
Presiden Direktur & CEO PT Link Net Tbk Marlo Budiman | Foto : Cyberthreat.id/Eman Sulaeman
Presiden Direktur & CEO PT Link Net Tbk Marlo Budiman | Foto : Cyberthreat.id/Eman Sulaeman
Jakarta,Cyberthreat.id-PT Link Net Tbk dengan brand First Media, pemimpin di industri penyedia TV Cable dan Fixed Broadband Cable Internet di Indonesia menjalin kemitraan dengan PT Alita Praya Mitra, perusahaan penyedia jaringan infrastruktur netral dengan lisensi Jaringan Tertutup di Indonesia.
Melalui kerjasama ini, memungkinkan First Media untuk mengakses tiang tumpu milik Alita dengan jumlah potensi tiang tumpu sebanyak 75.000 atau sekitar 4.000 km dengan jangkauan area di Jawa, Bali dan Sulawesi Utara.
Presiden Direktur & CEO PT Link Net Tbk Marlo Budiman mengatakan, kerjasama dengan Alita akan mempercepat strategi ekspansi perusahaan untuk menggelar jaringan broadband ke kota-kota yang menjadi target perusahaan.
“Manfaat kerjasama ini, time to market akan lebih cepat, dan capex akan lebih murah. Karena kalau kita mau merambah ke daerah baru, kita udah enggak usah pusing lagi," kata Marlo di Jakarta, Rabu, (2 Oktober 2019)
Skema kerjasama dengan PT Alita Praya Mitra, yaitu melalui penyewaan tiang tumpu yang akan meningkatkan kualitas layanan di wilayah Jabodetabek dan semakin mempercepat ekspansi First Media khususnya di pulau Jawa dan Bali.
“Sementara, tahun ini, kita fokus di Jawa, sampai tahun depan. Karena, kita juga ada yang namannya Java Backbone. Ada lima ring di pulau Jawa yang menghubungkan 43 kota. Dimana saat ini masih 7 kota besar di pulau Jawa. Sehingga masih 36 kota lagi yang kami belum ekspansi. Jadi kita penuhin dulu di Jawa, baru ke pulau-pulau lain,” jelas Marlo.
Marlo menambahkan, dengan adanya kerjasama ini, pihaknya juga akan terus melakukan penetrasi broadband di Tanah Air melalui jaringan fix broadband. Salah satu contoh yang dilakukan adalah dengan terus berekspansi mengembangkan jaringan home passed.
“Akhir 2018, ada 2,2 juta home passed. Per Juni 2019 ada 2,31 juta home passed. Target akhir tahun 2,45 juta home passed. Apalagi dengan adanya kerjasama ini, tentu akan mempercepat time to market,” ungkap Marlo.
Perusahaan, lanjut Marlo, juga memiliki misi yang sejalan dengan pemerintah untuk mempercepat penetrasi broadband di Indonesia. Pasalnya, saat ini, penetrasi broadband di Indonesia tergolong masih rendah dibandingkan dengan negara-negara, seperti Thailand dan Tiongkok.
“Di Indonesia, penetrasi broadband masih sekitar 12-13% saja. Beda dengan Thailand yang sudah sekitar 40-50% dan Tiongkok yang sudah mencapai 60-70%. Jadi kita mempunya misi untuk terus mempercepat penetrasi broadband di Tanah Air,” tutur Marlo.
Share: