
Juru Bicara Presiden RI Joko Widodo, Fadjroel Rachman. | Foto: Arsip Setkab.go.id
Juru Bicara Presiden RI Joko Widodo, Fadjroel Rachman. | Foto: Arsip Setkab.go.id
Cyberthreat.id – Juru Bicara Presiden RI Joko Widodo, Fadjroel Rachman, mengimbau supaya pengguna internet bisa bermedia sosial secara waras di tengah fenomena para pendengung (buzzer). Ia mengingatkan kembali kasus Saracen yang pernah terjadi beberapa tahun lalu.
Tampil bersama Mardani Ali Sera (Ketua DPP PKS) dan Zulfikar Akbar (Editor Cyberthreat.id) di program Kata Netizen bertajuk bertajuk "Lagi-lagi Buzzer" di Kompas TV, Kamis (18 Februari 2021), Fadjroel mengangkat soal Saracen lagi karena menilai hal itu sebagai momok di dunia buzzer yang pernah sangat menghebohkan.
Saracen adalah sekelompok orang menerima bayaran dan sengaja menyebarkan isu berbau SARA. Salah satu pentolannya bernama Jasriadi yang pada 2018 divonis 10 bulan penjara.
Kasus Saracen tersebut, menurut Fadjroel, yang membuat citra buzzer akhirnya divonis negatif.
"Orang-orang di balik Saracen sudah ditangkap jauh-jauh hari, karena fitnah dan kejahatan lain dilakukan mereka," katanya.
"Sekarang, tinggal mencari, apakah ada partai politik tertentu di balik Saracen? Saya tidak tahu, apakah PKS menggunakam buzzer atau tidak?"
Mardani Ali Sera langsung merespons pernyataan tersebut."Kami tidak menggunakan buzzer. Akun-akun kami jelas, orang-orangnya jelas, identitasnya jelas," Mardani menegaskan.
Di sisi lain, Fadjroel juga mengklaim tidak benar adanya anggapan bahwa pemerintah menggunakan buzzer.
"Sebab pemerintah punya lembaga resmi. Ada humas," kata Fadjroel.
"Kalaupun ada [buzzer], itu di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dibuka untuk publik, dan hanya untuk kebutuhan kampanye pariwisata," Fadjroel menegaskan.
Fadjroel juga sepakat dengan rencana penertiban buzzer, termasuk aturan hukum yang mengaturnya. "Di luar itu, jika ada yang dirasa mengganggu, saya, misalnya, tinggal saya blok [akun medsosnya]," kata Fadjroel yan mengaku sering mendapat serangan di medsos.
"Biasanya dari akun-akun tidak jelas, username mereka pun biasanya diikuti dengan angka. Jangankan akun saya, akun presiden pun sering diserang oleh akun-akun tidak jelas," Fadjroel membeberkan.
Artinya, menurut dia, dibutuhkan kewarasan dalam bermedia sosial. "Saya setuju dengan Pak Zulfikar tadi, bahwa sekarang kita membutuhkan kewarasan dalam bermedia sosial," tutu dia.
Sebelumnya Zulfikar Akbar mengimbau supaya publik juga tidak kalah "smart" dibandingkan smartphone yang kini sudah dimiliki oleh 98 persen dari penduduk Indonesia.[]
Share: