
EV Wuling Almaz dipamerkan di "Indonesia Electric Motor Show 2019" di Jakarta, Rabu (4 September 2019) | Foto: Faisal Hafis
EV Wuling Almaz dipamerkan di "Indonesia Electric Motor Show 2019" di Jakarta, Rabu (4 September 2019) | Foto: Faisal Hafis
Jakarta, Cyberthreat.id - Ketua Tim Kendaraan Listrik ITB, Agus Purwadi, mengatakan cybersecurity di dalam mobil listrik bisa diterapkan jika sudah autonomous. Autonomous konsepnya driver less atau tanpa awak kemudi serta menerapkan berbagai teknologi seperti sensor light-sense radar (Lidar).
"Terdapat empat level autonomous yang terus dikembangkan hingga kini," kata Agus kepada Cyberthreat.id usai memaparkan materi di Indonesia Electric Motor Show 2019 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (4 September 2019).
Mobil listrik autonomous di masa depan tidak hanya sekedar kendaraan tapi mobile terminal. Ada sebuah sistem yang membantu pengguna dimana orang tidak perlu duduk lagi mengemudi.
Kendaraan akan terkoneksi dengan semua infrastruktur digital. Konsep V2X (vehicle to everything) mengombinasikan orang, kendaraan, jalan dan cloud. Ditambah penerapan teknologi seperti video dan peta/navigasi real-time. Sejauh ini autonomous yang paling bagus adalah level IV.
"Level IV ini driverless sehingga orang bisa melakukan apa saja di dalam mobil sementara mobil jalan ke tempat tujuan secara otomatis," kata Agus.
Level IV berbeda tipis dengan level III yang sudah diujicobakan di sejumlah negara seperti China, Eropa dan Amerika Serikat. Diantara karakter autonomous IV adalah sensor yang menjaga jarak mobil dengan kendaraan di depannya, rem otomatis atau alert ketika mengantuk hingga menjaga lalu lintas di persimpangan agar tidak macet.
"Indonesia saya rasa kalau mengembangkan autonomous masih di level II dan itu tidak bisa digunakan di Jakarta. Anda bayangkan jutaan kendaraan mobil dan motor yang berlalu lalang nanti malah bikin sensor enggak jalan," ujarnya.
Agus mengatakan Indonesia bisa mempersiapkan mobil listrik autonomous dalam program smart city yang akan dibangun Pemerintah atau ibu kota baru Indonesia yang akan berada di Kalimantan Timur dalam lima tahun ke depan.
"Untuk smart city atau untuk ibu kota baru bagus sekali," ujarnya.
Pengembangan mobil listrik yang Autonomous memang harus di dorong oleh pemerintah dan tidak ada yang di dorong oleh kegiatan komersil.
Jika Indonesia berhasil, setidaknya mengembangkan industri awal, maka banyak keahlian baru yang akan tumbuh dalam ekosistem EV ini. Artinya, infrastruktur dan regulasi memang tengah dinanti publik atau investor yang akan masuk ke Indonesia.
"Mulai dari peralatan hingga SDM karena di luar itu pengembangan EV ini harus konsorsium antara Akademisi - Bisnis - Government/Pemerintah atau ABG," ujarnya.
Share: