
Huawei | Foto: The Verge
Huawei | Foto: The Verge
Helsinki, Cyberthreat.id – Pemerintah Estonia berencana membatasi penggunaan perangkat teknologi buatan Huawei Technologies.
Keputusan tersebut diambil karena perangkat yang diproduksi raksasa teknologi China itu dianggap bermasalah secara keamanan. Selain itu, Estonia telah mendapat rekomendasi dari sekutu di NATO, Amerika Serikat.
Estonia terkenal sebagai negara dengan tekonologi informasi paling maju. Generasi masyarakatnya tumbuh dengan teknologi dan digital.
Sejak Juni lalu, Menteri Perdagangan dan Teknologi Luar Negeri Estonia, Kert Kingo, telah memulai pembahasan bersama sejumlah ahli menyangkut kebijakan dan standar penggunaan teknologi di lembaga pemerintahan.
Situs berita Estonia Delfi melaporkan pada Jumat (13 September 2019), bahwa dalam pembahasan tersebut, tim ahli telah mengambil posisi yang jelas bahwa Huawei tidak diizinkan untuk menyediakan teknologi untuk jaringan 5G di Estonia.
Masalahnya bukan karena kualitas perangkat lunak dan perangkat keras Huawei, "Melainkan, perangkat ini dapat digunakan untuk tujuan politik di masa mendatang," demikian kajian tim ahli seperti dikutip dari The Seattle Times.
Di Eropa, Huawei masih terus mendapatkan perlawanan akibat propaganda AS. Sekutu AS lain yang paling getol memulai perlawanan adalah Inggris.
Berita Terkait:
Sebelumnya, Ren Zhengfei, pendiri sekaligus kepala eksekutif Huawei Technologies, mengatakan akan tetap menjual teknologi 5G-nya kepada negara-negara Barat.
Huawei, kata dia, bersedia memberikan para pembeli akses terus-menerus ke paten 5G Huawei yang ada, termasuk lisensi, kode, teknis cetak biru, dan segala informasi produksi dengan biaya satu kali.
Itu dikatakan Zhengfei saat diwawancarai The Economist pada 10 September lalu seperti dikutip dari South China Morning Post yang diakses Jumat (13 September).
Pembeli akan diizinkan untuk mengubah kode sumber perangkat lunak (software). Itu artinya baik Huawei maupun pemerintah China tidak akan memiliki kontrol terhadap infrastruktur telekomunikasi.
Berita Terkait:
Hal itu memungkinkan segala kekurangan atau apa yang dianggap sebagai backdoor (pintu belakang) bisa diatasi tanpa keterlibatan Huawei.
Backdoor adalah kode khusus di perangkat lunak yang dibuat untuk bisa dieksploitasi pihak eksternal tanpa diketahui pemakai. Ancamannya adalah pihak luar tersebut bisa mengakses data dan informasi lewat “pintu belakang” tadi.
"[Huawei] terbuka untuk berbagi teknis dan teknologi 5G kami dengan perusahaan AS sehingga mereka dapat membangun industri 5G mereka sendiri," kata Ren.
"Ini akan menciptakan situasi yang seimbang antara China, AS, dan Eropa," ia menambahkan.
Menurut Zhengfei, apa yang dilakukan Huawei tersebut semata untuk kelangsungan hidup perusahaan. "Distribusi yang kondusif adalah kelangsungan hidup Huawei," kata Ren.
Berita Terkait:
Di Eropa, Nokia dan Ericsson adalah alternatif utama untuk Huawei menjalin kerja sama mengembangkan 5G. Di Korea Selatan ada Samsung dan ZTE di China.
Huawei selama setahun terakhir menjadi pusat perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Huawei menjadi salah satu perusahaan yang paling banyak disoroti dan dijegal bisnisnya. AS menuding peralatan buatan Huawei berbahaya bagi keamanan nasional AS.
Presiden AS Donald Trump beberapa kali menganjurkan para negara sekutunya untuk menolak produk 5G dan peranti Huawei lainnya. Tudingan bahwa peralatannya dipakai untuk aksi spionase tersebut dianggap Huawei terlalu berlebihan dan perusahaan selalu membantah ada kaitannya dengan intelijen China.
Share: