IND | ENG
Buntut Kasus Muslim Pro, Apple dan Google Ancam Tendang Aplikasi yang Sematkan Pelacak Lokasi dari X-Mode

Ilustrasi via newsbeezer.com

Buntut Kasus Muslim Pro, Apple dan Google Ancam Tendang Aplikasi yang Sematkan Pelacak Lokasi dari X-Mode
Yuswardi A. Suud Diposting : Kamis, 10 Desember 2020 - 15:51 WIB

Cyberthreat.id - Menyusul terungkapnya penjualan data lokasi pengguna aplikasi Muslim Pro ke militer Amerika Serikat oleh pialang data X-Mode,  Apple dan Google telah meminta pengembang aplikasi untuk menghapus kode pelacakan lokasi ponsel dari X-Mode yang dibenamkan di aplikasi mereka.

Seperti diberitakan The Wall Street Journal, Rabu (9 Desember 2020), Apple dan Google, dalam kapasitas sebagai pemilik App Store (toko aplikasi untuk iPhone) dan Google Play Store (toko aplikasi Android)m mengancam akan menendang keluar aplikasi apa pun jika tidak mematuhi permintaan itu.

Apple dan Google mengungkapkan keputusan mereka untuk melarang X-Mode kepada penyelidik yang bekerja untuk Senator Ron Wyden yang telah melakukan penyelidikan atas penjualan data lokasi kepada entitas pemerintah.

Dalam pernyataan yang diberikan oleh juru bicara, Google mengatakan pengembang memiliki tujuh hari untuk menghapus kode pelacakan dari X-Mode atau menghadapi larangan dari Google Play Store. Beberapa pengembang dapat meminta perpanjangan waktu hingga 30 hari..

Sementara perwakilan Apple mengonfirmasi bahwa perusahaan telah memberi tahu pengembang bahwa mereka memiliki waktu dua minggu untuk menghapus pelacak X-Mode.

X-Mode memantik kontroversi setelah terungkap menjual data lokasi pengguna sejumlah aplikasi, termasuk aplikasi Muslim Pro, kepada militer Amerika Serikat.

Amatan Cyberthreat.id, di situs webnya X-Mode yang berbasis di Virginia  mengatakan perusahaan itu berfokus pada data lokasi. Perusahaan menawarkan kepada pengembang aplikasi untuk bekerja sama. Caranya, bagi yang setuju bekerja sama, X-Mode akan memberikan semacam kode XDK untuk dibenamkan di aplikasi milik mitra. Dengan begitu, data lokasi pengguna aplikasi tersebut dapat diteruskan ke X-Mode.

Untuk itu, X-Mode menawarkan pemasukan yang lumayan. Makin banyak pengguna sebuah aplikasi, makin besar pula yang yang diterima oleh pemilik aplikasi. X-Mode membayar lebih besar untuk pengguna di Amerika Serikat.

Jika sebuah aplikasi memiliki 1 juta pengguna di Amerika Serikat, maka X-Mode akan membayar US30 ribu atau setara Rp425 juta. Sedangkan untuk 1 juta pengguna global, bayarannya sebesar US$3 ribu atau setara Rp42,5 juta.


Tawaran kerja sama penjualan data lokasi pengguna aplikasi dari X-Mode di situs webnya.

Menanggapi pertanyaan dari Journal, X-Mode mengatakan sedang mengevaluasi kembali pekerjaan pemerintahnya dan kontraknya mencegah siapa pun untuk menautkan perangkat ke informasi pribadi seperti nama, alamat atau alamat email.

Meski begitu, menurut X-Mode, beberapa pengembang aplikasi yang bekerja sama dengan mereka telah memberi tahu perusahaan mereka berencana meminta Apple untuk mempertimbangkan kembali keputusan itu.

Penyelidik yang bekerja untuk Senator Wyden telah menyelidiki pasar data komersial setelah terungkap bahwa data semacam itu dibeli oleh entitas pemerintah AS untuk pengawasan dan penegakan hukum. Dia mengatakan dirinya sedang menyusun undang-undang untuk melarang praktik tersebut.

"Orang Amerika muak mengetahui tentang aplikasi yang menjual informasi lokasi mereka dan data sensitif lainnya kepada siapa pun yang memiliki buku cek, termasuk kepada pemerintah," kata Wyden.

“Apple dan Google berhak mendapatkan pujian karena melakukan hal yang benar dan mengasingkan X-Mode Social, perusahaan pelacakan paling terkenal, dari toko aplikasi mereka. Tapi masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk melindungi privasi orang Amerika, termasuk membasmi banyak broker data lain yang menyedot data dari ponsel Amerika,” tambah Wyden.

Apple Temukan 100 Aplikasi yang Memuat Kode Pelacakan X-Mode
Penelusuran Apple menemukan 100 aplikasi yang dibuat oleh 30 pengembang yang menyematkan kode pelacakan dari X-Mode, menurut penjelasan yang diberikan kepada kantor Senator Wyden dan dijelaskan ke Journal.

Apple mengutip potensi pelanggaran aturannya seputar penggunaan dan pembagian data dan memberi waktu dua minggu kepada pengembang untuk menghapus SDK X-Mode. Apple mengatakan kepada pengembang bahwa X-Mode "diam-diam membuat profil pengguna berdasarkan data pengguna yang dikumpulkan", yang melanggar persyaratan layanannya.

Tindakan keras pada X-Mode dilakukan saat Apple bersiap untuk menyoroti pengguna iPhone dengan lebih baik tentang bagaimana data mereka dilacak. Tahun depan, Apple telah mengatakan, mereka akan meluncurkan pembaruan perangkat lunak yang akan mencegah pengiklan mengumpulkan pengenal iklan seseorang tanpa izin pengguna. Beberapa perusahaan, seperti Facebook, mengatakan perubahan itu akan merusak kemampuan mereka untuk menargetkan iklan yang dipersonalisasi pada orang-orang yang menggunakan perangkat Apple.

Craig Federighi, kepala rekayasa perangkat lunak Apple, minggu ini menegaskan kembali posisi Apple bahwa pengguna harus memiliki kendali atas data mereka, terutama dalam hal melacak lokasi mereka. Di antara perubahan yang dibuat untuk membatasi pelacakan tersebut, ia mencatat bahwa perubahan perangkat lunak terbaru memungkinkan pengguna mengaktifkan fitur yang memungkinkan perkiraan lokasi daripada lokasi yang tepat.

“Ke mana Anda pergi menunjukkan banyak hal tentang siapa Anda. Seperti apakah Anda pergi ke tempat ibadah tertentu, ”kata Federighi hari Selasa selama Konferensi Perlindungan Data dan Privasi Eropa.

“Ada potensi yang sangat besar untuk jenis data ini disalahgunakan. Dan cara beberapa aplikasi dirancang, pengguna mungkin tidak tahu bahwa mereka memberikannya begitu saja,” tambahnya.[]

Berita terkait:

#datalokasi   #pelacakan   #muslimpro   #apple   #google   #xmode

Share:




BACA JUGA
Google Mulai Blokir Sideloading Aplikasi Android yang Berpotensi Berbahaya di Singapura
Apple Keluarkan Patch untuk Zero-Day Kritis di iPhone dan Mac
Google Penuhi Gugatan Privasi Rp77,6 Triliun Atas Pelacakan Pengguna dalam Icognito Mode
Malware Menggunakan Eksploitasi MultiLogin Google untuk Pertahankan Akses Meski Kata Sandi Direset
Google Cloud Mengatasi Kelemahan Eskalasi Hak Istimewa yang Berdampak pada Layanan Kubernetes