
Ilustrasi: Website KPU Jawa Barat
Ilustrasi: Website KPU Jawa Barat
Cyberthreat.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyiapkan aplikasi khusus untuk memastikan akurasi penghitungan suara dalam Pilkada serentak yang akan berlangsung pada 9 Desember mendatang. Aplikasi yang dinamakan Sirekap ini nantinya akan digunakan oleh petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) untuk melaporkan hasil penghitungan suara yang dilakukan di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Komisioner KPU Viryan Aziz mengatakan, yang membedakan Sirekap dengan Situng KPU sebelumnya adalah Sirekap dirancang untuk membantu mempercepat hasil perhitungan suara. Sedangkan Situng lebih kepada sarana publikasi hasil perhitungan suara dari setiap TPS agar dapat diakses secara online.
"Pengalaman sebelumnya di mana hasil pemilu sampai 30 hari baru selesai perhitungannya, orang kan ribut karena hasil pemilu lama keluarnya. Nah, denga Sirekap ini, nantinya hasilnya bisa lebih cepat, bisa selesai dalam tiga hari," kata Viryan dalam webinar yang diselenggarakan Perludem, Senin (1 Desember 2020)..
Nantinya, kata Viryan, petugas KPPS akan memfoto hasil penghitungan manual di setiap TPS. Setelah itu, datanya dikirim ke server KPU. Server nantinya akan memindai foto tersebut menggunakan teknologi teknologi Optical Character Recognition (OCR) dan Optical Mark Recognition (OMR).
Untuk mengantisipasi kemungkinan kesalahan pembacaan angka oleh sistem, kata Viryan, selanjutkan data hasil pemindaian akan dikirim lagi ke petugas KPPS untuk diverifikasi kebenarannya bersama dengan saksi-saksi di TPS.
"Misalnya difoto tertulis 141, tapi oleh sistem terbaca 147. Itu nanti akan diverifikasi ulang oleh petugas KPPS dan saksi-saksi. Jika sudah terkonfirmasi benar, baru disimpan lagi dan terhubung ke server KPU," kata Viryan.
Sistem Sirekap ini, kata Viryan, adalah alat bantu untuk memastikan integritas hasil pemilihan, memastikan dan menjaga kemurnian suara di TPS.
Menurut Viryan, sejak September lalu sudah melakukan simulasi untuk memastikan sistem itu berjalan lancar dengan melakukan uji coba dari 298 ribu TPS.
Masyarakat umum, kata Viryan, dapat melihat hasil rekapitulasinya lewat situs KPU. Dengan begitu, kata Viryan, masyarakat dapat melaporkannya jika menemukan masih adanya kesalahan penghitungan.
"Jadi, sistem ini dapat menguatkan kontrol publik terhadap hasil pemilihan. Kami sengaja membuka itu untuk meminimalisir potensi manipulasi pnghitungan suara," tambah Viryan.
Lantas, bagaimana dengan TPS yang belum terjangkau koneksi internet? Viryan mengatakan, petugas akan menggunakan versi offline, dan mengirim datanya saat berada di kota kecamatan yang memiliki koneksi internet.
Keamanannya Dijaga oleh Gugus Tugas Keamanan Siber
Dalam diskusi itu, turut hadir pakar keamanan siber Onno W Purbo yang melontarkan pertanyaan terkait keamanan aplikasi itu.
Menjawab itu, Viryan mengatakan pihaknya mengantisipasi serangan dengan membagi servernya menjadi dua bagian terpisah antara server produksi dan server untuk publikasi. Dengan begitu, ketika ada serangan, tidak berdampak terhadap server produksi yang mengolah data. Selain itu, KPU juga memasang firewall dan anti-DDoS.
Viryan menambahkan, untuk memastikan keamanan Sirekap, pihaknya bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Tekologi (BPPT), Kementerian Kominfo, dan Badan Keamanan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
"Kami membentuk yang namanya Gugus Tugas Keamanan siber bekerja sama dengan BSSN, BPPT dan Kominfo untuk tongkrongin proses Sirekap ini, " kata Viryan.
Viryan menegaskan, aplikasi itu murni karya tangan-tangan anak Indonesia.
Onno W Purbo memuji inisiatif KPU membuat aplikasi itu. Menurut Onno, memang tidak ada sistem yang 100 persen sempurna. Yang paling penting, kata dia, setiap ditemukan masalah harus segera diantisipasi.
"Jadi kalau kita jawab ini sistemnya enggak akan jebol, itu kayak kita mendahului Tuhan. Semua sistem buatan manusia itu enggak ada sempurna, tetapi kita sebagai manusia punya kemampuan untuk berusaha memperbaiki sistem yang ada" ujarnya.
Onno pun yakin yang mengerjakan Sirekap ini bukan orang bodoh. Pasalnya, sistemnya dibuat oleh tangan anak Indonesia, yang dipercayai Onno pasti orang terbaiknya Indonesia.[]
Editor: Yuswardi A. Suud
Share: