IND | ENG
Jaringan Kabel Bawah Laut Putus, Layanan First Media Terganggu

Ilustrasi via CIO East Africa

Jaringan Kabel Bawah Laut Putus, Layanan First Media Terganggu
Oktarina Paramitha Sandy Diposting : Senin, 05 April 2021 - 21:33 WIB

Cyberthreat.id – Sistem Kabel Bawah Laut Jakabare (Jakarta – Kalimantan – Batam – Singapura) putus, layanan First Media mengalami gangguan.

Melalui akun Twitternya, First Media mengungkapkan  saat ini pihaknya bersama dengan beberapa penyedia layanan internet mengalami gangguan karena putusnya sistem kabel bawah laut Laut B2JS (Jakarta – Bangka – Batam – Singapura) dan Jakabare (Jakarta – Kalimantan – Batam – Singapura) terputus.

“Kami informasikan bahwa saat ini sedang terjadi gangguan sistem komunikasi kabel bawah laut (kabel B2JS dan kabel Jakabare) yang digunakan oleh LinkNet dan juga oleh beberapa provider internet lainnya,” ungkap First Media, Senin (5 April 2021).

First Media mengatakan, akibat masalah ini semua penyedia layanan internet yang menggunakan sistem kabel bawah laut tersebut mengalami gangguan berupa menurunnya kecepatan internet khususnya ketika mengakses situs yang dihosting dari luar negeri.

Saat ini, tim First Media sedang mengupayakan pemulihan layanan untuk seluruh pelanggan dan diharapkan pemulihan dapat diselesaikan secepat mungkin.

“Saat ini, tim First Media sedang mengupayakan untuk pemulihan layanan untuk seluruh pelanggan dan diharapkan pemulihan dapat selesai dalam waktu 1x24 jam atau maksimal besok jam 12.00 WIB.”

SKKL Jakabare atau Sistem Komunikasi Kabel Laut adalah sistem kabel laut yang panjangnya lebih dari 1.300 kilometer. Dimiliki oleh Indosat, sistem ini memiliki empat titik pendaratan di masing-masing pulau antara lain Tanjung Pakis (Karawang, Jawa Barat), Sungai Kakap (Pontianak, Kalimantan Barat), Tanjung Bemban (Batam), dan Changi (Singapura).  

Dikutip dari Kumparan (https://kumparan.com/kumparantech/kabel-laut-jakarta-singapura-indosat-putus-ternyata-ini-penyebabnya-1vUjHhdcMUm/full), SVP Corporate Communication Indosat Ooredoo, Steve Saerang, mengungkapkan bahwa gangguan dan putusnya kabel optik tersebut karena adanya tanah yang amblas (Sinkhole) di area daratan Singapura.

Namun, putusnya sistem fiber optik tersebut tidak berdampak pada layanan internet untuk jaringan seluler. Hal itu karena adanya sistem jaringan cadangan (redundancy) untuk semua traffic backbone internasional.

“Secara umum tidak ada dampak dari putusnya SKKL Jakabare tersebut karena Indosat menerapkan sistem redudancy untuk semua traffic backbone internasional sehingga tidak ada dampak langsung terhadap pelanggan selular,” ungkap Steve melalui keterangan persnya.

Sebelumnya, pada bulan Februari 2021 lalu, jaringan fiber optik Jakarta-Singapura putus, dan mengakibatkan gangguan pada traffic internasional. Sistem kabel yang terdampak dari putusnya fiber optik ini adalah sistem Jakarta-Bangka-Bintan-Singapura (B2JS) milik PT Ketrosden Triasmitra. Kabel yang terputus itu berada di segmen Ancol-Bangka. (Lihat: Kabel Serat Optik Jakarta-Singapura Terputus, Trafik Internasional Terganggu).

Kabel B2JS adalah sistem kabel bawah laut berkecepatan tinggi dengan 24 inti yang menghubungkan Jakarta-Bangka-Batam-Singapura. Sistem kabel ini mencakup lebih dari 1.000 kilometer total panjang kabel yang terdiri dari kapal selam dan darat dengan kapasitas hingga 380 Gbps.

Putusnya jaringan fiber optik Jakarta-Singapura mengakibatkan hampir semua traffic internasional mengalami performa yang turun. Namun, tidak disebutkan perusahaann telekomunikasi mana saja yang terkena dampak putusnya fiber optik ini.[]

#kabelbawahlaut   #seratoptik   #kabeloptik   #firstmedia

Share:




BACA JUGA
Tingkatkan Bandwidth, RI Investasi Kabel Bawah Laut yang Terhubung ke AS
Dirut Telkom Beberkan Kendala Pemulihan Putusnya Kabel Serat Optik di Papua
Putusnya Kabel Serat Optik Biak-Jayapura, Menkominfo Tegaskan Gangguan hanya Terjadi di Empat Wilayah
Layanan Internet di Jayapura Kembali Pulih
Kabel Serat Optik Bawah Laut Ruas Biak-Jayapura Terputus, Target Pemulihan Juni Mendatang