
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Resesi seksual—kelesuan untuk berhubungan seksual—tampaknya menjadi tanda yang lebih mengancam daripada kehadiran teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
Begitu opini mantan jurnalis CNBC TV Jake Novak dalam artikelnya American’s sex recession could lead to an economic depression yang terbit di CNBC.com pada 25 Oktober 2019.
Novak, kini sebagai analis politik dan ekonomi, menyoroti perang dagang antara AS dan China. Menurut dia, bukanlah perang dagang yang menjadi isu penting dan mengancam ekonomi AS. Isu itu selayaknya dilupakan saja.
Menurut dia, yang justru penting mengancam ekonomi AS secara nyata adalah kian sedikit orang AS “berminat pada cinta”, terutama bagi kalangan muda. “Ya, bukan cinta, tapi seks,” kata dia.
Novak memiliki alasan mengapa seksual menjadi ancaman terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) AS. Mengutip laporan Biro Statistik AS pada 2008, kata dia, keamanan ekonomi adalah prioritas utama bagi kalangan milenial ketika memutuskan untuk menikah atau menjalin hubungan serius.
Berdasarkan data itu, kata dia, masuk akal bahwa jutaan orang AS yang memasuki masa-masa selama ‘Resesi Hebat’ satu dekade lalu lebih cemas tentang pernikahan dan seks.
Ia kemudian mengambil contoh saat masa “Depresi Hebat” di AS era 1930-an, di mana angka kelahiran di AS mencapai titik terendah sepanjang waktu pada 1936. Mungkin masih bisa dimaklumi jika waktu itu angka kelahiran rendah.
Namun, ekonomi AS telah tumbuh dan stabil sekarang. Dan, laporan rendahnya rata-rata bercinta, meski telah terjadi pemulihan ekonomi secara keseluruhan, menimbulkan berbagai asumsi.
Ia melihat ada perbedaan mencolok gaya seksual milenial saat ini dengan generasi sebelumnya. Sejumlah penelitian baru-baru ini, kata dia, menyatakan, rendahnya tingkat seksual dan pernikahan karena faktor teknologi.
Teknologi [internet, red], menurut Novak, “peluang baru” bagi orang dewasa muda untuk menarik diri dari hubungan manusia secara langsung. Semuanya, mulai dari porno online hingga video game canggih, hingga media sosial digunakan oleh banyak orang sebagai pengganti berhubungan dengan manusia nyata, terutama bagi kaum pria.
“Kecenderungan pria untuk ‘mencari pengganti ini’ mungkin menjadi alasan tunggal terbesar mengapa tingkat seks dan pernikahan menurun,” Novak menganalisis.
Novak mengatakan, sekarang mereka memiliki film porno, video game, dan teknologi lainnya untuk memberi mereka lebih mudah untuk mendapatkan pengganti untuk kepuasan itu. Terlebih, kini ada lebih banyak kemungkinan juga dengan adanya industri robot seks yang realistis.
Sementara, sebuah studi baru Universitas Cornell menunjukkan bahwa wanita masih cenderung lebih tertarik dan ingin menikahi pria dengan prospek ekonomi yang lebih kuat.
Hal itulah yang menjadi kekhawatiran Novak. Sementara kalangan wanita ingin berumah tangga, kalangan pria emoh karena biaya-biaya yang ditimbulkan dalam keluarga. Padahal, dari keluarga baru inilah berdampak pada munculnya kegiatan ekonomi.
Dalam pandangan Novak, bagi pria AS berusia 20-an, “resesi seks” tampaknya merupakan gejala dari keterlambatan masuk ke dunia kedewasaan yang bertanggung jawab penuh (hidup mandiri).
Karena dengan hidup mandiri berimplikasi pada biaya-biaya sehingga mereka membutuhkan pendapatan. Dan,yang jelas, "pekerjaan" telah menjadi komponen ekonomi penting sejak peradaban dimulai, kata Novak.
Maka, Novak berpendapat, “resesi seks” tampaknya lebih mengancam secara serius, karena “melemahkan keinginan manusia purba untuk kawin dengan manusia lain” dan “melakukan pekerjaan yang diperlukan untuk mewujudkannya.”
“Saya telah mendengar tentang ancaman yang ditimbulkan oleh teknologi terhadap penciptaan lapangan kerja, tetapi penurunan tingkat seksual mungkin merupakan tanda yang paling jelas, bahwa tantangan teknologi terhadap cinta modern mungkin ancaman ekonomi terbesar dari semuanya,” tulis Novak.
Share: