
Duvelza Saenz | Booz Allen
Duvelza Saenz | Booz Allen
Cyberthreat.id - Kaum wanita akan selalu berhadapan dengan stereotipe dan bias gender ketika bergelut dengan dunia cyber. Tidak demikian dengan Duvelza Saenz yang dikenal sebagai data scientist dan seorang petarung di dunia cyber.
Harnham Report 2019 menyatakan hanya 18 persen wanita di AS yang mengisi pekerjaan sebagai data scientist. Selebihnya 82 persen data scientist adalah kaum pria sementara jumlah wanita di dalamnya mungkin hanya ribuan. Bias gender juga berlaku di sektor cybersecurity, programmer dan developer.
Saenz adalah wanita perkasa di ruang cyber. Ia pernah memimpin tim analisis dan pengolahan data, ia adalah pemandu tim ilmuwan data, seorang insinyur DevOps, dan seorang pemburu di dalam dunia cyberthreat. Ia juga pernah memimpin project membuat, mengintegrasikan, dan menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam sebuah operasi khusus dunia Maya.
Di luar pekerjaannya, Saenz mendedikasikan dirinya untuk memberdayakan perempuan dalam sains, teknologi, teknik, dan matematika (science, technology, engineering, and mathematics/STEM).
Dia adalah pendiri dan CEO Girl Refugees in Tech Training (GRIT), organisasi nirlaba yang mempromosikan inklusi, kemandirian, dan komunitas yang kuat dengan menyediakan pelatihan sertifikasi bagi wanita di bidang STEM.
"Dari kecil saya selalu tertarik kepada hal-hal yang berbau teka-teki, terutama yang masih samar dan kriptografi. Jika saya temukan permainan logika dan bermain nalar, saya akan mengerjakannya. Tanpa terasa waktu akan berlalu," kata Saenz dilansir Clearance Jobs, Selasa (29 Oktober 2019).
Saenz adalah mantan anggota Angkatan Laut Amerika Serikat yang pernah berdinas selama 10 tahun. Di profil Linkedin-nya, ia mencantumkan pekerjaan sebagai Lead Associate Cyber Operations Intelligence Analyst di Booz Allen Hamilton, sebuah perusahaan konsultan, analytics, dan solusi digital yang bermarkas di Washington DC.
"Dinas di AL memberikan saya banyak kesempatan untuk belajar tentang teknologi revolusioner yang sangat saya sukai. Tidak pernah terasa seperti pekerjaan bagi saya. Saya mengabdikan diri untuk memahami dunia ini dan memberikan solusi bagi dunia nyata dan dunia Maya," ujarnya.
Budaya Kolaborasi
Bekerja di Booz Allen membuat Saenz mendapatkan tantangan baru bagi dirinya. Ia harus berkolaborasi dengan banyak orang, banyak pihak dengan beragam karakter. Ia merasa tertantang untuk menciptakan inovasi baru hingga kemampuan kelas dunia untuk war fighter cyber AS.
Wanita, kata dia, memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dibandingkan kaum pria. Jika selama ini banyak yang menganggap kaum wanita itu berpikir dengan perasaan, emosional dan memiliki empati tinggi, maka itulah kelebihan wanita di dunia cyber dan data scientist.
"Percayalah pada intuisi Anda (sebagai wanita) dan tunjukkan kemampuan yang mungkin tidak dilihat orang lain," ujarnya.
Ketika seorang wanita memperhatikan sebuah sistem bermasalah atau tampak bingung (flustered). Apakah sistem itu sedang bekerja, berpacu atau database bermasalah saat digunakan atau sistem anda sedang dalam keadaan berbahaya. Saenz menyarankan wanita untuk berbicara ketimbang diam seribu bahasa.
"Bicaralah dan gigihlah. Ingat, Anda berada di dalam ruangan untuk memecahkan masalah. Ada alasan kenapa sebagai wanita anda ditunjuk menyelesaikan pekerjaan tertentu."
Data scientist adalah salah satu profesi yang berada dalam bidang interdisipliner dengan fokus pada teknologi informasi. Simpelnya, seorang data scientist mengumpulkan, mengolah, dan menganalisa data untuk menghasilkan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan suatu organisasi atau badan usaha.
Share: