
WhatsApp | Foto: Cyberthreat.id/Faisal Hafis
WhatsApp | Foto: Cyberthreat.id/Faisal Hafis
Cyberthreat.id – WhatsApp menjadi layanan olah pesan instan yang paling banyak digunakan di Indonesia saat ini, bahkan di dunia.
Kepopuleran WhatsApp inilah yang seringkali dipakai seorang penipu atau peretas mencari keuntungan dari penggunanya. Terlebih, kini WhatsApp sendiri menerima kode sandi sekali pakai (one-time password/OTP) untuk toko online atau layanan keuangan digital.
WhatsApp memang menawarkan sejumlah fitur keamanan agar akun pengguna tidak dapat dibajak. Sayangnya, fitur keamanan ini tidak bisa menghentikan peretasan tingkat tinggi seperti yang dialami CEO Amazon Jeff Bezos.
Namun, pilihan fitur keamanan yang ada setidaknya cukup baik untuk menghindarkan diri dari penipuan rekayasa sosial atau social hacking.
Pelaku social hacking ini biasanya dengan mengirim pesan WhatsApp kepada seorang pengguna yang telah ditargetkan dan menanyakan apakah yang bersangkutan bisa meneruskan kode enam digit yang baru diterimanya melalui SMS.
Berita Terkait:
Padahal, kode enam digit tersebut adalah kunci pintu masuk ke akun WhatsApp. Karena dalam kondisi tak sadar, pengguna tersebut dengan santainya mengirimkan kode enam digit tersebut karena yang menanyakan tadi mengaku sebagai teman atau saudaranya. Tahu-tahu, dirinya baru menyadari bahwa baru saja keluar dari akun WhatsApp.
Ada dua hal yang perlu diingat oleh pengguna WhatsApp agar terhindari dari social hacking:
Untuk menjamin akun WhatsApp tidak diakses orang lain, PIN memang sangat diperlukan. PIN terdiri dari enam digit. Untuk mengaturnya Anda dapat mengikuti beberapa langkah berikut ini:
Anda juga dapat menambahkan alamat e-mail untuk memulihkan akun Anda jika suatu saat Anda lupa PIN. Namun, WhatsApp secara berkala akan meminta PIN saat Anda menggunakannya sehingga Anda tidak akan mudah melupakannya, demikian seperti dikutip dari The Verge, yang diakses Jumat (24 Januari 2020).[]
Redaktur: Andi Nugroho
Share: