
Ilustrasi. Foto: Unsplash
Ilustrasi. Foto: Unsplash
Cyberthreat.id – Bagaimana kira-kira orang Amerika Serikat mengisi daya baterai ponsel pintarnya?
Baru-baru ini NPD Group, sebuah perusahaan riset pasar asal Amerika Serikat, mengeluarkan laporannya terkait survei konsumen tentang cara pengisian daya baterai ponsel.
Ternyata, 63 persen responden memiliki kekhawatiran terhadap baterai ponselnya akan mati saat jalan-jalan dan tak menemukan steker atau colokan listrik.
Dalam survei yang menanyai 1.000 responden, NPD Group mengatakan, lebih dari separuh (69 persen) cenderung mengisi daya baterai ponsel sebanyak dua kali dalam sehari.
Yang menarik, sebanyak 64 persen responden cenderung lebih suka membiarkan pengisian ponsel semalaman, dikutip dari Android Authority, diakses Jumat (11 November 2022).
Terlepas dari riset itu, cara pengisian semalaman seperti itu masih menimbulkan perdebatan: apakah aman atau tidak bagi ponsel. Kekhawatiran yang paling sering terjadi ialah ponsel meledak.
Namun, sejumlah riset berkeyakinan kuat bahwa mengecas ponsel semalaman tidak akan merusak baterai ponsel. “Setelah baterai lithium-ion internal mencapai kapasitas 100 persen, pengisian daya akan berhenti,” tulis PC Mag. Hanya saja, jika memang meningalkan ponsel dicas semalaman, lebih baik memakai steker pintar sehingga bisa disetel waktu matinya.
Di sisi lain, hampir 100 persen (atau, sekitar 97 persen) responden menginginkan kecepatan dalam pengisian daya. Mereka tertarik pada ponsel yang diisi baterainya dalam waktu kurang dari 20 menit.
Selanjutnya, mayoritas responden (93 persen) cenderung lebih suka mengisi ulang daya baterai di rumah. Ketika ditanya apakah ngecas ponsel di mobil/angkutan, jawabannya tak sampai separuh, hanya 45 persen melakukannya. Begitu pula hanya 32 persen responden yang melakukan aktivitas ngecas di kantor, 15 persen saat aktivitas luar (outdoor), 14 persen di sekolah, dan 8 persen selama penerbangan.
Apakah memilih pakai kabel atau nirkabel?
Survei yang dilakukan untuk perusahaan ponsel OnePlus itu menunjukkan bahwa konsumen memilih ngecas pakai kabel (88 persen). Sementara, hanya 28 persen memilih cas nirkabel dan 19 persen menggunakan power bank. Dan, sekitar 46 persen responden juga suka mengecas menggunakan kabel charger mobil.
Sebagian besar responden (64 persen) juga membiarkan ponsel tetap terkoneksi internet saat pengisian daya baterai setidaknya selama 40 menit.
Dalam survei yang dilakukan antara 13-20 September 2022 itu, NPD Group juga menanyakan tentang kabel charger. “Sekitar 75 persen responden mengatakan kepala charger dan kabel harus disertakan dalam kotak pembelian ponsel,” tulis survei yang menargetkan responden dengan ponsel seharga US$600 (sekitar Rp9 juta) atau lebih dan telah menggunakan selama setahun terakhir.
Saat ini iPhone, misalnya, tak lagi menyertakan kepala charger dalam penjualan unitnya. Kepala charger dijual terpisah dengan harga yang cukup mahal.[]
Share: