
Tangakapan layar situs Prakerja.org
Tangakapan layar situs Prakerja.org
Cyberthreat.id - Meskipun dihujani banyak kritikan, pemerintah tetap melanjutkan program Kartu Prakerja yang dinilai tidak tepat sasaran dan hanya menguntungkan platform online yang menjadi mitra pemerintah.
Kubu pengkritik beralasan, selain tidak ada mekanisme kontrol terhadap penguasaan materi oleh peserta, alokasi anggaran sebesar Rp5,6 triliun untuk jual beli video tutorial juga dianggap bentuk pemborosan anggaran di tengah pandemi Covid-19. Apalagi, sebagian video yang dijual menyangkut urusan remeh temeh dan tidak penting-penting amat. Sebut saja seperti tutorial cara memancing dan cara menginstal Windows 10 yang notabenenya banyak bertebaran gratis di Youtube.
Seperti diketahui, angka Rp5,6 triliun adalah bagian dari total anggaran sebesar Rp20 triliun untuk program Kartu Prakerja yang ditargetkan untuk 5,6 juta orang.
Para peserta yang lulus juga mendapatkan insentif uang saku sebesar Rp600 ribu per bulan selama 4 bulan sehingga totalnya menjadi Rp2,4 juta. Sebagai tempat pendaftaran, dibuatlah situs prakerja.go.id.
Namun, untuk mendapatkan uang saku ini, peserta harus membeli video tutorial terlebih dahulu yng bisa dipilih di 8 platform online yang digandeng pemerintah yaitu Tokopedia, Bukalapak, Skill Academy Ruangguru, Mau Belajar Apa, Sekolahmu, Pijar Mahir dan situs Kementerian Tenaga Kerja yang menjual video buatan swasta seperti Vokraf.
Untuk membeli video itu, pemerintah mengirimkan uang sebesar Rp1 juta kepada peserta lewat platform pembayaran digital seperti OVO, LinkAja, dan GoPay. Jika tidak dipakai untuk beli video tutorial, uang ini tidak dapat dicairkan untuk keperluan lain. Jadi, uang Rp5,6 triliun ini, tok hanya bisa dipakai untuk beli video.
Hal inilah yang menjadi keberatan banyak pihak. Pemerintah, di satu sisi selalu mengatakan kekurangan dana (seperti harus menaikkan lagi iuran BPJS meski pun sebelumnya kenaikan itu telah dibatalkan oleh Mahkahmah Agung), namun di sisi lain dianggap menghamburkan uang untuk hal yang tidak dapat diukur kualitasnya. Terlebih, ada peserta yang mengaku bisa mendapat sertifikat tanda telah menyelesaikan pelatihan meskipun tidak menonton keseluruhan video yang dibeli.
Jengah dengan kondisi itu, sekelompok orang lantas membuat situs tandingan bernama prakerja.org. Di situs ini, semua materi video tutorial disediakan gratis. Pendirinya juga mengajak pihak lain yang peduli untuk menyumbang video tutorial secara cuma-cuma. Dengan begitu, tak perlu uang sampai Rp5,6 triliun hanya untuk jual beli video tutorial.
"Prakerja.org adalah bentuk kritik terhadap pemerintah terhadap program Kartu praKerja. Lihat manifesto lengkap kami. Anda bisa bergabung dalam aksi nyata dengan menghubungi kami di admin@prakerja.org," tulis pembuat situs prakerja.org yang diprakarsai oleh Wahyu Andrianto, Risman Adnan dan Brahmantya Sakti.
Dalam manifesto tertanggal 1 Mei 2020 disebutkan,"pembelokan program pelatihan online berbasis Kartu Pra-Kerja menjadi program wajib untuk mendapatkan bantuan tunai di masa pandemi adalah contoh kebijakan salah arah."
Selain itu, ada lima poin yang menjadi keberatan mereka, yaitu:
1. Beragam pelatihan online yang ditawarkan secara berbayar melalui Kartu Prakerja hanya menguntungkan segelintir kelompok dalam situasi bencana. Karenanya kami menuntut pemerintah mengalihkan anggaran pelatihan online sebesar Rp5,6 triliun menjadi bantuan langsung tunai kepada kelompok masyarakat pekerja yang saat ini lebih membutuhkan.
2. Penyaluran dana tersebut layak diperiksa, karena dilakukan secara terbatas melalui penunjukan tanpa mekanisme tender terbuka.
3. Nilai ekonomis dari sebuah konten seharusnya ditentukan oleh mekanisme pasar, bukan dengan menjadikannya persyaratan untuk mendapatkan bantuan.
4. Dalam menghadapi pandemi, teknologi internet dan digital memungkinkan masyarakat tetap produktif dengan cara yang sangat murah. Karenanya kami berinisiatif membuat platform pelatihan online yang diberi nama Prakerja.org. Konten untuk platform tersebut diperoleh dari berbagai sumber gratis dan dari kontribusi berbagai pihak yang ingin berpartisipasi.
5. Kami juga mengajak semua pihak di Tanah Air bergabung dalam inisiatif ini atau turut membuat inisiatif serupa, untuk ikut memperbesar ruang harapan kepada siapapun yang menjadi korban dan terdampak oleh pandemi Covid-19.
Lantas, video apa saja yang disajikan di prakerja.org?
Diakses pada Selasa (19 Mei 2020), ada 5 kategori video yang tersedia: wirausaha, pengembangan diri, bisnis dan keuangan, teknologi, dan bisnis digital.
Di kategori wirausaha, misalnya, ada video berjudul "Sharing Wirausaha - Sukses dari Kombinasi Rice Bowl dan Combi", "Sharing wirusaha - Hasilkan 6x UMR dari Hidroponik itu Mudah", "Strategi Pemasaran Produk Makanan/Kuliner" dan banyak lagi.
Di kategori bisnis digital, video yang tersedia diantaranya:
- List Building - Cara Bisnis Online Bertahan di Saat Badai Corona
- Bongkar Rahasia Jago Jualan di WhatsApp
- Cara Jualan Online Cepat Laku! (Tips Bisnis Laris Manis).
- Step by Step Belajar Bisnis Online Bagi Pemula.
- Cara Sukses dan Kaya dari Bisnis Online Shop Reseller Modal Kecil.
Sebelumnya, pada 30 April 2020, pelaksana Kartu Prakerja mengumumkan video tutorial yang terjual sudah melewati Rp120 miliar. Tepatnya Rp120.733.587.547.
Berdasarkan data dari Manajamen Pelaksana Program Kartu Prakerja, video yang paling laris manis adalah di platform Skill Academy Ruangguru yang sudah terjual senilai Rp82,99 miliar (68,9 persen).
Lalu disusul Sisnaker sebesar Rp 13,14 miliar (10,9 persen), Pintaria Rp 6,89 miliar (5,7 persen), Tokopedia Rp 6,40 miliar (5,3 persen), Bukalapak Rp 4,79 miliar (4 persen), Sekolahmu Rp3,67 miliar (3 persen), Mau Belajar Apa Rp 1,69 miliar (1,4 persen) dan Pijar Mahir sebesar Rp 0,9 miliar (0,7 persen).
"Dari total penerima prakerja gelombang 1 dan 2 dengan 456.265 peserta, sebanyak 231.975 peserta telah membeli pelatihan dengan total nilai tranksasi Rp 120.733.587.547 dan harga rata-rata per transaksi sebesar Rp520.370," papar Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja.
Nah, daripada membayar Rp520.370 per video yang sebenarnya disediakan gratis di platform lain, bukankah seharusnya total uang Rp5,6 triliun itu dibagikan sebagai Bansos Prakerja untuk masyarakat?
Jika itu dilakukan, maka akan ada tambahan 1,6 juta orang yang masing-masing mendapat Rp3,5 juta.
Bagaimana menurut Anda?[]
Berita terkait:
Share: