IND | ENG
Corona Mengancam, Hoaks Menikam

Gbr: Kemkominfo

Corona Mengancam, Hoaks Menikam
Zulfikar Akbar Diposting : Jumat, 03 April 2020 - 12:14 WIB

HAMPIR setiap kali ada peristiwa besar, hampir selalu ada saja hoaks bermunculan. Jika belum lama ini hoaks ramai karena tahun politik, terkini hoaks merebak karena wabah Corona.

Di antara kasus sangat mencolok, setidaknya jika menyimak apa yang terjadi di media sosial, ketika ada salah satu figur publik mengklaim bahwa setiap hari selalu ada dokter yang mati.

Sontak pernyataan itu memantik perhatian publik, memunculkan perdebatan sengit, hingga narasi-narasi yang justru membuat banyak orang semakin merasa hopeless. Ya, ada aroma putus asa bermunculan. 

Ironisnya adalah figur publik ini sendiri telanjur dikenal (atau memperkenalkan diri) sebagai seorang dokter, dan bahkan sebagai sosok yang sangat pantas jadi rujukan bahkan ketika berbicara pandemi sekelas Corona.

Meski begitu, ada yang patut disyukuri, oknum aktivis ini sendiri belakangan memberikan klarifikasi bahwa pernyataan sebelumnya bahwa ada dokter yang mati setiap hari itu tidak benar. Walaupun, tentu saja, klarifikasi ini sendiri tak lantas membuat narasi negatif yang bisa dibilang "merusak" dapat terbendung.

Terlebih tak sedikit pula yang menjadikan pernyataan itu sebagai referensi, sebagai acuan, hingga menjadi amunisi untuk saling menyerang. Terutama, tentu saja, di media sosial.

Pemandangan begini jauh-jauh hari sudah menjadi sorotan kalangan ahli. Sebut saja pengamatan Mary Aiken yang dituangkan ke dalam buku Cyber Effect Psychology (2016), yang menyebutkan--dengan bahasa sederhana--bahwa tren online memang cenderung altruistik. Inilah yang membuat seseorang dapat terlihat tidak seperti sebenarnya, lantaran di sana mereka bisa menciitrakan diri sebagai dermawan atau sosok paling peduli.

Di sinilah, menurut saya, kemudian simpati publik muncul atas sosok tertentu, dan ia dipahlawankan, hingga hal tidak benar yang dilakukannya bisa dicitrakan menjadi benar. Di sini juga sebuah hoaks akhirnya justru riskan dianggap wajar, dan ini tentu saja membahayakan; tidak saja pikiran masyarakat luas, melainkan juga dalam hal perilaku. 

Mengutip Aiken lagi, efek siber tersebut memang bikin banyak orang terlalu gampang untuk percaya kepada orang-orang yang mereka kenal di dunia online. Salah satu buktinya, informasi bersifat pribadi pun dengan gampang diberikan kepada orang yang mereka percaya, terlepas antara kedua orang tersebut tidak pernah bertatap muka secara langsung.

Lebih parahnya lagi, kondisi itu bikin orang cenderung semakin meremehkan persoalan keamanan. Mereka cenderung merasa aman-aman saja ketika satu sama lain berkomunikasi di dunia maya. Tak heran jika sebuah informasi hoaks pun dapat tersebar lebih gampang.

Terbukti, menurut data Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), per Kamis 2 Maret 2020, sudah ada 70 kasus hoaks yang mereka tangani. Tercatat, Polda Jawa Timur sudah menangani 11 kasus, disusul Polda Metro Jaya 10 kasus, selain juga di Bareskrim, Jawa Barat, dan Lampung yang masing-masing menangani 5 kasus.

Tentu saja, upaya Polri dalam memberangus hoaks tersebut sangat dibutuhkan, walaupun jika memantau perkembangan di media sosial ada banyak lagi yang luput lantaran cepatnya sebuah hoaks berkembang hingga viral.

Mencoba memetakan perkembangan hoaks ini, menurut saya, sebagian terjadi karena ketidaksengajaan, dan tak sedikit juga yang muncul karena kesengajaan.

Namun tidak sengaja tak lantas bisa dibenarkan. Sebab, ketidaksengajaan tetap saja  dapat membawa dampak tidak sederhana. Entah publik dibuat semakin gaduh, ketakutan semakin merebak, dan terparah justru mengganggu kerja pemerintah dan banyak pihak yang sedang membutuhkan fokus untuk menangani wabah Corona.

Sedangkan hoaks yang sengaja, bisa saja membawa dampak buruk yang lebih buruk daripada yang bisa kita duga. Sebab kesengajaan begini ada kemungkinan berangkat dari tujuan yang cuma diketahui oleh penebar hoaks tersebut.

Terlepas kesengajaan atau ketidaksengajaan itu, tentu saja, hoaks tersebut tetap saja mesti ditentang keras dan perlu dilawan. Terutama dari kalangan pers, diperkuat dengan kehadiran tanda pagar (tagar) #MediaLawanCovid19, bisa menjadi jalan untuk membendung hoaks yang meresahkan publik. 

Terlebih lagi, di tengah semakin banyaknya sumber informasi, tetap saja media-media terpercaya mesti turut andil agar publik tidak terperangkap dalam informasi yang menyesatkan. Sebab, hal ini dapat saja membuat misi bersama untuk melawan Corona tersebut terjegal oleh hoaks dan sejenisnya.

Jika itu terbiarkan, alih-alih bisa membuat pandemik yang sedang mengancam ini berkurang, justru membesar dan semakin besar, karena publik menjadi semakin skeptis, siapa lagi yang mesti mereka percaya.

Apalagi bukan rahasia, di tengah isu yang mendunia seperti Corona, ada banyak pihak yang lebih mementingkan "mencuri panggung" alih-alih kembali ke posisi masing-masing dan berbuat dengan kapasitas masing-masing. Jika ini semakin ngetren tentu saja usaha melawan Corona dapat saja semakin menyulitkan.

Jadi, perlawanan terhadap hoaks di tengah wabah Corona ini pun saya kira menjadi sebuah sumbangsih sangat penting.[] 

#Viral   #Corona   #Covid19   #MediaLawanCovid19   #Kemkominfo   #LawanHoaks

Share:

BACA JUGA
New Normal, Cara Berdakwah Pun Berubah
Dirjen Aptika: Situasi New Normal, Karyawan dan Staf Dibekali Perangkat Mobile
Aplikasi Covid-19 Dakota Utara Ketahuan Kirim Data ke Pihak Ketiga
SILATURAHMI ONLINE
Pengalaman Mereka Usai Berlebaran Virtual
New Normal, Kesiapan SDM dan Ancaman yang Menyertai