
Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro. | Foto: Arsip Kemenristek
Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro. | Foto: Arsip Kemenristek
Jakarta, Cyberthreat.id – Implementasi kursus gratis bahasa pemrograman pada komputer (coding) yang diinisiasi oleh pemerintah masih belum jelas hingga kini.
Ketika ditemui Cyberthreat.id di kantor BPPT, Jakarta, Selasa (10 Maret 2020), Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro, mengatakan, “Belum tahu kapan, tapi usahakan tahun ini,” tutur dia.
Saat ini kementeriannya masih tahap membicarakan rencana tersebut dengan pihak-pihak lain, misalnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
“Kalau saat ini sudah banyak dari swasta yang memberikan kursus coding, nah, kami mau bikin itu jadi program yang dilakukan secara nasional,” kata Bambang.
Berita Terkait:
Sebelum kursus tersebut terlaksana, Bambang berharap kepada para pelaku dunia digital yang memahami coding untuk lebih dulu membantu mentransfer ilmu ke lingkungan terdekat.
“Mulailah diseminasi, kasih kursus coding barangkali ke lingkungan sekitarnya, ke lingkungan alumni, ke lingkungan tetangga. Mulailah kita ciptakan budaya SDM unggul untuk menghadapi revolusi digital,” ujar dia.
Sebelumnya, pada Agustus 2019 saat pidato kenegaraan terkait RUU APBN 2020 di Sidang Paripurna DPR RI, Presiden Joko Widodo menyatakan, pemerintah berjanji membuka kursus terkait coding, digital analytics, desain grafis dan lain-lain.
Empat bulan berselang, pada Desember lalu, Menteri Bambang juga menyatakan, pendidikan coding sedang dibahas untuk masuk ke sekolah. Ia terinsiprasi Finlandia yang memberikan kursus coding gratis kepada warganya. Ia berjanji mencoba memasukkan skema tersebut dalam peta jalan kecerdasan buatan (AI) dan perangkat terhubung internet (IoT) di Indonesia.
Berita Terkait:
Menurut Bambang, yang terpenting pemahaman tentang coding itu perlu dimassalkan terlebih dulu. Saat ini Indonesia sangat kekurangan sumber daya manusia di bidang coding. Padahal, keahlian di bidang coding menjadi salah satu kompetensi yang harus dimiliki di era revolusi industri 4.0 dan diperlukan untuk keberlanjutan dari perusahaan digital.
Di sisi lain, menurut dia, perusahaan-perusahaan digital di Indonesia masih bergantung dari tenaga ahli asing untuk pengembangan aplikasinya. “Harus ada upaya yang lebih massal untuk coding ini. Salah satu contoh di Finlandia, yang menarik, karena memberikan kesempatan kursus coding gratis bagi siapa saja,” kata dia.
Menurut dia, salah satu dasar untuk bertahan di dunia bisnis digital adalah kemampuan coding. “Saat ini Finlandia sudah sadar betul bahwa hal itu (coding) adalah kunci masa depan ekonomi. Finlandia berani, negara menyelenggarakan dan menyediakan infrastrukturnya,” ujar Bambang.[]
Redaktur: Andi Nugroho
Share: