
Unggahan Telegram di Twitter menyindir 'kematian' WhatsApp
Unggahan Telegram di Twitter menyindir 'kematian' WhatsApp
Cyberthreat.id - Aplikasi Telegram tampaknya benar-benar memanfaatkan momentum kekecewaan pengguna WhatsApp setelah aplikasi itu memaksa pengguna menyetujui datanya dibagikan ke Facebook. Jika tidak setuju, mereka diminta menghapus akun WhatsApp-nya.
Pengguna WhatsApp yang kecewa lantas beralih ke aplikasi lain semacam Signal dan Telegram yang dinilai lebih menghargai data pribadi penggunanya.
Berdasarkan situs App Annie yang membuat peringkat aplikasi berdasarkan jumlah unduhan, aplikasi Signal menduduki peringkat pertama di sejumlah negara untuk katagori aplikasi gratis, termasuk di Amerika Serikat, Prancis, dan Jerman. Sementara Telegram menyusul di bawahnya. Sementara di Indonesia, data Google Play Store menunjukkan Telegram menjadi aplikasi gratis paling banyak diunduh hari ini.
Tak berhenti di situ, Telegram dalam sejumlah cuitan di Twitter menyindir WhatsApp. Salah satunya adalah dengan menguggah sebuah video pendek berisi orang-orang membawa peti mati yang bertulisan "Agree/Setuju" dalam warna hijau. Gampang ditebak, video itu merujuk kepada tindakan WhatsApp yang memaksa pengguna untuk menyetujui datanya dibagikan ke Facebook, lalu berujung pada "kematian".
Dalam unggahan yang lain, saat merespon sejumlah komentar yang masuk, Telegram mengunggah gambar untuk uninstall WhatsApp.
Para pengguna Twitter yang mendukung Telegram meresponnya dengan mengunggah meme yang menyindir WhatsApp seperti terlihat dalam tangkapan layar di bawah ini.
Pendiri sekaligus CEO Telegram Pavel Durov turut meramaikan momentum itu. Durov yang dikenal sering mengkritik WhatsApp, kali ini membuat sebuah unggahan khusus di channel Telegramnya, membahas soal WhatsApp dan Facebook.
"Jutaan orang marah dengan perubahan terbaru dalam Persyaratan WhatsApp, yang sekarang mengatakan pengguna harus memasukkan semua data pribadi mereka ke mesin iklan Facebook . Tidak mengherankan jika perpindahan pengguna dari WhatsApp ke Telegram, yang sudah berlangsung beberapa tahun, semakin cepat," kata Durov.
Durov mengklaim mendengar Facebook memiliki departemen khusus untuk mencari tahu mengapa Telegram begitu populer.
"Bayangkan lusinan karyawan yang bekerja penuh waktu itu saja. Saya dengan senang hati menghemat Facebook puluhan juta dolar dan memberikan rahasia kami secara gratis: hormati pengguna Anda," ujarnya.
Durov menambahkan, dengan sekitar 500 juta pengguna dan terus berkembang, Telegram telah menjadi masalah utama bagi perusahaan Facebook. Tidak dapat bersaing dengan Telegram dalam kualitas dan privasi.
Selain itu, Durov mengklaim telah mendeteksi bot yang menyebarkan informasi tidak akurat tentang Telegram di media sosial. Setidaknya, kata dia, ada 3 mitos yang dimunculkan.
Pertama, kata Durov, disebutkan kode Telegram bukan open source sehingga tidak bisa diaudit publik. Faktanya, kata dia, semua aplikasi klien Telegram telah menjadi open source sejak 2013.
"Enkripsi dan API kami didokumentasikan sepenuhnya dan telah ditinjau oleh pakar keamanan ribuan kali. Selain itu, Telegram adalah satu-satunya aplikasi perpesanan di dunia yang memiliki build yang dapat diverifikasi baik untuk iOS dan Android. Adapun WhatsApp, mereka sengaja mengaburkan kode mereka, sehingga tidak mungkin untuk memverifikasi enkripsi dan privasi mereka," ujarnya.
Mitos kedua, kata Durov, Telegram adalah bahasa Rusia. Faktanya, kata Dorov, Telegram tidak memiliki server atau kantor di Rusia dan diblokir di sana dari 2018 hingga 2020.
"Telegram masih diblokir di beberapa negara otoriter seperti Iran, sementara WhatsApp dan aplikasi "yang seharusnya aman" tidak pernah mengalami masalah di tempat-tempat ini," tambah Durov.
Sedangkan mitos ketiga, dikembangkan isu Telegram tidak dienkripsi. Padahal, kata Durov, setiap obrolan di Telegram telah dienkripsi sejak diluncurkan.
"Kami memiliki Obrolan Rahasia yang ujung-ke-ujung dan Obrolan Awan (Cloud) yang juga menawarkan penyimpanan awan yang aman dan terdistribusi secara waktu nyata.
"WhatsApp, di sisi lain, tidak memiliki enkripsi selama beberapa tahun, dan kemudian mengadopsi protokol enkripsi yang didanai oleh Pemerintah AS. Meskipun kami berasumsi bahwa enkripsi WhatsApp solid, itu tidak valid melalui beberapa pintu belakang dan bergantung pada cadangan," tambahnya.
Sejauh ini, belum ada respon dari WhatsApp terkait pernyataan Pervel Durov itu.[]
Share: