IND | ENG
Disebut sebagai ‘The Next Big Thing’, Perangkat IoT Rentan Ancaman Siber

Sekretaris Utama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Syahrul Mubarak. | Foto: Tangkapan layar Cyberthreat.id/Tenri Gobel

DISKUSI BSSN-HUAWEI: CYBERSECURITY FOR IoT
Disebut sebagai ‘The Next Big Thing’, Perangkat IoT Rentan Ancaman Siber
Tenri Gobel Diposting : Kamis, 01 Oktober 2020 - 13:35 WIB

Cyberthreat.id – Sekretaris Utama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Syahrul Mubarak, mengatakan, di era serbadigital sekarang perangkat-perangkat terkoneksi internet (Internet of Things/IoT) menjadi industri yang sangat menguntungkan. Jumlah perangkat IoT aktif tiap tahun bertambah banyak.

Menurut data yang dimilikinya, di pengujung 2020 jumlah perangkat IoT yang aktif di dunia diprediksi mencapai 31 miliar dan pada 2021 mencapai 35 miliar. Sayangnya, Syharul tak memberitahu angka-angka tersebut diambil dari hasil survei oleh lembaga mana, hanya disebutkan badan survei dari Amerika Serikat.

Sementara itu, di pasar lokal, “Menurut menteri perindustrian, pangsa pasar IoT di Indonesia diperkirakan terus berkembang pesat dan mencapai nilai Rp 444 triliun pada 2022 mengingat sekarang ini rata-rata orang Indonesia memiliki dua ponsel dan penetrasi internet mencapai 175,4 juta orang atau sekitar 64 persen total penduduk di Indonesia dengan pengguna sosial media sebanyak 160 juta orang,” kata Syharul di acara bincang daring BSSN-Huawei Cyber Scout Hunt bertajuk “Cybersecurity for IoT”, Kamis (1 Oktober 2020).

Namun, kata Syahrul, di balik data capaian dan prediksi perkembangan dan implementasi itu, teknologi IoT juga menyimpan kelemahan. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut apa saja kelemahannya dari teknologi IoT ini.


Baca:


“Walaupun terus disempurnakan sebagai piranti yang terhubung melalui ruang siber tentu teknologi IoT juga memiliki kelemahan dan kerentanan. Apalagi memang ada orang tidak bertanggung jawab yang sengaja mencari keuntungan atas hal tersebut,” ujar dia.

Syahrul menyampaikan, banyak pihak memprediksi teknologi IoT merupakan “the next big thing” di dunia teknologi informasi  karena perangkat ini membantu atau mempermudah manusia melakukan berbagai hal.

Saat ini teknologi IoT diimplementasikan berbagai industri, salah satunya, di industri kesehatan dan transportasi.

“Juga, banyak diaplikasikan di bidang smart agriculture, smart cities, hingga militer yang mampu mengontrol operasional robot mata-mata dan alat perang,” kata dia.

Syahrul menjelaskan terminologi IoT itu pertama kali diperkenalkan oleh Kevin Ashton pada 1999. Namun, jauh sebelum itu pada 1989 telah muncul konsep awal pemanfaatan otomasi alat keseharian dengan menghubungkannya dalam jaringan sehingga bisa bekerja secara otomatis.

Kala itu John Ramkey dan Simon Hackett menuangkan ide menghubungkan perangkat pemanggang roti ke internet melalui jaringan TCP/IP dan dikendalikan dengan Basis Informasi Protokol Manajemen Jaringan Sederhana sehingga mampu bekerja secara otomatis, meletakkan roti ke dalam pemanggang dan kemudian memanggangnya hingga derajat kematangan tertentu.

Berawal dari konsep otomasi sederhana itulah, kata dia, kini teknologi IoT berkembang istilahnya disebut dengan consumer IoT, yang berkembang pula menjadi komersial IoT.[]

Redaktur: Andi Nugroho

#bssn   #iot   #huawei   #cybersecurity   #keamanansiber

Share:




BACA JUGA
Seni Menjaga Identitas Non-Manusia
BSSN-Huawei Techday 2024
Keamanan Siber Membutuhkan People, Process, dan Technology.
BSSN dan Bank Riau Kepri Syariah Teken Kerja Sama Perlindungan ITE
Indonesia Dorong Terapkan Tata Kelola AI yang Adil dan Inklusif
Intelligent Sensing, Bagian Integral Pemerintahan Smart Cities