
TikTok | Foto: techlomedia.in
TikTok | Foto: techlomedia.in
Cyberthreat.id – Aplikasi media sosial TikTok terus berusaha meyakinkan pemerintah Amerika Serikat bahwa aplikasinya aman dan tak terkait apa pun dengan pemerintah China.
Pada Rabu (11 Maret 2020), TikTok yang dimiliki oleh ByteDance Technology, perusahaan teknologi berkantor pusat di Beijing, China, mengumumkan akan membuka “Pusat Transparansi TikTok” pada Mei mendatang.
“Fasilitas baru ini ada di kantor kami di Los Angeles,” kata Vanessa Pappas, General Manager TikTok Amerika Serikat di blog perusahaan.
Menurut Vanessa, dengan adanya fasilitas baru tersebut, pihak eksternal memiliki kesempatan untuk secara langsung melihat, “bagaimana tim kami di TikTok bekerja sehari-hari, yaitu memoderasi konten di platform,” ujar dia.
Melalui pengamatan langsung tersebut, Vanessa berharap pihak luar perusahaan bisa mengevaluasi sistem, proses, dan kebijakan moderasi TikTok secara keseluruhan.
“Kami berharap Pusat Transparansi beroperasi sebagai forum di mana pengamat akan dapat memberikan umpan balik yang berarti tentang praktik kami,” ujar dia.
Berita Terkait:
“Industri kami berkembang pesat, dan kami sadar bahwa sistem, kebijakan, dan praktik kami tidak sempurna, itulah sebabnya kami berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan.”
Vanessa juga menegaskan, ke depan fasilitas di Pusat Transparansi juga akan diperluas, yaitu memberikan informasi tentang kode sumber TikTok dan upaya dalam perlindungan privasi serta keamanan data. “Inisiatif fase ini akan dipelopori oleh Kepala Pejabat Keamanan Informasi kami yang baru ditunjuk Roland Cloutier, yang baru mulai bekerja bulan depan,” tutur Vanessa.
Vanessa mengatakan, TikTok sejauh ini telah menyewa sejumlah pakar untuk meningkatkan pusat Kepercayaan dan Keselamatan TikTok di AS, Irlandia, dan Singapura.
Sejak tahun lalu, Angkatan Darat dan Angkatan Laut AS telah mengeluarkan larangan bagi tarunanya untuk menggunakan TikTok karena masalah ancaman keamanan dunia maya. Alasan larangan itu merujuk pada aturan yang diberlakukan di China sejak 2017, bahwa perusahaan yang beroperasi di China wajib bekerja sama dengan pemerintah mengenai intelijen nasional, tulis Reuters.
Pekan lalu, Senator Josh Hawley dari Partai Republik juga menyerukan larangan untuk semua karyawan federal agar tak memakai TikTok.
Namun, TikTok berkali-kali membantah klaim tudingan bahwa data pengguna dibagikan ke pemerintah China. Perusahaan juga menyatakan, data pengguna AS disimpan di Amerika Serikat dan pemerintah China tidak memiliki yurisdiksi atas konten yang bukan berada di China.
Konten negatif
TikTok paling banyak disoroti karena konten-konten yang tak pantas bagi anak-anak. Namun, ByteDance tahun lalu mengklaim telah mempekerjakan ribuan sensor untuk menghapus konten yang tidak pantas di platform. ByteDance dikabarkan telah mempekerjakan 2.000 sensor pada Januari 2018 setelah pemerintah China menuduh aplikasi agregasi berita miliknya "menyebarkan informasi pornografi dan vulgar".
Berita Terkait:
ByteDance pun berjanji untuk meningkatkan pekerja sensor internal menjadi 10.000 setelah sempat disensor pemerintah. Penyensoran adalah hal yang biasa terjadi di China lantaran kebijakan internetnya.
Sensor tak hanya dihadapi di tanah kelahirannya, TikTok juga juga menghadapi sensor di Bangladesh dan sempat dilarang oleh pengadilan India atas klaim pihaknya mempromosikan pornografi di kalangan anak-anak. Mereka juga sempat dikenai denda yang sangat besar di AS karena secara ilegal mengumpulkan informasi dari anak-anak.
Asal usul
Diluncurkan dua tahun lalu, TikTok telah diunduh 1,5 miliar kali di dunia, menurut perusahaan riset SensorTower per 14 November 2019. Di India, aplikasi ini telah diunduh hingga 466 juta, China 173 juta, dan AS 123 juta..
ByteDance adalah salah satu startup paling cepat berkembang di China. Perusahaan ini juga memiliki agregator berita terkemuka di China, yaitu Jinri Toutiao. Sejak kemunculannya, TikTok telah menarik perhatian selebritas AS seperti Ariana Grande dan Katy Perry.
