IND | ENG
Geliat 5G China dalam Belitan Corona

Foto: thexpressng.com

Geliat 5G China dalam Belitan Corona
Andi Nugroho Diposting : Rabu, 11 Maret 2020 - 15:33 WIB

Cyberthreat.id –  Wabah mematikan itu datang di ujung 2019 ketika China sedang gencar-gencarnya memperluas stasiun-stasiun jaringan 5G.

Sejak Juni tahun lalu, izin proyek 5G dibuka oleh pemerintah China. Tiga operator telekomunikasi (China Mobile, China Unicom, China Telecom) dan satu lembaga penyiaran milik negara, China Broadcasting Network, mengantongi izin untuk mengembangkan jaringan di daratan China.

Pada November, akhirnya ketiga operator meluncurkan layanan seluler 5G tahap awal. China Mobile memasang sedikitnya 300.000 menara base transceiver station (BTS) 5G di seluruh China. China Mobile adalah operator seluler dengan jumlah pelanggan terbesar di dunia.

Ketika wabah penyakit corona baru (Covid-19) merebak, proyek 5G “tampaknya bakal terbengkalai dan tanpa guna”. Ribuan orang di China meninggal, Wuhan sebagai daerah yang menjadi awal penyebaran Covid-19 diisolasi. Warga China lebih banyak mengurung diri, mengurangi aktivitas publik dan  kontak fisik demi menghambat penularan penyakit.

Di tengah wabah itu, perusahaan-perusahaan teknologi China tak tinggal diam. Seolah-olah semua bergerak karena satu kesamaan tujuan: meredam wabah corona agar tidak semakin menjalar. Mereka mengembangkan teknologi deteksi suhu badan yang menganalisis orang-orang di area publik, tanpa harus bersentuhan langsung. Teknologi facial recognition juga dikembangkan, bahkan bisa mendeteksi seseorang dengan akurasi tinggi meski wajah mereka tertutup masker.

Di rumah-rumah sakit di China dikabarkan bagaimana panik dan sibuknya petugas medis melayani dan merawati pasien corona. Teknologi-teknologi tadi dipakai untuk membantu petugas medis yang kewalahan; terlebih juga mengurangi risiko petugas medis terkena corona.


Berita Terkait:


Kabar baik itu datang dari sebuah rumah sakit di Provinsi Zhejiang, China Timur, pada 23 Februari lalu. Dokter-dokter di situ tak hanya dibantu perawat, tapi ada robot yang membantu memindai pasien.

Robot itu justru tidak di samping dokter. Robot itu berada di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei di China Tengah. Secara real-time robot itu melaporkan ke Rumah Rakit Rakyat Zhejiang yang berjarak 700 kilometer dari Wuhan.

Robot berkekuatan 5G itu melakukan tugasnya memindai ultrasonografi (USG). Sebelumnya, teknologi USG jarak jauh 5G telah dipakai untuk memindai pasien Covid-19 di sebuah kota kecil di Zhejiang pada 2 Februari lalu.

Menurut kantor berita China, Xinhua, RS Rakyat Zhejiang memang memiliki sebuah Laboratorium inovasi medis pintar 5G. Lab ini didirikan bersama raksasa telekomunikasi China Telecom dan Huawei. Beberapa menit pemeriksaan USG kardiopulmonar bisa menghasilkan hingga 2 gitabita data gambar ultrasonik, dengan kecepatan transmisi/pengiriman tinggi dan latensi (jeda waktu pengiriman data dari pengirim ke penerima) yang rendah.

Tak hanya RS Rakyat Zhejiang yang melakukan itu. Robot-robot lain melakukan hal serupa dalam upaya pencegahan dan pengendalian wabah Covid-19.

Robot cerdas 5G yang dikembangkan oleh China Mobile dan pembuat robot CloudMinds juga bekerja di Hubei dan tempat-tempat lain. Robot cerdas itu menyediakan layanan medis seperti perawatan jarak jauh, tes suhu tubuh, penyemprotan desinfektan, pembersihan, dan pengiriman obat.

Di Shanghai, robot cerdas milik China Mobile itu juga dipakai. Apalagi di wilayah itu telah ada tujuh stasiun induk 5G yang berdekatan dengan Pusat Klinik Kesehatan Masyarakat Shanghai, sehingga memastikan jangkauan 5G cukup bagus. Perusahaan ZTE bersama operator Telecom juga bekerja sama menggunakan teknologi 5G untuk memfasilitasi diagnosis jarak jauh pasien corona.

Sulit memprediksi kapan wabah Covid-19 akan mereda. Kini ekonomi China dalam kondisi terpuruk karena wabah tersebut. Padahal, ekspansi 5G adalah salah satu prioritas strategi nasional yang bisa menopang industri.

Dengan kecepatan data puncak hingga 100 kali lebih cepat ketimbang jaringan 4G saat ini, jaringan 5G telah diklaim sebagai jaringan ikat untuk perangkat-perangkat terhubung internet (IoT), mobil otonom, kota pintar, dan aplikasi seluler terbaru lain—ini semua ialah tulang punggung (backbone) industri internet.

Meski wabah corona masih tinggi, pemerintah China meminta operator tak tinggal diam menunggu wabah mereda. Dalam pengumuman terpisah pada Februari lalu, Central Politbiro Partai Komunis dan Kementerian Industri dan Teknologi Informasi (MIIT) dalam satu nada. Mereka menginginkan pengembangan jaringan 5G negara itu harus dipercepat, seperti dikutip dari Abacus, 6 Maret lalu.

Kementerian mengatakan, akan mendukung penerapan internet, data besar (big data), komputasi awan (cloud computing), dan kecerdasan buatan di berbagai bidang seperti pemantauan epidemi, pelacakan sumber virus, pencegahan dan pengobatan epidemi, lapor Xinhua.

International Data Corporation (IDC) China, perusahaan yang fokus riset pasar, memperkirakan April mendatang, wabah Covid-19 bisa terkendali. Dan, itulah waktu yang cukup bagi operator untuk bergerak kembali memperluas menara-menara BTS 5G, kata Cut Kai, menajer riset senior IDC

Pada pertemuan antara MIIT dan operator telekomunikasi bulan lalu, ketiga operator jaringan memastikan bahwa tidak akan ada penundaan dalam program infrastruktur 5G.

Selama kunjungan ke laboratorium penelitian seluler perusahaan di Beijing pada 26 Februari, Chairman China Mobile, Yang Jie, mengatakan, ekspansi jaringan 5G adalah "tugas politik utama” yang bertujuan untuk terus maju. China Mobile berencana untuk memiliki 300.000 BTS 5G pada akhir tahun ini.


Berita Terkait:


China Unicom mengatakan akan menyelesaikan pemasangan bersama 250.000 BTS baru dengan China Telecom pada kuartal ketiga 2020, tiga bulan lebih cepat dari jadwal semula.

Penyebarluasan yang stabil dari stasiun-stasiun induk 5G sangat penting untuk memenuhi permintaan di masa depan, untuk membuat ekonomi China kembali bangkit. Akibat, wabah Covid-19, industri smartphone cukup terpukul. Pengapalan dari dan ke China terhambat.

Jika wabah tersebut bisa terkendali, China bakal menatap ekonomi 5G dengan cerah. Sebab, China diperkirakan menjadi negara dengan pelanggan 5G terbesar pada 2025, yaitu 600 juta pengguna seluler 5G (40 persen dari total pelanggan 5G global), menurut perkiraan Asosiasi GSM, kelompok perdagangan yang berbasis di London yang mewakili kepentingan operator jaringan seluler di seluruh dunia.

Namun, Cut Kai memiliki prediksi lain. Infrastruktur 5G memang bisa membantu ekonomi China bangkit, tapi “Saya pikir titik kritis sebenarnya untuk pengembangan 5G China adalah aplikasi, bukan pada wabah (Covid-19)," kata dia.

"Jika kita tidak memiliki killer application, penyebaran skala besar [dari BTS 5G] akan sia-sia," ia menambahkan.

Killer application atau aplikasi pembunuh adalah istilah untuk program komputer yang sangat diperlukan atau diinginkan sehingga membuktikan nilai inti dari beberapa teknologi yang lebih besar, seperti perangkat keras komputer, konsol permainan video, perangkat lunak, bahasa pemrograman , platform perangkat lunak, atau sistem operasi.[]

#huawei   #jaringan5g   #5g   #china   #coronavirus   #covid-19

Share:




BACA JUGA
BSSN-Huawei Techday 2024
Keamanan Siber Membutuhkan People, Process, dan Technology.
Intelligent Sensing, Bagian Integral Pemerintahan Smart Cities
Huawei Pamerkan Produk Unggulan di MWC Barcelona
Peretas China Beroperasi Tanpa Terdeteksi di Infrastruktur Kritis AS selama Setengah Dekade
Indonesia Tingkatkan Kolaborasi Pemanfaatan AI dengan China