IND | ENG
Pengguna Asia Tak Sungkan Bagi Data Pribadi Demi Kuis Online

Ilustrasi | Foto: Freepik

Pengguna Asia Tak Sungkan Bagi Data Pribadi Demi Kuis Online
Eman Sulaeman Diposting : Rabu, 02 Oktober 2019 - 18:20 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id- Hasil survei dari Kaspersky, perusahaan siber security, mengungkapkan para pengguna online di Asia Pasifik, tidak sungkan untuk membagikan informasi pribadi mereka dengan imbalan berbagai keuntungan pribadi dari media sosial.

Dalam laporan Kaspersky's Global Privacy yang dirilis tahun ini, 39,2% mengatakan mereka bersedia mengorbankan data pribadi untuk mendapatkan keselamatan tambahan seperti pemeriksaan keamanan atau pengawasan.

Dari responden, 22% mengaku mereka berbagi rincian media sosial untuk mengetahui hasil kuis yang menghibur, sementara 18,9% mengaku akan mengabaikan privasi jika mereka bisa mendapatkan sesuatu secara gratis, seperti perangkat lunak, layanan ataupun hadiah.

“Jadi, ketika kita harus menerima fakta bahwa tidak selamanya kita dapat menjamin keamanan digital dengan baik, banyak dari kita justru memilih untuk membagikan data tanpa berpikir panjang di platform online, padahal itu memiliki risiko kerugian yang besar. Sehingga banyak orang tanpa disadari justru menjadikan diri mereka target terbuka” kata  Yeo Siang Tiong, General Manager for Southeast Asia  Kaspersky melalui siaran pers, Rabu, (2 Oktober 2019).

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa lebih dari setengah (55,5%) responden di Asia Pasifik dari kelompok umur 16-24 dan 25-34 berpikir mustahil untuk memiliki privasi online yang utuh di dunia digital modern.

Mengikuti pernyataan tersebut, para responden juga mengatakan bersedia mengorbankan data pribadi mereka untuk keuntungan jangka pendek dan likes dari media sosial.

“Awalnya diisi dengan data pribadi seperti alamat, tanggal lahir dan foto agar dapat dengan mudah menemukan serta menghubungkan teman dan keluarga dalam jaringan. Kini, platform media sosial telah dilaporkan dapat memata-matai penggunanya dan menjadi tempat berkembang biaknya berbagai jenis serangan,” ujar Yeo.

Para pengguna yang disurvei dalam wilayah tersebut juga mengatakan, 53,6% dari mereka sudah mengalami pelanggaran data atau rahasia pribadi yang berhasil diakses oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab.

Pelanggaran privasi online paling tinggi terjadi untuk kelompok usia 16-24 tahun yaitu mencapai 57,1%. Para responden mengatakan karena kebocoran data ini, mereka merasa terganggu oleh spam dan iklan, serta berpikiran bahwa mereka mungkin telah melakukan hal yang memalukan atau menyinggung seseorang.

“Laporan kami jelas menunjukkan bahwa kesadaran akan keamanan data di seluruh wilayah memang meningkat. Namun sayangnya, kepuasan akan diri sendiri juga demikian dan begitu pula penyalahgunaan data,” ungkap Yeo.

Survei ini dilakukan terhadap 11.887 partisipan di 21 negara di Asia Pasifik. Dari keseluruhan responden, 3.177 berasal dari Asia Tenggara, yaitu, Indonesia dan Vietnam.

#kaspersky   #quizonline   #datapribadi   #mediasosial   #surveikaspersky   #informasipribadi   #databrach

Share:




BACA JUGA
Pemerintah Dorong Industri Pusat Data Indonesia Go Global
Dicecar Parlemen Soal Perlindungan Anak, Mark Facebook Minta Maaf
Google Penuhi Gugatan Privasi Rp77,6 Triliun Atas Pelacakan Pengguna dalam Icognito Mode
Serahkan Anugerah KIP, Wapres Soroti Kebocoran Data dan Pemerataan Layanan
Meta Digugat, Dinilai Tak Mampu Lindungi Anak dari Predator Seksual