
Menteri Kecerdasan Buatan pertama di dunia, Omar Sultan Al-Olama (kiri) dalam sebuah kerjasama dengan Microsoft, April 2019 | Foto: Microsoft.com
Menteri Kecerdasan Buatan pertama di dunia, Omar Sultan Al-Olama (kiri) dalam sebuah kerjasama dengan Microsoft, April 2019 | Foto: Microsoft.com
Cyberthreat.id - Presiden Joko Widodo dalam pertemuan pada 9 Januari 2020 meminta para Duta Besar Indonesia yang tersebar di berbagai negara untuk mencari informasi terbaru terkait penerapan teknologi kecerdasan buatan di negara lain. Presiden menyebut, Indonesia saat ini tertinggal jauh dalam hal teknologi.
Jokowi menekankan Indonesia perlu belajar lebih jauh soal kecerdasan buatan untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain.
"Negara lain sudah sampai ke angka 70, kita masih mulai dari nol. Kapan kita akan bisa mengejar mereka? Ya kita memulainya dari 70. Informasi 70 dari mana bapak ibu sekalian, negara lain sampai 70?," kata Jokowi dalam pertemuan yang berlangsung di Istana Negara.
Dunia saat ini memang sedang gegap gempita dengan penerapan teknologi kecerdasan buatan. Uni Emirat Arab (UEA) bahkan telah mengambil langkah lebih maju dua tahun lalu. Pada 2017, negara itu mengangkat seorang pemuda berusia 27 tahun sebagai Menteri Artificial Inteligence. Omar Sultan Al-Olama, namanya. Posisi itu sekaligus menempatkan Omar sebagai Menteri Kecerdasan Buatan pertama di dunia.
"Hari ini kami mengumumkan penunjukan Menteri Artificial Intelligence (kecerdasan buatan). Gelombang global di masa mendatang merupakan kecerdasan buatan dan kita ingin agar UEA lebih bersiap untuk itu," kata Perdana Menteri dan Wakil Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum saat itu.
Ia menambahkan bahwa tujuan dibentuknya Menteri Kecerdasan Buatan adalah untuk menjadikan negaranya sebagai negara paling maju di dunia.
Omar Al-Olama sebelumnya menjabat sebagai Kepala Direktur Departemen Masa Depan. Omar Al-Olama juga menjabat sebagai Executive Committee of the World Government Summit (WGS) sejak 2014. Ini adalah organisasi ajang tukar pikiran para pemerintah tentang inovasi baru di negara-negara bagian UEA.
Dalam sebuah wawancara yang dimuat businessinsider.com, Olama mengatakan UEA punya cita-cita menjadi pemimpin dalam hal penelitian, pengembangan dan inovasi kecerdasan buatan.
"Di UEA, kami memahami sisi positif dan potensi AI," kata Al Olama.
“Kami memiliki kepemimpinan visioner yang ingin menerapkan teknologi ini untuk melayani umat manusia dengan lebih baik. Pada akhirnya, kami ingin memastikan bahwa kami memanfaatkan itu sementara, pada saat yang sama, mengatasi tantangan yang mungkin diciptakan oleh AI.”
Secara konkret, strategi AI UEA mencakup pengembangan dan penerapan di sembilan sektor: Transportasi, kesehatan, ruang, energi terbarukan, air, teknologi, pendidikan, lingkungan, dan lalu lintas.
Dampak teknologi terhadap pendidikan, kata Olama, bisa sangat dramatis jika dikerjakan dengan serius.
"Dengan internet, kita telah melihat generasi yang memiliki begitu banyak pengetahuan," katanya.
“Bayangkan jika AI dapat membantu kami mengirimkan konten itu dengan cara yang membuat orang memahaminya, menghafalnya, dan dianggap sebagai pemimpin di dalamnya. Saya tidak berpikir masa depan akan memiliki tes, ujian, atau penghafalan yang ketat. AI akan membantu kita benar-benar membuat proses pembelajaran yang lebih kolaboratif dan pribadi."
Olama menambahkan, UEA ingin menyediakan semua layanan menggunakan AI termasuk layanan medis dan keamanan. Penggunaan AI diyakini dapat menghemat pengeluaran pemerintah setempat hingga 50 persen.
Bagaimana Pak Jokowi, butuh Menteri Kecerdasan Buatan juga?[]
Share: