IND | ENG
WhatsApp Bikin Pengguna Terobsesi? Ini Pengakuan Seorang Jurnalis

Ilustrasi : Faisal Hafis | Cyberthreat.id

WhatsApp Bikin Pengguna Terobsesi? Ini Pengakuan Seorang Jurnalis
Arif Rahman Diposting : Sabtu, 09 Mei 2020 - 13:36 WIB

Cyberthreat.id - WhatsApp adalah cara hidup. It's the way of life. Dengan stiker, status, grup, dan pesan yang mudah digunakan, layanannya lebih dari sekadar SMS. Jurnalis Mashable, Sasha Lekach, baru-baru ini menuangkan pengalamannya sebagai pengguna WhatsApp.

Awalnya, Lekach selalu menolak menggunakan platform milik Mark Zuckerberg tersebut. Selama bertahun-tahun ia tidak ingin menjadi pengguna WhatsApp dan lebih memilih iMessage di iPhone. Ia juga kewalahan oleh platform lain seperti Messenger, Slack, Skype, Signal, Google Hangouts, Google Voice, Snapchat, hingga DM Twitter.

Awal tahun 2020 Lekach pindah ke Amerika Selatan untuk bekerja dan meliput dari jarak jauh. Di sana, ia akhirnya menyadari harus mengunduh aplikasi milik Facebook tersebut. Lekach sebenarnya telah menyadari trio platform raksasa Facebook, WhatsApp, dan Instagram bermasalah dengan privasi.

"Apakah saya benar-benar ingin Facebook mengetahui semua percakapan saya," tulisnya di laman Mashable, Jumat (8 Mei 2020).

Pengalaman pertama yang ia rasakan sebagai pengguna WhatsApp adalah betapa mudah menggunakannya. Tidak seperti kebanyakan aplikasi pesan lain, WhatsApp meniru layanan SMS alih-alih mencoba membangun antarmuka baru.

Bagus dan sederhana, dan yang paling penting, ramah pengguna. Dengan enkripsi ujung ke ujung (end-to-end) untuk setiap pesan, Lekach merasa lebih aman menggunakan WhatsApp daripada saat menggunakan platform lain untuk berkomunikasi.

Di luar AS, daya tarik WhatsApp luar biasa besar. Di berbagai negara, toko dan papan iklan memposting informasi WhatsApp, bukan nomor telepon atau informasi kontak lainnya.

Saat berada di Chili, Lekach dipaksa menginstall WhatsApp agar bisa terhubung ke masyarakat lokal. Itulah satu-satunya cara untuk berkomunikasi.

WhatsApp adalah aplikasi perpesanan paling populer di dunia dan digunakan di hampir 200 negara. Penggunanya sudah lebih dari 2 miliar. Mayoritas pengguna berada di India dan Brasil. Mungkin Indonesia juga termasuk.

"Jadi, masuk akal ketika di luar negeri WhatsApp akan menjadi alat komunikasi default," ujarnya.

Dalam bekerja, Lekach kerap menyusun rencana makan malam dengan orang-orang dari Spanyol, Inggris, Meksiko, Belarus, Jerman, Swiss, Kanada, dan seterusnya. Untuk itu, tidak mungkin ia menggunakan SMS. Layanan data berbasis WiFi yang tersedia secara global cukup mudah digunakan dan semua orang bisa menggunakan nomor sendiri untuk terhubung ke aplikasi.

"Anda tidak perlu mengingat nomor baru seperti dengan Google Voice. Ini juga membantu bahwa membuat grup baru dengan nama khusus dan gambar profil sangat sederhana."

Fitur lain di WhatsApp seperti video dan suara fungsinya sama dengan FaceTime milik Apple. Pengguna dapat melakukan obrolan video dengan teman-teman di berbagai negara meskipun tidak memiliki iPhone. Selain itu, antarmuka (interface) memberi label semua tautan dan gambar yang diteruskan, sehingga pengguna bisa tahu lebih banyak tentang sumbernya.

Lekach kemudian mencoba membandingkan dengan aplikasi desktop Mac. Meskipun tidak "Apple to Apple" tetapi ia mengaku susah digunakan karena aplikasi desktop Mac disinkronkan ke aplikasi ponsel. Menurut dia, ini bisa membuat frustasi ketika baterai iPhone rendah atau ketika pengguna mengalami masalah konektivitas.

Di akhir tulisannya, Lekach menyebut dirinya mulai terobsesi dengan WhatsApp. Sebagai pengguna baru ia langsung jatuh cinta dan membuka dirinya semakin banyak.

Apakah itu baik atau buruk? Semua kembali kepada pengguna.

#WhatsApp   #Facebook   #Instagram   #mediasosial   #Privasi   #datapribadi   #keamananinformasi

Share:




BACA JUGA
Pemerintah Dorong Industri Pusat Data Indonesia Go Global
Dicecar Parlemen Soal Perlindungan Anak, Mark Facebook Minta Maaf
Google Penuhi Gugatan Privasi Rp77,6 Triliun Atas Pelacakan Pengguna dalam Icognito Mode
Serahkan Anugerah KIP, Wapres Soroti Kebocoran Data dan Pemerataan Layanan
Meta Digugat, Dinilai Tak Mampu Lindungi Anak dari Predator Seksual