
Ilustrasi
Ilustrasi
Cyberthreat.id - Platform video dan telekonferensi Zoom disebutkan telah mengirimkan data analitik ke Facebook. Celakanya, pengiriman terus dilakukan Zoom meskipun penggunanya tidak memiliki akun Facebook. Seperti dilaporkan Vice berdasarkan analisis Motherboard, Zoom tidak pernah menjelaskan dalam kebijakan dan privasinya bahwa versi iOS dari aplikasi tersebut telah melakukan pengiriman data.
Transfer data semacam ini tidak jarang, terutama untuk Facebook. Banyak aplikasi menggunakan Software Development Kit (SDK) sebagai sarana untuk mengimplementasikan fitur-fitur agar lebih mudah, tetapi juga memiliki efek mengirim informasi ke Facebook.
Masalahnya, pengguna Zoom tidak menyadari semua itu terjadi atau belum memahami bahwa ketika konsumen menggunakan satu produk, mereka mungkin memberikan data ke layanan lain yang dianggap sukarela.
"Ini mengejutkan. Tidak ada dalam kebijakan privasi (Zoom) yang membahas itu," kata Pat Walshe, seorang aktivis dari Privacy Matters yang menganalisis kebijakan privasi Zoom di akun Twitter-nya.
Setelah mengunduh dan membuka aplikasi, Zoom terhubung ke Grafik API Facebook. Menurut analisis Motherboard, Grafik API adalah cara utama para developer untuk mendapatkan data masuk atau keluar dari Facebook.
Aplikasi Zoom memberi tahu Facebook ketika pengguna membuka aplikasi, perincian pada perangkat pengguna seperti model, zona waktu, dan kota tempat mereka terhubung, operator telepon yang digunakan, dan identifikasi pengiklan unik yang dibuat oleh perangkat pengguna serta digunakan untuk menargetkan pengguna dengan iklan
Data yang dikirimkan mirip dengan yang ditemukan oleh kelompok aktivis Electronic Frontier Foundation (EFF). Bahwa aplikasi untuk vendor kamera pengawas (CCTV) Ring diduga juga pernah mengirimkan data ke Facebook.
Will Strafach, peneliti iOS dan pendiri aplikasi iOS yang berfokus pada privasi, mengkonfirmasi kepada Guardian bahwa temuan Motherboard benar. Zoom, kata Strafach, memang telah mengirimkan data ke Facebook.
"Saya pikir pengguna pada akhirnya dapat memutuskan bagaimana perasaan mereka tentang Zoom dan aplikasi lain yang mengirimkan suar (data) ke Facebook. Bahkan jika tidak ada bukti langsung tentang data sensitif yang dibagikan dalam versi saat ini," kata Strafach kepada Motherboard dalam direct message di Twitter.
Zoom tampak membenarkan apa yang dilakukannya tersebut. Misalnya dalam kebijakan perusahaan, Zoom mengatakan mereka dapat/berhak mengumpulkan "informasi profil Facebook pengguna" ketika menggunakan Facebook untuk masuk ke produk kami atau untuk membuat akun di aplikasi Zoom.
Masalahnya, Zoom juga tidak secara eksplisit menyebutkan apa pun tentang aktivitas mengirimkan data ke Facebook. Terutama bagi pengguna Zoom yang tidak memiliki akun Facebook sama sekali.
Tanggapan Zoom
Beberapa jam setelah analisis Motherboard diterbitkan Vice, pihak Zoom akhirnya menarik kebijakan pengiriman data tersebut dengan menyatakan "Zoom menghapus kode yang mengirimkan data ka Facebook".
"Data yang dikumpulkan oleh Facebook SDK tidak termasuk informasi pengguna pribadi apa pun, melainkan memasukkan data tentang perangkat pengguna seperti jenis dan versi OS seluler, zona waktu perangkat, OS perangkat, model dan operator perangkat, ukuran layar, prosesor inti, dan ruang disk," tulis pernyataan resmi Zoom dilansir Vice, Sabtu (28 Maret 2020).
Lebih lanjut, Zoom menyatakan akan menghapus Facebook SDK dan mengkonfigurasi ulang fitur sehingga pengguna masih dapat masuk dengan Facebook melalui browser mereka.
Pengguna juga diminta untuk memperbarui Zoom ke versi terbaru sehingga perubahan ini dapat dilakukan. Meskipun "versi update Zoom terbaru akan tersedia dalam beberapa waktu ke depan".
"Kami mendorong mereka (pengguna) untuk melakukannya," tegas Zoom.
"Kami juga dengan tulus meminta maaf atas pengawasan ini dan tetap berkomitmen untuk melindungi data pengguna kami."
Sejak pandemi CoronaVirus merebak secara global dan digitalisasi semakin marak lewat anjuran Work From Home, pengguna Zoom di banyak negara melonjak drastis. Bahkan CFO Zoom Kelly Steckelberg mengatakan pihaknya tengah mencari cara agar pengguna layanan secara Zoom berpindah ke layanan berbayar.
Share: