IND | ENG
Dalam Tekanan AS, TikTok Bikin Pusat Informasi untuk Respons Rumor

TikTok | Foto: Unsplash

Dalam Tekanan AS, TikTok Bikin Pusat Informasi untuk Respons Rumor
Tenri Gobel Diposting : Rabu, 19 Agustus 2020 - 17:35 WIB

Cyberthreat.id – TikTok membuat pusat informasi dan akun Twitter untuk meluruskan berbagai informasi keliru dan rumor tentang platformnya secara waktu nyata (real time).

Dalam pengumuman pada Senin (17 Agustus 2020), TikTok mengatakan, pusat informasi tersebut diklaim sebagai “sumber kebenaran.

“Kami juga meluncurkan akun Twitter untuk berbagi berita perusahaan secara real time,” tulis TikTok di blog perusahaan, diakses Rabu (19 Agustus).

"Kami mengambil langkah lain untuk terus membangun kepercayaan dengan komunitas TikTok kami dengan menyampaikan fakta – dengan kata-kata kami sendiri dan dengan kata-kata para ahli terkemuka di keamanan siber, media, dan akademisi - karena kami tidak mendukung atau mendukung penyebaran informasi yang salah di platform kami, atau tentang platform kami," kata TikTok.

TikTok mengatakan, akan terus memperkuat budaya yang mengutamakan keamanan dan menjaga komunitas TikTok tetap aman menjadi prioritas.

“Kami berkomitmen untuk menumbuhkan budaya transparansi dan kami akan terus menggunakan pusat informasi baru kami sebagai saluran khusus sehingga Anda mendapatkan fakta di ujung jari Anda,” ujar TikTok.

Tampaknya langkah TikTok sebagai respons terhadap sorotan pemerintah Amerika Serikat sejak bulan lalu. TikTok disorot Trump lantaran faktor faktor privasi dan keamanan pengguna AS.

Keamanan dan privasi data TikTok dipertanyakan dan perusahaan dianggap memiliki tanggung jawab untuk berbagi intelijen kepada pemerintah China.

Kekhawatiran AS itu didasarkan pada hukum China yang disahkan pada 2017, yaitu setiap perusahaan memiliki “kewajiban untuk mendukung dan bekerja sama dalam pekerjaan intelijen nasional negara”.

TikTok membantah tudingan ini berkali-kali.

Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif kedua terkait aplikasi milik ByteDance ini.

Trump mengatakan, ByteDance diberi waktu 90 hari—merevisi perintah sebelumnya dalam 45 hari—untuk menyelesaikan kesepakatan dalam penjualan TikTok AS ke Microsoft.

Jika tidak ada kesepakatan, Trump mengancam akan memblokir TikTok AS.[]

Redaktur: Andi Nugroho

#tiktok   #amerikaserikat   #china   #microsoft   #perlindungandatapribadi   #mediasosial

Share:




BACA JUGA
Microsoft Ungkap Aktivitas Peretas Rusia Midnight Blizzard
Microsoft Merilis PyRIT - Alat Red Teaming untuk AI Generatif
Peretas China Beroperasi Tanpa Terdeteksi di Infrastruktur Kritis AS selama Setengah Dekade
Indonesia Tingkatkan Kolaborasi Pemanfaatan AI dengan China
Dicecar Parlemen Soal Perlindungan Anak, Mark Facebook Minta Maaf