IND | ENG
Unilever akan Akhiri Boikot Beriklan di Facebook dan Twitter

Ilustrasi via medium.com

Unilever akan Akhiri Boikot Beriklan di Facebook dan Twitter
Yuswardi A. Suud Diposting : Jumat, 18 Desember 2020 - 15:45 WIB

Cyberthreat.id - Setelah sempat bergabung dalam gerakan boikot beriklan di media sosial sejak Juni lalu, Unilever mengumumkan akan melanjutkan beriklan di Facebook dan Twitter di Amerika Serikat.

Dilansir dari Reuters, Unilever mengatakan pada Kamis (17 Desember 2020)  bahwa perusahaan berencana mengakhiri jeda beriklan bulan depan dan akan terus memantau platform tersebut dalam periode pascapemilu AS.

Unilever awal tahun ini bergabung dengan boikot iklan terhadap Facebook sebagai bagian dari kampanye "Hentikan Kebencian untuk Keuntungan" yang dimulai oleh kelompok hak sipil AS setelah kematian George Floyd, seorang pria kulit hitam di Minneapolis yang meninggal saat berada dalam tahanan polisi pada 25 Mei.

Upaya tersebut meminta Facebook, yang juga pemilik Instagram untuk berbuat lebih banyak untuk menghentikan ujaran kebencian.

“Kami akan menilai secara dekat hasil dari platform terhadap jadwal dan komitmen mereka, serta polarisasi dalam lingkungan umpan berita media sosial pasca pemilu seiring berjalannya tahun,” kata Unilever.

Facebook menyambut baik langkah Unilever.

“Kami menantikan kemitraan berkelanjutan pada tahun 2021 dan tetap berkomitmen pada pekerjaan kami dengan Reliance Global untuk Media yang Bertanggung Jawab untuk memerangi konten berbahaya secara online,” kata Carolyn Everson, wakil presiden grup bisnis global di Facebook, dalam pernyataan yang dikirim melalui email.

Belum ada pernyataan dari Twitter soal ini.[]

#facebook   #stophateforprofit   #ujarankebencian   #unilever

Share:




BACA JUGA
Meta Luncurkan Enkripsi End-to-End Default untuk Chats dan Calls di Messenger
Malware NodeStealer Pasang Umpan Wanita Seksi untuk Bajak Akun Bisnis Facebook
Perlindungan Data Pribadi, Meta Luncurkan Facebook dan Instagram Bebas Iklan di Eropa
Cacat OAuth Kritis Terungkap di Platform Grammarly, Vidio, dan Bukalapak
Penipuan Hak Cipta Facebook Makin Intensif, Pengguna Terlantar