Makarim itu telah mendapatkan suntikan dana dari sejumlah perusahaan, termasuk Google, Tencent Holdings, Temasek Holdings, Astra International, dan Meituan Dianping.

Go-Jek mengklaim telah mengumpulkan dana sektiar US$1,5 miliar dari sejumlah investor pada 2018 dan US$1 miliar pada kuartal I 2019.

Selain Go-Jek, di laporan tersebut, CB Insight juga memasukkan dua perusahaan startup Indonesia yang telah masuk status unicorn, yaitu Tokopedia (US$7 miliar) dan Traveloka (US$2miliar).

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menuturkan, meski berita Go-Jek yang mencapai status decacorn belum dikonfirmasi dan hanya didasarkan pada laporan CB Insigts, hal itu merupakan capaian besar.

"Ini memang tonggak penting tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk kawasan regional," tutur dia seperti dikutip dari Bloomberg.

Semenjak Uber menarik diri dari persaingan pasar di Asia Tenggara, praktis hanya Go-Jek dan Grab yang "berjuang menjadi yang terbesar".

Grab lebih dulu mengklaim diri sebagai decacorn pertama di Asia Tenggara. Belum lama ini Grab mendapatkan suntikan dana sekitar US$1,5 miliar dari SoftBank Group Corporations Vision Fund. Artinya selama setahun terakhir, Grab telah mengumpulkan dana dari investor sebesar US$4,5 miliar. Dengan capaian itu, TechCrunch mencatat Grab telah mendapatkan valuasi sekitar US$14 miliar.

Prematur
TechCrunch, situs web berita dunia teknologi informasi asal San Fransisco, AS, mempertanyakan pemberitaan yang menyebutkan Go-Jek termasuk dalam perusahaan decacorn.

Bantahan itu ditulis oleh wartawan TechCrunch, Jon Russel, dalam artikel bertajuk "No, Go-Jek isn't valued at $10 billion...yet" pada Senin (8/4/2019).

Russell mengatakan, dua sumbernya yang dekat dengan Go-Jek mengatakan bahwa valuasi Go-Jek baru mendekati US$10 miliar.

Menurut dia, pada Januari 2019 saat penutupan pertama pendanaan terbaru untuk Go-Jek, nilainya baru di kisaran US$9,5 miliar.

Pemberitaan Bloomberg dan sejumlah media lain dinilai Russell telah melenceng. Meski menggunakan data CB Insight, kata dia, hal itu tidaklah menguatkan status decacorn karena tidak ada sumber atas nilai valuasi itu.

"Karena CB Insight (hanya bekerja) mengumpulkan data dari media," tulis Russell.

Ketika penutupan pendaaan putaran pertama, beberapa media, termasuk Reuters, melaporkan bahwa kesepakatan untuk mendanai Go-Jek berada di antara US$9 hingga US$10 miliar.

"Tidak ada pembaruan lebih lanjut di tahap itu, sumber kami mengatakan, bahwa nilai kisaran itu saat ini masih berlanjut dan karenanya tidak ada investasi/pembaruan khusus yang memunculkaan valuasi baru," tulis dia.

"Tampaknya CB Insight telah menggunakan batas atas US$10 miliar yang dikutip sejumlah media sebagai penilaian atas valuasi Go-Jek."

Selama ini, tulis Russell, tidak ada perusahaan yang secara resmi mengumumkan nilai valuasi, kecuali nilai-nilai valuasi itu hanya bocor ke media melalui sumber anonim.

"Jadi, masih belum jelas mengapa CB Insight menggunakan nilai yang tidak terverifikasi," tulis Russell.

Menurut dia, media yang membangun informasi dari sepotong informasi yang belum terverifikasi terlebih dulu merupakan sesuatu yang meresahkan.

Sumber: The Jakarta Post, Bloomberg, TechCrunch

#gojek   #gojekindonesia   #cb   #insight   #decacorn

Share:




BACA JUGA
GoTo Pangkas Massal 1.300 Karyawan
Bikin Akun Driver Pakai Identitas Curian dari Dark Web, Pria Ini Terancam 22 Tahun Penjara
Driver Gojek Pakai Topeng Saat Verifikasi Wajah dan Bawa Kabur Macbook Rp67 Juta
Gojek dan Tokopedia Digugat Rp2 Triliun
Tudingan SATRIA Rp3 Miliar, BSSN: Komentar Disinformasi Memang Luar Biasa