IND | ENG
Alami Ledakan Pengguna 1 Juta Sehari, Signal Tambah Server

Tangkapan layar aplikasi Signal dari Google Play Store. | Foto: Cyberthreat.id/Andi Nugroho

Alami Ledakan Pengguna 1 Juta Sehari, Signal Tambah Server
Andi Nugroho Diposting : Rabu, 13 Januari 2021 - 10:20 WIB

Cyberthreat.id – Jumlah pengguna baru yang menginstal aplikasi pesan daring Signal setiap hari melampaui 1 juta, demikia menurut data firma riset Apptopia Inc asal Amerika Serikat.

Kenaikan tersebut menyusul WhatsApp, pesaing utamanya yang memiliki pelanggan 2 miliar, pada pekan lalu mengumumkan kebijakan privasi baru. Perusahaan akan membagikan data penggunanya (lokasi, nomor telepon dll) kepada Facebook Inc sebagai induk perusahaan dan grup perusahaan lainnya mulai 8 Februari 2021.

Tak ada pilihan pengguna untuk menolak kebijakan privasi tersebut; yang ada hanya setuju atau hapus akun yang artinya pengguna tak bisa menggunakan WhatsApp untuk seterusnya.

Para pendukung privasi mempertanyakan langkah tersebut mengingat rekam jejak Facebook dalam menangani data pengguna, tulis Reuters, diakses Rabu (13 Januari 2021). Kalangan pendukung privasi pun menyarankan untuk bermigrasi ke platform seperti Telegram dan Signal.

Untuk mengatasi jumlah pengguna baru, Signal mengatakan pada Minggu (10 Januari), bahwa pihaknya telah menambah lebih banyak server untuk menangani lalu lintas komunikasi.

Hingga saat ini, aplikasi nonprofit tersebut dipakai oleh sebagian besar oleh jurnalis dan aktivis hak asasi manusia yang mencari mode komunikasi yang lebih aman dan terenkripsi.

Brian Acton, CEO Signal yang juga bekas pendiri WhatsApp, merespon “ledakan” pengguna platformnya dalam pekan terakhir.

"Peristiwa kecil membantu memicu hasil terbesar," kata Acton dalam video call kepada TechCrunch.

Peristiwa yang dimaksud Acton adalah perubahan terbaru dalam kebijakan berbagi data yang diungkapkan oleh WhatsApp.

“Kami juga senang dapat melakukan percakapan tentang privasi online dan keamanan digital dan orang-orang beralih ke Signal sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.”

“Ini kesempatan besar bagi Signal untuk bersinar dan memberi orang alternatif. Ini seperti pembakaran yang lambat selama tiga tahun dan kemudian menjadi ledakan besar. Sekarang roketnya meluncur,” katanya.

Acton mengatakan WhatsApp bergulat dengan menggabungkan fitur-fitur monetisasi sambil tetap melindungi privasi orang. Menurut dia, kebijakan barunya yang "rumit" itu telah memaksa WhatsApp dan media massa untuk mencari penjelasan—semua orang pun bingung.

Acton tidak mengungkapkan berapa banyak pengguna yang telah dikumpulkan Signal dalam beberapa pekan terakhir, tetapi dia mengatakan aplikasi tersebut saat ini berada di peringkat teratas di App Store di 40 negara dan di Google Play Store di 18 negara.

Menurut firma riset seluler App Annie, Signal memiliki sekitar 20 juta pengguna aktif bulanan secara global pada akhir Desember 2020. Sementara, menurut Sensor Tower, firma riset dan analisis aplikasi, Signal itu diunduh lebih dari 7,5 juta kali antara 6-10 Januari lalu.

Sejak diluncurkan pada 2018, Signal telah berjanji tidak akan menjual data penggunanya dan tidak akan menampilkan iklan kepada penggunanya. Pada tahun itu, Acton menginvestasikan US$ 50 juta di Signal Foundation.

Tapi, bagaimana rencana aplikasi tetap bertahan di masa depan?

Signal saat ini juga mengandalkan donasi untuk membiayai bisnis, “Dan lebih banyak pengguna berarti lebih banyak donor,” katanya.

“Jika Signal menjangkau satu miliar pengguna, itu berarti satu miliar donor. Yang harus kami lakukan adalah membuat Anda sangat bersemangat tentang Signal sehingga Anda ingin memberi kami satu dolar atau 50 rupee.”

“Idenya adalah kami ingin mendapatkan donasi itu. Satu-satunya cara untuk mendapatkan donasi itu adalah dengan membangun produk yang inovatif dan menyenangkan. Itu hubungan yang lebih baik menurut saya," katanya.

Acton mengatakan model tersebut sejauh ini cukup berhasil untuk bisnis dengan staf di bawah 50 orang.

Signal Foundation sebelumnya juga mengatakan bahwa messenger adalah produk pertamanya dan bermaksud untuk memperluas ke lebih banyak kategori. Tapi, Acton mengatakan fokus saat ini tetap pada aplikasi pesan daring.[]

#telegram   #whatsapp   #enkripsiend-to-end   #mediasosial   #signal   #keamanandanprivasi

Share:




BACA JUGA
Dicecar Parlemen Soal Perlindungan Anak, Mark Facebook Minta Maaf
Meta Digugat, Dinilai Tak Mampu Lindungi Anak dari Predator Seksual
Meta Luncurkan Enkripsi End-to-End Default untuk Chats dan Calls di Messenger
Lindungi Percakapan Sensitif, WhatsApp Luncurkan Fitur Secret Code
Gunakan Bot Telekopye Telegram, Penjahat Siber Membuat Phishing Scams Skala Besar