
Kepala Badan Siber dan Sandi Negara, Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian. | Foto: Arsip BSSN
Kepala Badan Siber dan Sandi Negara, Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian. | Foto: Arsip BSSN
Jakarta, Cyberthreat.id – Pandemi virus corona (Covid-19) telah mengubah pola hidup masyarakat. Aktivitas masyarakat kini semakin bergantung pada internet, baik untuk bekerja, sekolah, maupun berbelanja.
Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Hinsa Siburian mengatakan, pola hidup baru tersebut—bisa disebut sebagai “normal baru” (new normal)—juga harus dibarengi dengan tingkat kesadaran keamanan siber.
Sebab, menurut Hinsa, budaya berinternet akan terus berlanjut, bahkan diprediksi semakin masif setelah pandemi.
Yang perlu diwaspadai, kata dia, serangan terhadap infrastruktur seperti data center, proses transmisi data serta proses penyimpanan data.
Oleh karenanya, sejalan dengan kebijakan Presiden Joko Widodo yang menekankan kedaulatan data juga data sebagai kekayaan tak terlihat (intangible asset), Hinsa mengatakan, "Terkait dengan penyelenggaraan data center, kebijakan BSSN adalah penerapan data center di wilayah kedaulatan Indonesia," kata dia.
Hinsa berharap di era “new normal”, Indonesia bisa mempersiapkan diri terutama dalam menghadapi tantangan dan ancaman di ruang siber.
“Era ini harus dipandang sebagai peluang agar Indonesia bisa semakin mandiri dalam pengembangan infrastruktur TI,” ujar dia.
Oleh karena itu, kata dia, keamanan harus disiapkan dan ditingkatkan mulai dari sekarang, termasuk regulasi, etika serta kesadaran para pemangku kepentingan.
"BSSN sebagai pemangku kepentingan keamanan siber Indonesia melaksanakan pengamanan dari ujung-ke-ujung (end-to-end security) mulai dari lapisan data (data security) hingga lapisan paling luar (perimeter security)," jelas Hinsa dalam siaran persnya, Selasa (19 Mei 2020).
Sebagai regulator kebijakan keamanan siber, BSSN memerlukan adanya kemitraan yang kolaboratif dari pelaku bisnis ekosistem keamanan siber, salah satunya Asosiasi Big Data dan Artificial Intelligence (ABDII) yang bermain di bidang Data Technology, Data Analytics, Data Controller, dan Data Science.
Dalam melindungi ruang siber Indonesia, BSSN memiliki sejumlah program strategis, taktis, dan teknis. BSSN kini tengah membangun dan mengoperasionalkan National Security Operation Center (NSOC) atau Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional.
BSSN juga sedang membangun dan menghadirkan Security Operation Center (SOC) sebagai langkah taktis dalam menjaga ruang siber Indonesia. Sementara, pada tataran teknis dilakukan dengan membentuk Computer Security Incident Response Team (CSIRT) pada setiap Kementrian/Lembaga, termasuk pemerintah daerah serta stakeholer terkait.
Menurut Hinsa, konsep keamanan tersebut mengadaptasi tiga kategori prinsip high level security. Kategori pertama meliputi pencegahan, deteksi dan respons.
Kemudian, kategori kedua mencakup proses, sumber daya manusia hingga teknologi. Terakhir, kategori ketiga mencakup kerahasiaan (confidentiality), keutuhan (integrity), dan ketersediaan (availability).
"Dengan begitu pengendalian keamanan siber dapat dilakukan melalui sistem dan penggunaan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK)," ujar Hinsa.
Tata kelola keamanan siber tidak mungkin hanya dijalankan dan bergantung pada BSSN semata, melainkan perlu dukungan semua stakeholder keamanan siber, Hinsa menambahkan.[]
Redaktur: Andi Nugroho
Share: