
eBay | Foto: freepik.com
eBay | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Sejak wabah penyakit corona (Covid-19) meluas di puluhan negara, masker dan pembersih tangan (hand sanitizer) mengalami kelangkaan. Kalau pun tersedia di pasar daring (marketplace), harganya melonjak bahkan hingga 50 kali lipat.
Kondisi tersebut tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di Inggris, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lainnya.
Secara global, dan di Inggris, orang-orang panik membeli barang-barang seperti pembersih tangan, masker wajah, dan kertas toilet untuk mengantisipasi penyebaran yang semakin meluas.
Satu kejadian di Inggris, tulis Independent, seorang pemilik usaha kehilangan £15.000 setelah membeli banyak masker pelindung, tapi dirinya tak pernah mendapatkan barangnya.
Sementara itu, National Intelligence Fraud Bureau mengatakan, sedikitnya 21 orang menjadi korban penipuan terkait virus corona di Inggris dan merugi lebih dari £ 800.000 selama Februari lalu.
Di situs web niaga-el (e-commerce) populer, eBay, harga masker dan hand sanitizer melonjak drastis hingga 50 kali lipat.
eBay pun langsung mengeluarkan pengumuman larangan di situs webnya yang dikeluarkan 5 Maret lalu. eBay menghapus daftar barang seperti masker (N95/N100) dan masker bedah, hand sanitizer/gel, dan tisu disinfektan.
“Kami akan terus memantau situasi yang berkembang dan dengan cepat menghapus daftar yang menghapus daftar yang menyebutkan Covid-19, coronavirus, 2019nCov (kecuali buku) dalam judul atau deskripsi,” tulis eBay.
Menurut eBay, daftar tersebut dapat melanggar undang-undang AS yang berlaku, kebijakan eBay, dan menunjukkan harga yang tidak adil bagi pembeli di platform.
Laporan CNBC, seperti dikutip The Verge, eBay telah menghapus lebih dari 20.000 daftar barang karena membuat klaim yang tidak berdasar terkait dengan corona.
Intinya, eBay mengeluarkan kebijakan larangan untuk daftar atau barang yang berupaya mengambil untung dari penderitaan orang. Penjual juga dilarang menggunakan klaim berlebihan atau menggunakan kata kunci popular yang tidak berkaitan dengan barangnya.
Sebelumnya, Amazon telah melakukan hal serupa dengan menghapus barang-barang yang memanfaatkan kepopuleran dari corona tersebut. Hanya, Amazon belum melembagakan larangan dan tidak jelas berapa banyak penjual yang telah menerima penangguhan atas praktik yang dilakukan tersebut.[]
Redaktur: Andi Nugroho
Share: