IND | ENG
Gelisah Ketinggalan Tren Medsos, Jangan-jangan Anda Terkena FOMO

Ilustrasi. Edwina White/Boston Magazine

Gelisah Ketinggalan Tren Medsos, Jangan-jangan Anda Terkena FOMO
Andi Nugroho Diposting : Jumat, 21 Oktober 2022 - 09:47 WIB

Cyberthreat.id – Pernah dengar akronim FOMO atau fear of missing out”?

Di era media sosial, informasi datang begitu deras, hampir-hampir tiap orang kini tak lepas dari ponsel pintarnya. Kabar pembunuhan di pojok Amerika, kemiskinan di Afrika, atau kerusuhan suporter di Malang, semua mengalir di ponsel kita. Semuanya itu mudah kita akses, tanpa ketinggalan informasinya.

Pengguna ponsel pintar kini seperti tak pernah ketinggalan informasi. Selalu mengikuti tren. Kehilangan waktu dari perbincangan di medsos, terkadang membuat kita cemas karena ketinggalan informasi. Inilah psikologis yang kini sedang dihadapi pengguna ponsel pintar: “takut kehilangan” alias FOMO.

FOMO menjadi konotasi “sangat remaja atau kekanak-kanakkan”. Layaknya generasi milenial yang sedang haus-hausnya tren, tak mau ketinggalan yang sedang booming.

Namun, istilah itu juga sebetulnya bisa menggambarkan ketakutan akan kehilangan peluang, bisa soal pekerjaan, kekasih, gelar, atau hal lainnya. Jadi, istilah ini tidak melekan pada anak muda.

Dosen Komunikasi Politeknik Negeri Samarinda Almasari Aksenta berpandangan bahwa anak-anak muda saat ini perlu mengurangi akses ke medsos untuk mencegah FOMO. Menurut dia, gejala FOMO lebih menyasar pada generasi Z, mereka yang lahir antara 1995 hingga 2012.

“Gejala FOMO ini salah satu wujud dari kecemasan yang ditandai dengan adanya keinginan untuk selalu mengetahui apa yang orang lain lakukan, terutama di media sosial,” ujarnya, dikutip dari Antaranews.com, Jumat (21 Oktober 2022).

Gejala-gejala yang terlihat seperti sulit lepas dari ketergantungan dengan media sosial, selalu mengikuti tren, memaksa diri beli barang tertentu agar tidak dianggap ketinggalan zaman, dan ingin mendapatkan pengakuan sosial, terutama di medsos.

FOMO menjadi pembahasan di era sebelum medsos meledak ketika Patrick McGinnis, mahasiswa Harvard Business School pada 2004, menulis makalah di The Harbus. Selain mengenalkan istilah FOMO, ia juga menyebutkan akronim FOBO atau fear of better option.

FOBO lebih pada takut menentukan pilihan yang lebih baik. Seseorang yang dihinggapi FOBO cenderung tidak mantap atau yakin dengan rencananya. Ketakutan kalau-kalau peluang yang dipilih itu justru ada di waktu terakhir, tulis How To Geek.

Makanya, Patrick mengatakan, ketika seseorang dirayapi FOMO dan FOBO ujung-ujungnya ialah jalan buntu alias FODA atau fear of doing anything, takut melakukan apa pun.

Namun, Ben Schreckinger, penulis untuk Boston Magazine pada 2014 berpendapat bahwa FOMO telah muncul di tahun 2000. Kala itu ahli strategi pemasaran Dan Herman mengenalkan istilah itu sebagai “penyakit dari momen budaya”.

Ben juga mengakui bahwa istilah itu baru menemukan momentumnya bertahun-tahun kemudian; atau di masa dot com alias internet begitu mewabah.

Riset Universitas Oxford, tulis Ben, menyebutkan bahwa FOMO berkorelasi dengan “ketidakpuasan umum” dan secara “tidak proporsional mempengaruhi kaum muda”.

Ben sempat mengontak Patrick. Dan, Patrick terkejut ketika Ben mengatakan, barangkali istilah itu muncul dari dirinya. Patrick mengatakan hanya menangkap epidemi di sekitarnya. Ia menulis itu saat mendapatkan gelar MBA.

Bagaimana mengurangi FOMO?

Almasari punya solusi yang menohok: hapus aplikasi tidak penting dari ponsel.

“Matikan ponsel saat beraktivitas dan jauhkan dari tempat pribadi. Perlu ada pembatasan secara disiplin dan tepat waktu,” katanya.

“Bila perlu gunakan alarm sebagai pengingat. Sembua dibutuhkan kesadaran diri yang diserta komitmen tinggi,” ia menambahkan.

Sementara itu, dibandingkan dengan FOMO, Patrick justru mengkhawatirkan tentang FOBO. Menurut dia, rasa takut akan memudar seiring waktu, sayangnya “tidak ada obat untuk FOBO”.

“Ketakutan bahwa pilihan yang lebih baik ada di luar sana, di suatu tempat, tidak pernah surut. Anda mungkin dapat mengatasi kehilangan banyak hal, tetapi bergulat dengan gagasan bahwa ada sesuatu yang lebih unggul di alam semesta  jauh lebih sulit untuk diatasi,” jelasnya.[]

#FOMO   #FOBO   #mediasosial   #tren

Share:




BACA JUGA
Dicecar Parlemen Soal Perlindungan Anak, Mark Facebook Minta Maaf
Meta Digugat, Dinilai Tak Mampu Lindungi Anak dari Predator Seksual
Mengenal Tiga Jenis Doppelganger Pemangsa Reputasi Perusahaan
Melanggar Data Anak-anak, TikTok Didenda Rp5,6 Triliun
Modus Penipuan Berkedok Freelance. Disuruh 'Like' & 'Subscribe' Video YouTube