
Foto: Freepik.com
Foto: Freepik.com
Paris, Cyberthreat.id - Facebook menyatakan sepakat untuk membantu Pemerintah Prancis dalam mengidentifikasi penyebaran ujaran kebencian yang dilakukan pengguna platformnya di Prancis.
"Ini untuk pertama kalinya raksasa medsos itu akan menyerahkan data informasi identifikasi kepada pihak berwenang tentang penggunanya dalam kasus-kasus terkait dengan terorisme atau tindakan kekerasan," demikian seperti dikutip dari Independent, Rabu (26 Juni 2019).
"Ini berita besar," ujar Cedric O, Menteri Urusan Digital Prancis. "Artinya, proses peradilan akan berjalan normal. Ini sangat penting, mereka hanya mau melakukannya untuk Prancis," ia menambahkan. Sejak dilantik sebagai menteri pada Maret lalu, Cedric memang fokus untuk mengatasi masala ujaran kebencian.
Juru bicara Facebook menuturkan bahwa perusahaan akan mempertimbangkan permintaan dari otoritas Prancis menyangkut informasi dasar dalam kasus pidana sepreti ujaran kebencian.
Kesepakatan itu menyusul pertemuan awal Juni ini antara Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan pendiri FAcebook Mark Zuckerberg.
Facebook saat ini menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mengidentifikasi ujaran kebencian dan akun-akun palsu. Perusahaan mendefinsikan ujaran kebencian, seperti ujaran tidak manusiawi atau keras, pernyataan merendahkan (inferioritas), atau seruan untuk perpecahan. Hal itu mencakup ujaran terhadap ras, etnis, afiliasi agama, orientasi seksual, dan gender.
Sebelumnya, Facebook juga telah bekerja sama dengan Prancis terkait dengan serangan teror. Facebook siap menyerahkan alamat IP (internet protocol) dan data pengguna yang kedapatan melakukan ujaran kebencian kepada pengadilan Prancis.
Share: