
Ilustrasi. Smartwatch adalah salah satu produk IoT yang menggunakan data pribadi dalam layanannya. | Foto: watchcookie.com
Ilustrasi. Smartwatch adalah salah satu produk IoT yang menggunakan data pribadi dalam layanannya. | Foto: watchcookie.com
Cyberthreat.id – Direktur Proteksi Ekonomi Digital Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Anton Setiawan, mengatakan, para produsen teknologi Internet of Things (IoT) bisa mempelajari indeks keamanan informasi untuk membuat yakin konsumennya dalam pemanfaatan teknologi IoT.
Anton menjelaskan bahwa ketika bersentuhan dengan teknologi IoT memang tidak bisa dimungkiri ada data pribadi yang terkait; terjadi adanya collecting dan controlling data.
Data-data yang dihimpun di dalam IoT ini, menurut Anton, diperlukan oleh teknologi IoT ini untuk meningkatkan layanan. Contoh, smartwatch.
“Kalau saya duduk dua jam dia langsung akan bunyi, supaya saya berdiri, saya jalan. Kan ini bagian dari meningkatkan hidup saya, tapi kan ini semua menyimpan data saya,” kata Anton dalam acara talkshow daring BSSN-Huawei Cyber Scout Hunt bertajuk “Cybersecurity for IoT”, Kamis (1 Oktober 2020).
Untuk itu, produsen IoT bisa memastikan data-data itu terjaga dengan baik atau perlindungan data pribadi milik konsumen yang akan dihimpun dengan mengikuti standar yang sudah diterapkan dalam perlindungan data pribadi yaitu standar keamanan informasi.
“Indeks keamanan informasi versi BSSN sudah disempurnakan, ada suplemen untuk unsur perlindungan data pribadi. Jadi, bagaimana kita mengelola data itu dari mulai diambil, diolah, dianalisis, disajikan, sampai terminasi sampai data itu harus dibuang, dihapus, itu ada di situ,” ujar dia.
Jadi, kata Anton, produsen tinggal ikuti saja standarnya dan standar itu disampaikan ke konsumen.
“Ada tanggung jawab kepada konsumen juga karena password-nya bukan di platform, password-nya di pengguna, mereka harus hati-hati juga,” kata dia.[]
Redaktur: Andi Nugroho
Share: