IND | ENG
Data Jaringan Tunjukkan Kerentanan Saat Bekerja di Rumah

Ilustrasi

Data Jaringan Tunjukkan Kerentanan Saat Bekerja di Rumah
Arif Rahman Diposting : Selasa, 14 April 2020 - 13:49 WIB

Cyberthreat.id - Pandemi Covid-19 menimbulkan mandat global physical distancing atau jaga jarak memaksa karyawan/staf bekerja dari rumah (WFH), meningkatnya konsumsi bandwidth, tetapi di waktu bersamaan muncul banyak kerentanan serta ancaman keamanan. Fakta ini didapatkan dari data penyedia jaringan dan perusahaan intelijen jaringan (network-intelligence).

Menurut Kentik, penyedia operasi jaringan berbasis Machine Learning, lalu lintas di Internet publik di AS melonjak signifikan sejak awal tahun 2020. Ketika karyawan beralih ke WFH menggunakan aplikasi video konferensi dengan peningkatan mencapai 500%.

"Secara keseluruhan, pertumbuhan konsumsi bandwidth pekan-ke-pekan cocok dengan pertumbuhan bulan-ke-bulan yang terlihat tahun lalu," kata Avi Freedman, pendiri dan CEO Kentik, dilansir Dark Reading, Senin (13 April 2020).

Secara umum Freedman menilai penyedia jaringan telah menangani lonjakan konsumsi bandwidth dengan baik.

"Di seluruh jaringan broadband dan transit, lonjakan pertama dalam pertumbuhan tahun ini umumnya ditangani oleh kapasitas yang sudah lama tersedia," kata Freedman. 

Ini menempatkan banyak jaringan beralih ke mode pertumbuhan yang dipercepat (accelerated growth mode) yang juga berarti 'pemadaman mikro' yang biasa tetapi dipercepat menjadi kerangka waktu terkompresi. Namun, itu tidak menyebabkan (banyak) pemadaman berskala besar atau berkelanjutan.

Meski demikian, terdapat tanda-tanda kuat peralihan ke mode WFH dan SFH mengejutkan banyak perusahaan atau institusi pendidikan. Banyak diantara perusahaan dan institusi itu memiliki kelemahan dalam infrastruktur.

Data akhir Maret 2020 yang dikumpulkan layanan pemindaian port (port-scanning service) Shodan menyatakan jumlah sistem yang mengekspos protokol desktop jarak jauh (remote desktop protocol/RDP) meningkat. Fakta ini melanjutkan tren umum dalam dua tahun terakhir yakni terjadinya peningkatan paparan.

Pada saat yang sama, pemindaian sumber Internet untuk port RDP yang paling umum, 3389, melonjak 40% pada bulan Maret berdasarkan data SANS Institute.

"Jika sebuah perusahaan menjalankan rencana bencana (disaster plan) dengan baik, mereka akan baik-baik saja. Sebaliknya, jika tidak, perusahaan akan mengalami masalah pelik saat transisi ke WFH."

Puncak koneksi

Comcast, operator jaringan internet perumahan terbesar di AS, melihat peningkatan lalu lintas Internet sebesar 32% - 60% di beberapa pasar - seiring dengan peningkatan 24% dalam penggunaan data seluler.

Selain itu, biasanya jam 9 malam (ke atas) waktu setempat, itu adalah waktu unduhan puncak di sektor perumahan. Sekarang, waktu puncak itu berubah menjadi jam 7:30 malam. Waktu ini jauh lebih awal karena biasanya karyawan masih dalam perjalanan pulang pulang kerja menggunakan transportasi publik.

Lebih menarik lagi, waktu unggah puncak telah bergeser dari jam 9 malam ke waktu-waktu selama jam kerja siang hari.

Comcast juga melihat lalu lintas virtual private network (VPN) melonjak 40% dan lalu lintas konferensi video naik 212% sejak 1 Maret.

"Kami melihat perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam penggunaan jaringan," tulis Comcast.

Comcast menekankan "pengalaman COVID-19 adalah era baru dan belum pernah terjadi sebelumnya, ekosistem internet fleksibel dan untuk menuju ke sini harus dirancang".

Banyak desktop terpapar

Agar bisnis berjalan dan karyawan tetap bekerja, banyak perusahaan membuka desktop ke Internet untuk koneksi langsung. Protokol umum, tetapi seringkali tidak aman, untuk mencapai hal ini adalah RDP.

Layanan pemindaian Shodan melihat peningkatan dalam port RDP terbuka - baik standar 3389 dan 3388 alternatif - dari Januari hingga Februari. Lebih banyak penyerang yang fokus pada protokol. Terjadi peningkatan sekitar 40% dalam jumlah sumber RDP.

"Penyerang ini berharap menemukan server RDP yang lebih rentan, sehingga mereka memindai lebih banyak," kata Johannes Ullrich, dekan peneliti di SANS Technology Institute.

Dampak tidak merata

Mandat bekerja di rumah (WFH) mengungkapkan ketidakadilan dalam akses broadband untuk masyarakat pedesaan dan perkotaan. Hampir seperempat rumah tangga tidak memiliki koneksi broadband, yang mencakup lebih dari 4 juta anak sekolah di AS. Data ini diungkapkan publikasi Consumer Report yang berfokus pada konsumen.

Secara keseluruhan, penyedia melihat beberapa rintangan utama untuk stabilitas jaringan di masa depan, tetapi distribusi Internet berkecepatan tinggi yang tidak merata juga terlihat dalam data jaringan.

"Kami mulai melihat efek yang tidak setara dari situasi Covid-19 di sektor kesehatan dan hasilnya, tetapi untuk sementara ini semuanya masih berjalan baik karena 'sudah terkoneksi'. Ada beberapa kekhawatiran tentang apa yang mungkin terjadi jika pendidikan jarak jauh (school from home) adalah standar nasional untuk musim gugur." 

#Bekerjadirumah   #belajardirumah   #WFH   #sfh   #keamananinformasi   #cyberspace   #corona

Share:




BACA JUGA
Survei Cisco: Karyawan di Indonesia Akses Platform Kantor dengan Perangkat Tak Terdaftar
Celah Keamanan Siber dalam Kerja Hybrid
Ini Dampak Buruk Misinformasi di Kalangan Gadis dan Wanita Muda
Rusia Siapkan Balasan setelah YouTube Hapus Akun RT Deutsch
YouTube Hapus Dua Akun Media Rusia di Jerman, Dinilai Unggah Konten Misinformasi Covid-19