IND | ENG
Facebook Diboikot Pengiklan Raksasa,  Mark Zuckerberg Buka Suara

Ilustrasi. | Foto: netimperative.com

Facebook Diboikot Pengiklan Raksasa, Mark Zuckerberg Buka Suara
Yuswardi A. Suud Diposting : Sabtu, 27 Juni 2020 - 21:12 WIB

Cyberthreat.id - CEO Facebook Mark Zuckerberg akhirnya buka suara merespon aksi boikot beriklan di platform sosial media itu yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan raksasa karena Facebook dinilai tidak berbuat banyak untuk menghilangkan ujaran kebencian di platformnya.

Dalam sebuah unggahan di Facebook pada Jumat (26 Juni 2020), Mark Zuckerberg mengatakan pihaknya akan mulai memberi batasan baru pada konten  yang mengandung kebencian dan secara eksplisit melarang iklan yang mendorong perpecahan rasial.

Secara khusus, kebijakan baru ini akan "melarang klaim bahwa orang-orang dari ras, etnis, asal kebangsaan, afiliasi agama, kasta, orientasi seksual, identitas gender atau status imigrasi tertentu merupakan ancaman terhadap keselamatan fisik, kesehatan atau kelangsungan hidup orang lain."

Kebiajakan ini juga aan membatasi iklan yang berisi penghinaan bagi imigran atau pengungsi.

"Facebook adalah singkatan dari memberikan suara kepada orang-orang, dan itu terutama berarti orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki banyak suara, atau sebanyak kekuatan untuk berbagi pengalaman mereka sendiri," kata Zuckerberg.

"Sangat penting bagi kami untuk memastikan platform kami memenuhi prinsip-prinsip ini," tambahnya.

Facebook juga akan memberi label semua postingan dan iklan tentang pemilihan yang memiliki tautan ke informasi resmi, termasuk postingan dari politisi.

"Tidak ada pengecualian untuk politisi dalam kebijakan apa pun yang saya umumkan di sini hari ini," kata CEO Facebook Mark Zuckerberg dalam postingan di laman Facebooknya.

Pernyataan Zuckerberg ini dikeluarkan setelah sebelumnya sejumlah perusahaan termasuk Unilever, Coca-Cola, operator telekomunikasi Verizon, Levi's, dan The North Face mengumumkan akan berhenti beriklan di Facebook.

Aksi boikot itu menyahuti seruan dari kelompok hak-hak sipil di Amerika yang menyerukan kampanye "Stop Hate for Profit."

Unilever, misalnya, telah mengumumkan untuk menghentikan beriklan di Facebook, Instagram, dan Twitter sampai akhir tahun ini.

Sedangkan Coca-cola mengatakan akan menghentikan sementara iklan berbayar di semua platform sosial media selama setidaknya 30 hari mulai 1 Juli mendatang.

"Tidak ada tempat untuk rasisme di dunia dan tidak ada tempat untuk rasisme di media sosial," kata CEO dan Chairman Coca-Cola, James Quincey.

Pada hari Jumat, tindakan perusahaan yang ramai-ramai mengumumkan aksi boikot beriklan itu membuat saham Facebook anjlok hingga 8 persen bursa perdagangan.

Kampanye Stop Hate for Profit (hentikan ambil untung dari kebencian) diluncurkan minggu lalu oleh kelompok-kelompok advokasi, termasuk Liga Anti-Pencecmaran Nama Baik, Asosiasi Nasional untuk Kemajuan orang Kulit Berwarna, dan Warna Perubahan (Colour of Change).

Menurut BBC, gerakan itu adalah "respons terhadap sejarah panjang Facebook yang memungkinkan konten rasis, kekerasan, dan terbukti palsu merajalela di platformnya."

Stop Hate for Profit telah meminta pengiklan untuk menekan Facebook mengambil tindakan lebih keras terhadap konten rasis dan kebencian di platformnya dengan menghentikan semua pengeluaran untuk beriklan di sana sepanjang Juli.

Sebuah laporan Komisi Eropa bulan ini menemukan Facebook menghapus 89% ujaran kebencian tahun lalu, naik dari 82,6 persen tahun sebelumnya.

Facebook mengatakan hampir semua konten yang melanggar kebijakannya secara otomatis terdeteksi oleh sistemnya dan dihapus sebelum dilaporkan.[]

Berita terkait:

 

#facebook   #verizon   #stophateforprofit

Share:




BACA JUGA
Meta Luncurkan Enkripsi End-to-End Default untuk Chats dan Calls di Messenger
Malware NodeStealer Pasang Umpan Wanita Seksi untuk Bajak Akun Bisnis Facebook
Perlindungan Data Pribadi, Meta Luncurkan Facebook dan Instagram Bebas Iklan di Eropa
Cacat OAuth Kritis Terungkap di Platform Grammarly, Vidio, dan Bukalapak
Penipuan Hak Cipta Facebook Makin Intensif, Pengguna Terlantar