
Ilustrasi perseteruan AS dan China, terutama dengan Huawei Technologies di bidang teknologi. | Foto: Freepik.com
Ilustrasi perseteruan AS dan China, terutama dengan Huawei Technologies di bidang teknologi. | Foto: Freepik.com
Cyberthreat.id – Huawei Technologies, perusahaan perangkat keras telekomunikasi China, mengubah strategi bisnisnya agar tetap bertahan hidup di Amerika Serikat.
Ketika perangkat kerasnya, seperti teknologi 5G-nya diblokir lantaran dianggap sebagai ancaman keamanan nasional AS, perusahaan mencari celah lain di bisnis semikonduktor, yaitu chip.
Namun, AS juga mengejar Huawei di sektor itu.
Presiden Donald Trump pun telah meminta Departemen Perdagangan AS untuk menutup pasokan chip ke Huawei dari produsen-produsen semikonduktor di dunia yang menggunakan teknologi AS. (Baca: Huawei Semakin Terpojok, AS Perluas Pembatasan Akses ke Pemasok Chip)
Selain produksi perangkat 5G dan ponsel pintar, perusahaan yang berkantor pusat di Shenzhen itu juga mengkhususkan diri sebagai penyedia penyimpangan berbasis komputasi (cloud computing).
Berita Terkait:
Sektor komputasi awan inilah yang dipakai Huawei untuk mengamankan kelangsungan hidupnya di AS, menurut Financial Times, yang diakses via universalpersonality.com, Minggu (30 Agustus 2020).
Pada Januari lalu, pengembangan bisnis cloud computing-nya meningkat.
Huawei juga “diselamatkan” di pasar dalam negeri, karena pemerintah China kian mendorong dalam penggunaan cloud publik.
Di China, Huawei bersaing ketat dengan Alibaba dan Tencent Holding yang memimpin pasar China di penyimpanan komputasi untuk perusahaan.[]
Share: