IND | ENG
Muslim Pro Jual Data Lokasi Penggunanya ke Militer AS untuk Kontra-terorisme

Aplikasi Muslim Pro | Foto: Google Play Store

Muslim Pro Jual Data Lokasi Penggunanya ke Militer AS untuk Kontra-terorisme
Andi Nugroho Diposting : Selasa, 17 November 2020 - 09:39 WIB

Cyberthreat.id – Perusahaan yang mengembangkan Muslim Pro—aplikasi yang berisi doa, waktu shalat, dan bacaan Al Quran—diduga telah menjual data lokasi penggunanya ke broker pihak ketiga.

Salah satu pembeli data lokasi lewat broker tersebut adalah militer Amerika Serikat, demikian laporan Motherboard, portal berita teknologi milik Vice Media asal Amerika Serikat, yang dikutip dari Business Insider, diakses Selasa (17 November 2020).

Muslim Pro hingga kini telah diunduh hingga 98 juta kali dan termasuk platform paling populer di kalangan umat Muslim di dunia, termasuk di Indonesia. Aplikasi ini dikembangkan oleh Bitsmedia Pte Ltd yang berkantor pusat di Singapura.

Laporan Motherboard memberikan gambaran terbaru bagaimana lembaga pemerintah dapat mengontak ke broker data pribadi untuk mengumpulkan informasi terperinci tentang pergerakan individu, termasuk warga negara.


Berita Terkait:


Praktik-praktik penjualan tersebut telah lama dikritik oleh aktivis pendukung perlindungan data privasi. Perusahaan internet dan mitranya bersikeras bahwa “pergerakan orang-orang dianonimkan dan tidak terikat secara langsung dengan identitas mereka.

Namun, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa mudah untuk membongkar anonimitas data lokasi dan menautkannya kembali ke setiap pengguna, tulis Business Insider.

Siapa penjualnya?

Muslim Pro menjual data lokasi ke broker pihak ketiga yang bernama X-Mode, menurut laporan Motherboard.

X-Mode telah menjual data lokasi kepada perusahaan rekanan di bidang pertahanan, menurut situs webnya, yang akhirnya memberikan data tersebut kepada Departemen Pertahanan AS.

X-Mode mengatakan kepada Motherboard bahwa bisnisnya dengan rekanan militer "terutama difokuskan pada tiga kasus penggunaan: kontra-terorisme, keamanan siber, dan prediksi titik kasus Covid-19 di masa depan."

X-Mode sebelumnya telah menerbitkan data lokasi anonim dari smartphone orang untuk menunjukkan pergerakan orang ke dan dari area yang terdampak kasus Covid-19.

Dalam contoh lain, militer AS telah membeli data lokasi langsung dari perantara daripada melalui rekanan pertahanan. Menurut catatan pengadaan publik, Komando Operasi Khusus AS menghabiskan biaya US$ 90,656 pada April lalu untuk mengakses data lokasi yang disediakan oleh perusahaan Babel Street, yang menambang data dari aplikasi telepon pintar.

Tim Hawkins, juru bicara Komando Operasi Khusus AS, mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada Business Insider bahwa perintah membeli data dari Babel Street adalah "untuk mendukung persyaratan misi Pasukan Operasi Khusus di luar negeri."

"Kami secara ketat mematuhi prosedur dan kebijakan yang ditetapkan untuk melindungi privasi, kebebasan sipil, hak konstitusional dan hukum warga Amerika," kata Hawkins.

Perwakilan Babel Street tidak segera menanggapi permintaan komentar. Babel Street menjual produk bernama Locate X yang memungkinkan orang memilih area di peta dan menunjukkan pergerakan perangkat di dalam area itu, menurut Motherboard.

Klien dapat melakukan permintaan pencarian sebanyak yang mereka inginkan setelah membayar untuk mengakses data, menurut dokumen pemasaran Babel Street.

Pembelian tersebut patut menjadi perhatian khusus karena Pentagon (Departemen Pertahanan AS) sebelumnya telah menggunakan data lokasi ponsel pintar untuk merencanakan dan melaksanakan operasi militer.

Badan Keamanan Nasional AS juga menggunakan jenis data lokasi berbeda yang dikumpulkan dari kartu SIM ponsel untuk melakukan serangan drone terhadap tersangka anggota Taliban, menurut laporan media investigasi The Intercept pada 2014.

Namun, sejauh ini, masih belum jelas apakah data lokasi yang dibeli melalui pialang pihak ketiga secara langsung menginformasikan secara spesifik operasi militer AS.[]

#muslimpro   #militeramerikaserikat   #amerikaserikat   #datalokasi   #bitsmedia   #singapura   #penjualandatapengguna   #ancamansiber   #perlindunganprivasi

Share:




BACA JUGA
BSSN Selenggarakan Workshop Tanggap Insiden Siber Sektor Keuangan, Perdagangan dan Pariwisata
7 Kegunaan AI Generatif untuk Meningkatkan Keamanan Siber
Para Ahli Mengungkap Metode Pasif untuk Mengekstrak Kunci RSA Pribadi dari Koneksi SSH
BSSN dan Huawei Berikan Literasi Keamanan Siber Bagi Peserta Diklat Kemenlu
Kaspersky: 1 dari 5 Pengguna Internet Indonesia Jadi Sasaran Serangan Siber