IND | ENG
Ini 10 Kepala Negara yang Memilih Pakai Telegram

Telegram | Foto: ivacy.com

Ini 10 Kepala Negara yang Memilih Pakai Telegram
Oktarina Paramitha Sandy Diposting : Jumat, 15 Januari 2021 - 16:18 WIB

Cyberthreat.id – Pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, mengungkapkan, bahwa sejumlah presiden di beberapa negara memutuskan untuk menggunakan aplikasi pesan daringnya, Telegram.

Durov mengatakan, awal Januari ini terjadi migrasi digital terbesar dengan masuknya pengguna baru ke Telegram setelah Whatsapp, aplikasi pesan daring dengan pasar terbesar (2 miliar pengguna di seluruh dunia) mengumumkan kebijakan privasi barunya yang kontroversial.

"Kita mungkin menyaksikan migrasi digital terbesar dalam sejarah manusia," ujar Durov melalui saluran pribadinya di Telegram, Kamis (14 Januari 2021).

Durov merasa sangat terhormat karena sejumlah kepala negara dan banyak organisasi publik yang saat ini menggunakan Telegram.

Durov mengklaim, Telegram berbeda dengan aplikasi pesan instan lain karena menggunakan algoritma non-transparan.

Dengan menghapus algoritma manipulatif yang identik dengan platform pesan instan lainnya, saluran Telegram diyakini dapat memulihkan transparansi dan integritas komunikasi.

Untuk akun-akun yang digunakan oleh kepala negara akan terverifikasi yang dilengkapi dengan tanda centang biru di daftar obrolan dan hasil pencarian pengguna.

Berikut 10 kepala negara yang beralih menggunakan Telegram;

  1. Presiden Brasil (@jairbolsonarobrasil)
  2. Presiden Turki (@RTErdogan)
  3. Presiden Meksiko (@PresidenteAMLO)
  4. Presiden Prancis (@emmanuelmacron)
  5. Perdana Menteri Singapura (@leehsienloong)
  6. Presiden Ukraina (@V_Zelenskiy_official)
  7. Presiden Uzbekistan (@shmirziyoyev)
  8. Presiden Taiwan (@iingtw)
  9. Perdana Menteri Ethiopia (@AbiyAhmedAliofficial)
  10. Perdana Menteri Israel (@bnetanyahu)

Sebelumnya, Durov menyampaikan selama pekan pertama Januari, jumlah pengguna Telegram mencapai lebih dari 500 juta pengguna. Lonjakan pengguna baru ini datang dari Asia (38 persen), Eropa (27 persen), Amerika Latin (21 persen), dan Timur Tengah-Afrika Utara (8 persen).

"Ini merupakan peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun lalu, ketika 1,5 juta pengguna baru mendaftar setiap hari. Kami pernah mengalami lonjakan unduhan sebelumnya, sepanjang sejarah 7 tahun kami dalam melindungi privasi pengguna, tapi kali ini berbeda," ujar dia.[]

Redaktur: Andi Nugroho

#telegram   #whatsapp   #enkripsiend-to-end   #perlindungandatapribadi   #mediasosial

Share:




BACA JUGA
Dicecar Parlemen Soal Perlindungan Anak, Mark Facebook Minta Maaf
Meta Digugat, Dinilai Tak Mampu Lindungi Anak dari Predator Seksual
Meta Luncurkan Enkripsi End-to-End Default untuk Chats dan Calls di Messenger
Lindungi Percakapan Sensitif, WhatsApp Luncurkan Fitur Secret Code
Gunakan Bot Telekopye Telegram, Penjahat Siber Membuat Phishing Scams Skala Besar