Investor ByteDance di antaranya SoftBank Group Corp, perusahaan modal ventura Sequoia Capital, dan perusahaan ekuitas swasta seperti KKR & Co Inc, General Atlantic dan Hillhouse Capital Group.
ByteDance didirikan pada 2012 oleh Zhang Yimi, sebelumnya hanyalah seorang guru teknologi informasi. Kini ia telah menjadi miliarder muda, masih berusia 36 tahun, berkat aplikasi yang menyasar tren kalangan milenial dan, termasuk, aplikasi perintis penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Berita Terkait:
Pada 2019, ia terdaftar dalam 20 daftar teratas Hurun China Rich List dengan kekayaan US$ 13,5 miliar melampaui pendiri mesin raksasa pencarian, Baidu.
Menurut Bo Ji, Asisten Dekan Sekolah Bisnis Cheung Kong, Bo Ji, TikTok "membesar dan sukses dalam waktu singkat” karena menarik perhatian pengguna muda. Menurut dia, generasi muda saat ini ingin berbagi perasaan mereka yang sebenarnya baik atau buruk. “Terlebih mereka lebih langsung dan ekspresi,” tutur dia.
Menurut Bo Ji, Zhang adalah pengusaha China yang tidak biasa. “Dia membangun sesuatu untuk dunia; dia mengerti orang-orang muda dan psikologi mereka," kata Bo Ji.
Liu Xingliang, Dekan Pusat Penelitian DCCI, mengatakan kepada AFP, bahwa Zhang mewakili gelombang wirausaha baru dan keturunan berbeda dari taipan paling terkenal di China.
“Dia lebih seperti Pony Ma muda,” kata Xingliang yang membandingkan Zhang dengan co-founder raksasa internet China Tencent yang berusia 48 tahun. Memang tak keliru, apalagi Zhang dulu seorang programmer, tentu saja dinilai lebih memperhatikan produk dan tahu teknologi dengan baik.
Di China, aplikasi ini disebut dengan Douyin yang diluncurkan pada 2016 dengan menarik perhatian pengguna karena menggaet selebriti papan atas seperti aktor dan penyanyi China Kris Wu.
Namun, di China produk unggulan pertama dari ByteDance adalah aplikasi agregasi berita China yang sangat populer, yakni Jinri Toutiao (artinya berita utama hari ini). Hadirnya Toutiao diyakini telah mengubah kebiasaan membaca orang-orang China. Mereka akan tahu apa yang pengguna suka tonton dan akan merekomendasikan pengguna hal-hal yang pengguna sukai.
Selain dari TikTok, ByteDance juga menjalankan TopBuzz di AS, aplikasi agregasi berita berbahasa Inggris yang dilaporkan akan dijual oleh perusahaan pada September lalu.
Pada 2016 ByteDance menjadi salah satu pemegang saham aggregator BaBe, sebuah aplikasi berita Indonesia dengan lebih dari 30 juta unduhan sejak diluncurkan pada Oktober 2013.
Tak hanya itu, baru baru ini ByteDance juga meluncurkan aplikasi produktivitas dan Slack-competitor Lark, yang menampilkan penyimpanan awan, obrolan, dan fungsi kalender.
Berita Terkait:
Menjauhkan diri dari China
TikTok telah berusaha untuk menjauhkan diri dari China dan mengklaim tak terkait dengan pemerintah China. Bahkan, baru-baru ini, ByteDance pelan-pelan melepaskan dari seluruh operasional TikTok menyusul pemeriksaan Komite Investasi Asing di AS (Comittee on Foreign Investment in the United States (CFIUS).
ByteDance berupaya untuk memisahkan TikTok dari banyak operasi aplikasi di China. Hal ini dilakukan di tengah penyelidikan panel keamanan nasional AS mengenai keamanan data pribadi yang ditangani.
ByteDance tengah berusaha meyakinkan CFIUS, bahwa data pribadi yang dipegang oleh TikTok, yang sangat populer di kalangan remaja AS, disimpan secara aman di AS dan tidak akan dikompromikan oleh Otoritas China, kata sumber Reuters.
CFIUS dikabarkan tengah menyelidiki terkait dengan akuisisi ByteDance terhadap Musical.ly pada 2017 senilai US$ 1 miliar yang menjadi tonggak pertumbuhan pesat TikTok.
Sumber Reuters mengatakan, ByteDance tampaknya ingin menghindari nasib seperti perusahaan game China, Beijing Kunlun Tech Co Ltd.
Pada Mei 2019, Beijing Kunlun Tech menyetujui permintaan CFIUS untuk melepaskan aplikasi kencan gay, Grindr, yang populer menyusul kekhawatiran tentang keamanan data pribadi.
Karena itulah, sebelum CFIUS menyelidikinya pada Oktober lalu, ByteDance pelan-pelan mulai memisahkan TikTok secara operasional.[]
Share: