
Tangkapan layar peta kabel serat optik bawah laut JAKABARE milik Indosat Ooredoo. | Foto: Cyberthreat.id/Andi Nugroho
Tangkapan layar peta kabel serat optik bawah laut JAKABARE milik Indosat Ooredoo. | Foto: Cyberthreat.id/Andi Nugroho
Cyberthreat.id – First Media, penyedia layanan internet rumah, mengatakan, telah memulihkan jaringannya setelah pada Senin (5 April 2021) mengalami gangguan lantaran kabel serat optik bawah laut JAKABARE (Jakarta-Kalimantan-Batam-Singapura) terputus.
"Hi First People, untuk informasi layanan internet khususnya ke akses situs luar negeri sudah kembali normal. Terima kasih." tulis First Media, dikutip dari Twitter-nya (@FirstMediaCares) pada Selasa, (6 April) pagi.
Kemarin, First Media menjadi trending topic di Twitter karena koneksi internetnya terganggu. (Baca: First Media Trending di Twitter karena Koneksi Internetnya Lemot, Netizen: Seperti Bekicot Madu).
Pada Senin siang, di akun Twitter-nya, First Media mengakui adanya gangguan sistem komunikasi pada kabel serat optik bawah laut B2JS dan kabel JAKABARE yang digunakan induknya PT Link Net serta provider layanan internet lainnya.
First Media mengatakan, putusnya kabel serat optik itu menyebabkan kecepatan internet dari penyedia layanan interent yang menggunakan jaringan tersebut menurun, khususnya untuk akses situs web yang di-hosting di luar negeri.
First Media menyatakan tengah mengupayakan pemulihan layanan untuk seluruh pelanggannya maksimal pukul 12.00 pada hari ini.
Dilansir dari submarinecablemap.com, Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) JAKABARE yang dimiliki Indosat Oooredoo tersebut sepanjang 1.330 kilometer (km).
Diduga akibat tanah ambles
Indosat, perusahaan telekomunikasi terkemuka Indonesia, mengonfirmasi bahwa SKKL JAKABARE putus tepatnya pada Senin (5 April) pukul 9.37 WIB di area daratan Changi, Singapura.
"Karena adanya tanah yang ambles di area daratan Singapura," kata Steve Saerang, SVP-Head of Corporate Communications kepada Cyberthreat.id, Selasa (6 April 2021).
Indosat mengaku putusnya SKKL JAKABARE secara umum tidak berdampak pada layanan internetnya. Hal ini karena perusahaan menerapkan sistem redudancy untuk semua trafik utama internasional sehingga tidak ada dampak langsung terhadap pelanggan seluler.
Dihubungi terpisah Selasa, Sekjen Asosiasi Sistem Komunikasi Kabel Laut Seluruh Indonesia (ASKALSI), Resi Y. Bramani, mengatakan, telah menerima laporan resmi dari PT LinkNet terkait kejadian putusnya kabel tersebut.
Menurut dia, hanya LinkNet (First Media) dan Indosat yang memakai kabel itu. "Untuk akuratnya bisa ditanyakan ke Indosat," kata Resi kepada Cyberthreat.id.
Senada dengan Indosat, Resi mendapatkan kabar bahwa dugaan putusnya kabel bukan terjadi di laut, tapi di daratan, yaitu di Tanah Merah, Singapura.
"Info yang kami terima putusnya tadi di inland di Tanah Merah, Singapura, bukan di laut. Akibat longsor. Jadi, harusnya proses perbaikannya cepat dan tidak serumit apabila di laut," tuturnya.
Bila terjadi insiden seperti itu, menurut Resi, perusahaan penyedia internet bisa saling menggunakan kabel cadangan yang tersedia.
Sebelumnya, pada Februari 2021, SKKL B2JS milik Triasmitra yang memiliki kapasitas 380Gbps itu juga pernah terputus sehingga mengakibatkan gangguan pada traffic internasional. Kabel yang putus itu berada di segmen Ancol-Bangka.[] (Baca: Kabel Serat Optik Jakarta-Singapura Terputus, Trafik Internasional Terganggu)
Redaktur: Andi Nugroho
Share: