IND | ENG
Sriwijaya Air Jatuh: Memahami Bagaimana FlightRadar24 Melacak dan Sajikan Data Penerbangan

Data pesawat yang lalu lalang di langit yang dikumpulkan oleh Flightradar24

Sriwijaya Air Jatuh: Memahami Bagaimana FlightRadar24 Melacak dan Sajikan Data Penerbangan
Yuswardi A. Suud Diposting : Sabtu, 09 Januari 2021 - 21:34 WIB

Cyberthreat.id - Kabar duka kembali menyelimuti dunia penerbangan Indonesia. Kali ini, pesawat Sriwijaya Air dengan kode penerbangan SJ182 rute Jakarta - Pontianak dilaporkan jatuh di sekitar perairan Pulau Laki, Kepulauan Seribu, Jakarta, pada Sabtu sore (9 Januari 2021).

Adalah situs pelacak pesawat flightradar24.com yang awalnya menyajikan data kepada publik bahwa pesawat tersebut kehilangan kontak. Dalam catatan flightradar24, pesawat itu terakhir terdeteksi 4 menit setelah berangkat dari Bandara Soekarno - Hatta pukul 14.32 WIB. Disebutkan, pesawat sempat terbang dengan ketinggian melebihi 10 ribu kaki, lalu dalam semenit kemudian terjun bebas hingga hilang kontak pada ketinggian 250 kaki.

Dalam catatan Flighradar24, pesawat yang kemudian dipastikan jatuh di sekitar Pulau Laki, Kepulauan Seribu itu adalah jenis Boeing 737-500 klasik yang teregister dengan nomor PK-CLC (MSN 27323). Pesawat itu pertama kali beroperasi pada bulan Mei 1994 alias sudah berusia 26 tahun.


Data penerbangan pesawat Sriwijaya Air yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Sabtu, 9 Januari 2021 | Flightradar24

Lantas, bagaimana Flightradar24 mendapatkan data lalu lintas pesawat secara langsung berdasarkan waktu aslinya?   

FlightRadar24 bisa menyajikan data real-time lalu lintas pergerakann pesawat di langit lantaran menggabungkan dan menganalisis sejumlah data penerbangan yang berasal dari teknologi Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADB-S), teknik Multilateration, FLARM, serta Radar Data Amerika Utara.

Dilansir dari Kaspersky.com, teknologi ADB-S yang digunakan oleh sebagian besar pesawat modern memungkinkan Flightradar24 menerima data penerbangan langsung dari pesawat. Yang perlu dilakukan adalah menyiapkan alat penangkap sinyal di darat.

ADS-B adalah sistem yang relatif kompleks dan canggih yang memungkinkan pilot mendapatkan informasi cuaca dan medan terkini, atau informasi lainnya.

Ketika pesawat terbang secara teratur (kira-kira sekali dalam satu detik) mengirimkan data lokasi GPS ((lintang, bujur, ketinggian) serta kecepatan (termasuk kecepatan vertikal), 'alamat' unik pesawat dan nomor penerbangan melalui saluran 1090 MHz .

Data yang ditransmisikan oleh pesawat juga mencakup apa yang disebut 'squawk', atau kode responder, yang, kadang-kadang, mungkin berfungsi untuk menyampaikan informasi berkode (dalam keadaan darurat, nilainya ditetapkan ke 7700, jika terjadi pembajakan ke 7500 ). Jadi, situasi di luar kewajaran juga dapat dilacak dengan sempurna.

Semua data ini, kelihatannya aneh, dikirim melalui saluran yang tidak terenkripsi dan dapat diakses oleh siapa saja. Yang dibutuhkan hanyalah keterampilan dasar penggemar radio untuk mendapatkan antena jangkauan 1090 MHz dan merakit penerima gelombang radio sederhana. Sinyal ADS-B dapat diterima sejauh 150 mil dari posisi pesawat.

Hingga tahun 2018, Flightradar24 memiliki jaringan penangkap sinyal ADS-B lebih dari 17.000 unit di seluruh dunia. Data itu kemudian dikirim ke server Flightradar24 dalam waktu nyata. Dari server, data itu disajikan ke khalayak umum lewat situs web dan aplikasinya.


Salah satu alat penerima sinyal ADB-S milik Flighradar24 untuk menangkap sinyal ADS-B dari pesawat, lalu meneruskannya ke server Flightradar24. | Sumber: thepointsguy.com 

Untuk melengkapi datanya, misalnya pada pesawat yang tak dilengkapi ADS-B, Flightradar24 menggunakan metode Multilateration (MLAT). Sayangnya MLAT hanya dapat mendeteksi penerbangan di atas 3.000 - 10 ribu kaki.

Dari berbagai sumber data itulah Flightradar24 membuat penghuni planet ini dapat melacak posisi pesawat terbang yang sedang menembus langit atau yang baru saja mendarat.

Selebihnya adalah memilih antarmuka untuk menyajikan data-data itu dalam format yang lebih enak dilihat dengan menambahkan parameter pencarian.

Antarmuka web lebih fleksibel: menawarkan kemampuan pencarian lanjutan berdasarkan beberapa parameter: nomor penerbangan (IATA atau ICAO), nomor registrasi pesawat, kode 'squawk', nama maskapai penerbangan, atau model pesawat.

Saat menelusuri berdasarkan nomor penerbangan, pengguna dapat melihat posisi pesawat secara real time, dan untuk penerbangan yang sudah selesai - statistik mendetail, termasuk parameter penerbangan di titik mana pun dalam rute.


Tampilan situs web flightradar24.com dengan data penerbangan real-time

Terkadang, dalam kondisi tertentu, ada masanya pesawat terbang berada di luar jangkauan sinyal. Dalam kondisi seperti itu, Flightradar24 masih bisa memperkirakan posisi pesawat selama dua jam apabila tujuan perjalanannya diketahui. Sementara jika tujuan pesawat tidak diketahui, keberadaan pesawat hanya bisa diprediksi selama 10 menit terhitung sejak hilang kontak.

Dalam kasus hilangnya pesawat Sriwijaya Air sore tadi, Flightradar24 masih bisa menangkap sinyal dari pesawat sejak pesawat masih di ketinggian 10 ribu kaki hingga berkurang drastis ke ketinggian 250 kaki dalam semenit. Data itu mengindikasikan pesawat terjun ke bawah, tidak meledak di atas.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam konferensi persnya pukul 19.15 WIB membenarkan pesawat jatuh di sekitar perairan Pulau Laki, Kepulauan Seribu, Jakarta. Disebutkan, pesawat itu mengangkut 62 orang, terdiri dari 12 kru dan 50 penumpang (40 dewasa, 7 anak-anak dan 3 bayi).

Indonesia pun kembali berduka.[] 

#flightradar24   #situspelacakpenerbangan   #pelacakpesawat   #sriwijayaair

Share:




BACA JUGA
Hilang Kontak, Situs Flightradar24 Sebut Sriwijaya Air Jakarta - Pontianak Kehilangan Ketinggian 10 Ribu Kaki dalam 1 Menit
Sriwijaya Air - Polda Metro MoU Information and Data Sharing
Sriwijaya Air Kembangkan AI Bernama SRIVA