
Unggahan Signal di Twitter yang memperlihatkan lonjakan unduhannya mengungguli WhatsApp
Unggahan Signal di Twitter yang memperlihatkan lonjakan unduhannya mengungguli WhatsApp
Cyberhtreat.id - Kebijakan WhatsApp yang memaksa pengguna menyetujui datanya dibagikan ke Facebook tampaknya menjadi momentum bagi aplikasi perpesanan sejenis yang diyakini lebih menghargai data pribadi penggunanya yakni Signal.
Sehari setelah WhatsApp mengultimatum pengguna untuk menyetujui datanya dibagikan atau tidak bisa menggunakannya lagi, Signal menemukan banyak pendaftar baru. Bahkan, lantaran pendaftaran massal dalam waktu bersamaan, Signal sempat mengalami gangguan dalam proses pengiriman kode verifikasi yang dibutuhkan saat seseorang membuat akun Signal.
Melalui laman twitter resminya, Signal mengatakan, penundaan ini terjadi karena layanan verifikasi kewalahan menghadapi lonjakan pengguna yang beralih ke Signal.
"Kode verifikasi saat ini tertunda di beberapa penyedia karena begitu banyak orang baru yang mencoba untuk bergabung dengan Signal sekarang," ungkap Signal dalam sebuah cuitan di Twitter, Jumat (8 Januari 2021).
Untuk menyelesaikan masalah verifikasi ini Signal bekerjasama dengan pihak operator agar kode verifikasi bisa dikirimkan dengan cepat.
Signal menegaskan, saat ini pengguna di seluruh dunia, khususnya Eropa sudah bisa mendaftar tanpa perlu mengalami penggunaan verifikasi Signal. Bahkan, Signal juga menambahkan lebih banyak kapasitas untuk mengikuti semua orang baru yang mencari teman mereka di Signal.
"Setiap orang dapat mendaftar tanpa penundaan lagi," tulis Signal.
Keterlambatan pengiriman kode verifikasi ini kemarin juga terjadi di Indonesia. Cyberthreat.id yang mencoba mendaftar di aplikasi itu, baru mendapatkan kode verifikasinya satu jam kemudian.
Salah satu yang merekomendasikan pengguna untuk beralih menggunakan Signal, adalah CEO Tesla, Elon Musk. Musk merekomendasikan Signal, karena Signal dikenal memiliki kelebihan dalam hal keamanan dan berbagai kelebihan yang tidak dimiliki aplikasi lain. Mulai dari enkripsi end to end, kecepatan pengiriman pesan, dikembangkan oleh organisasi nirlaba independen.
Tak hanya Elon Musk, Editor TechCrunch, Mike Butcher, mengungkapkan alternatif aplikasi lain yang bisa digunakan pengguna adalah Signal dan Telegram. Dua aplikasi ini dianggap mengutamakan melindungi privasi pengguna.
"WhatsApp akan membagikan informasi pribadi penggunanya, termasuk nomor telepon, alamat IP, kontak, & lainnya dengan Facebook mulai 8 Februari, menurut S&K baru. Tidak ada pilihan untuk keluar. Satu-satunya cara untuk menolak adalah meninggalkan layanan & pindah ke layanan seperti Signal atau Telegram," ungkap Butcher melalui aku Twitter-nya @mikebutcher, Kamis (7 Januari 2020).
Dalam unggahan terbarunya, Signal mengunggah lonjakan unduhan itu mengungguli WhatsApp sepanjang hari kemarin. Itu terjadi antara lain di Jerman, India, Prancis, Hong Kong, Swiss, Finlandia, dan Austria.
"Lihat apa yang telah Anda lakukan," tulis Signal sembari melampirkan tangkapan layar yang memperlihatkan aplikasi itu berada di urutan teratas dalam daftar aplikasi gratis yang paling banyak diunduh sepanjang hari kemarin di India, Jerman dan sejumlah negara lain.
Signal sendiri adalah aplikasi perpesanan yang mengutamakan privasi. Salah satu dedengkotnya adalah Brian Acton, pendiri WhatsApp yang memilih meninggalkan perusahaan itu setelah menjualnya ke Facebook. Kabarnya, Acton angkat kaki dari WhatsApp lantaran tidak setuju dengan rencana Mark Zuckerberg memonetisasi WhatsApp. Pada 2018, bersama Moxie Marlinspike, Acton mendirikan Signal Technology Foundation dengan misi untuk "membangun teknologi yang mengutamakann privasi berbasis sumber terbuka (open source) untuk melindungi kebebasan berekspresi dan sarana komunikasi yang aman secara global." []
Editor: Yuswardi A. Suud
Share: