
Ilustrasi
Ilustrasi
Jakarta, Cyberthreat.id - PMO Pindad Advance System/Cyber, Budi Tjandra Negara, mengatakan Indonesia sudah saatnya berada di Poros Tengah dalam hal persaingan teknologi siber.
Poros Tengah, kata dia, bisa muncul dari dua kutub teknologi dunia yang kini sedang menjalani perang teknologi hingga perang ekonomi yakni Amerika Serikat (AS) kontra China.
"Nah, yang paling heboh kini adalah antara Huawei China dan AS sehingga Indonesia tidak harus condong ke salah satunya," kata Budi Tjandra Negara kepada Cyberthreat.id, Minggu (29 Juli 2019).
Posisi netral di tengah akan menguntungkan Indonesia ke depan. Menurut Budi, penggunaan aplikasi berbasis teknologi Barat disertai equipment cyber sudah merajalela.
Sedangkan China yang tengah getol mengembangkan dan berinvestasi besar-besaran di teknologi 5G beserta perangkatnya terus mengalami kemajuan.
"Dengan kondisi itu kita berharap suatu saat nanti Indonesia mampu bangkit dengan teknologi Poros Tengah itu. Mungkin saja industri pertahanan yang akan menjadi leading sector dalam pengembangannya."
Budi mengingatkan pentingnya penguasaan teknologi siber yang sudah merasuk ke segala sendi kehidupan manusia. Khususnya sistem pertahanan negara-negara maju yang sudah mengarah kepada riset dan pengembangan siber.
"Sekarang kan sistem pertahanan dunia itu sudah ke cyber semua," ujar dia.
Baca: Waka BSSN: Indonesia Butuh Industri ICT Nasional
Baca: Indonesia di Awal Membangun Pondasi Ruang Cyber
Baca: Soal 5G, Chief RA: Kami di Datangi Kedua Pihak
Perang ekonomi dan perang teknologi antara AS dan China akan berdampak negatif terhadap Indonesia jika tidak mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Jika AS yang kalah tentu Indonesia harus memiliki ancang-ancang seperti apa. Sebaliknya jika China yang kalah tentu akan memiliki dampak seperti apa buat Indonesia.
Kepala BSSN Letjen (Purn) Hinsa Siburian pernah mengatakan Indonesia sedang berada dalam fase awal membangun pondasi ruang siber nasional. Indonesia, kata dia, jangan sampai salah langkah dan salah mengambil keputusan yang bisa berpengaruh di masa yang akan datang.
"Kalau salah bangun pondasi, maka kita akan menghadapi banyak kesulitan dan tidak efisien ke depan," kata Hinsa Siburian di Gedung BSSN, Ragunan, Jakarta 17 Juli 2019.
Direktur Deteksi Ancaman BSSN, Sulistyo, menerjemahkan ucapan penggunaan teknologi siber Indonesia sebagai "teknologi netral". Konsepnya, kata dia, Indonesia tidak bergantung atau berpihak kepada teknologi negara tertentu.
Share: