IND | ENG
Ransomware Meningkat, Perusahaan Asuransi Siber Kewalahan

Ilustrasi | Foto: freepik.com

Ransomware Meningkat, Perusahaan Asuransi Siber Kewalahan
Andi Nugroho Diposting : Kamis, 17 Desember 2020 - 09:28 WIB

Cyberthreat.id – Perusahaan asuransi siber mulai kedodoran menanggung biaya yang dikeluarkan kliennya yang menjadi korban serangan ransomware.

Meningkatnya ransomware dan biaya yang dikeluarkan pada tahun ini memaksa perusahaan asuransi mulai selektif dan mengurangi proteksi yang ditawarkan atas kejahatan siber.

“Total biaya pembayaran tebusan meningkat dua kali lipat selama enam bulan pertama 2020 (perbandingan periode sama dari tahun ke tahun),” tutur perusahaan asuransi terkemuka asal Inggris, Beazley Plc, seperti dikutip dari Reuters, diakses Kamis (17 Desember 2020).

Serangan ransomware terjadi karena komputer terinfeksi perangkat lunak jahat (malware), sering kali diunduh dengan mengklik tautan yang tampaknya sah di email atau pop-up situs web lain. Akibatnya, pengguna terkunci dari sistem komputer dan diminta membayar uang tebusan jika fungsi komputer ingin pulih kembali atau data-data yang terkunci bisa diakses kembali.

Tren peretas ransomware saat ini sebelum mengunci sistem komputer, mereka mencuri data korban, lalu mengancam akan mempublikasikan ke publik jika uang tebusan tidak dibayarkan segera. Biasanya permintaan uang tebusan dalam bentuk bitcoin atau mata uang kripto lain.

Kepala Dunia Maya dan Teknologi Global Beazley, Paul Bantick, mengatakan penyerang ransomware saat ini meminta lebih banyak uang dibandingkan kasus di masa lalu dan juga menjadi lebih kreatif dalam cara mereka memeras uang.

Ia mencontohkan bagaimana peretas menggunakan isu terkini, seperti virus corona untuk menargetkan sebuah organisasi. Peretas bisa saja berpura-pura mengirimkan informasi tentang seseorang yang dinyatakan positif Covid-19.

“Mengingat apa yang terjadi di dunia saat ini, orang-orang (kemungkinan menjadi penasaran dan, red) mengklik email buruk tersebut,” katanya.

Sayangnya, Beazley tidak merinci insiden siber yang ditangani. Hanya, mereka menyebutkan pernah menangani sebuah grup otomotif yang terkena ransomware dan peretas memerasnya hampir US$ 500.000.

Para penyerang memberikan bukti bahwa mereka telah mengekstraksi data karyawan dan, setelah negosiasi yang dipimpin oleh perusahaan asuransi, uang tebusan sebesar US$ 50.000 akhirnya dibayarkan, menurut laporan itu.

Kenaikan insiden semacam itu telah menyebabkan lonjakan tarif asuransi dunia maya, kata Beazley. Di satu sisi, perusahaan asuransi juga mewaspadai kerugian.

Apalagi premi tinggi juga mengakibatkan bisnis yang lebih kecil, yang sudah terpukul oleh pandemi Covid-19, sangat merasakan kesulitan.

Beberapa pelaku industri mengatakan kepada Reuters bahwa banyak perusahaan kecil menghentikan asuransi siber sepenuhnya tahun ini karena tekanan biaya akibat krisis virus corona hingga kenaikan premi.[]

#ransomware   #serangnsiber   #asuransisiber   #keamanansiber   #malware

Share:




BACA JUGA
Seni Menjaga Identitas Non-Manusia
Awas, Serangan Phishing Baru Kirimkan Keylogger yang Disamarkan sebagai Bank Payment Notice
Malware Manfaatkan Plugin WordPress Popup Builder untuk Menginfeksi 3.900+ Situs
CHAVECLOAK, Trojan Perbankan Terbaru
Indonesia Dorong Terapkan Tata Kelola AI yang Adil dan Inklusif