
Telegram | Foto: ivacy.com
Telegram | Foto: ivacy.com
Cyberthreat.id – Pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, mengungkapkan, bahwa sejumlah presiden di beberapa negara memutuskan untuk menggunakan aplikasi pesan daringnya, Telegram.
Durov mengatakan, awal Januari ini terjadi migrasi digital terbesar dengan masuknya pengguna baru ke Telegram setelah Whatsapp, aplikasi pesan daring dengan pasar terbesar (2 miliar pengguna di seluruh dunia) mengumumkan kebijakan privasi barunya yang kontroversial.
"Kita mungkin menyaksikan migrasi digital terbesar dalam sejarah manusia," ujar Durov melalui saluran pribadinya di Telegram, Kamis (14 Januari 2021).
Durov merasa sangat terhormat karena sejumlah kepala negara dan banyak organisasi publik yang saat ini menggunakan Telegram.
Durov mengklaim, Telegram berbeda dengan aplikasi pesan instan lain karena menggunakan algoritma non-transparan.
Dengan menghapus algoritma manipulatif yang identik dengan platform pesan instan lainnya, saluran Telegram diyakini dapat memulihkan transparansi dan integritas komunikasi.
Untuk akun-akun yang digunakan oleh kepala negara akan terverifikasi yang dilengkapi dengan tanda centang biru di daftar obrolan dan hasil pencarian pengguna.
Berikut 10 kepala negara yang beralih menggunakan Telegram;
Sebelumnya, Durov menyampaikan selama pekan pertama Januari, jumlah pengguna Telegram mencapai lebih dari 500 juta pengguna. Lonjakan pengguna baru ini datang dari Asia (38 persen), Eropa (27 persen), Amerika Latin (21 persen), dan Timur Tengah-Afrika Utara (8 persen).
"Ini merupakan peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun lalu, ketika 1,5 juta pengguna baru mendaftar setiap hari. Kami pernah mengalami lonjakan unduhan sebelumnya, sepanjang sejarah 7 tahun kami dalam melindungi privasi pengguna, tapi kali ini berbeda," ujar dia.[]
Redaktur: Andi Nugroho
Share: