
Charles Lim berbicara pada diskusi online Cyber Security in Pandemic Era.
Charles Lim berbicara pada diskusi online Cyber Security in Pandemic Era.
Cyberthreat.id - Deputi Head dari Master of Information Technology-Swiss Germany University (SGU) Charles Lim mengatakan ancaman paling besar dalam keamanan siber itu adalah malware (malicious software) atau perangkat lunak berbahaya.
“Yang paling berbahaya dari semua keamanan siber ini secara statistik sebenarnya malware. Dari semua bentuk ancaman di dunia cyber security, 50 persen di antaranya berupa malware,” kata dia dalam acara diskusi online bertajuk "Cyber Security in Pandemic Era", Kamis (15 Oktober 2020).
Karena itu, kata Charles, dirinya berfokus meneliti mengenai malware. Sebab, itu artinya dia bisa turut berperan mengatasi 50 persen masalah di dunia siber. Sisanya berkisar tentang sistem, aplikasi, manusianya, dan prosesnya.
“Makanya saya fokus kepada penelitian saya ke malware sehingga saya bisa menyelesaikan masalah-masalah yang 50 persen tadi, itu akan menyelesaikan banyak hal terkait ancaman siber,” kata Charles.
Menurut dia, malware ini seringkali masuk ke perangkat komputer atau mobile kita tanpa kita ketahui, atau tanpa sengaja mengklik dokumen yang dikirim teman atau klik link yang terdapat di email sehingga malware masuk ke perangkat kita. Malware yang masuk itu, kata dia, dapat mencuri informasi yang tersimpan dalam perangkat kita.
Oleh karena itu, Charles menyarankan jangan mengklik dokumen atau link sembarangan yang biasanya dikirim lewat email atau di aplikasi perpesanan yang berujung pada penginstalan malware yang dapat mencuri data dan membocorkannya.
“Ketika anda dikirimkan link untuk browsing itu juga hati-hati. Jangan sampai anda browsing sembarangan tempat. Biasanya malware itu masuk ke desktop, perangkat kita, tanpa kita ketahui.” ujarnya.
Ia juga mengingatkan untuk tidak menggunakan WiFi gratisan karena disitulah tempat hacker bekerja.
Saat ini, kata Charles, yang paling parah adalah ransomware. Ini sebuah malware yang masuk ke perangkat kita dan mengenkripsi data lalu meminta tebusan. Jika tidak diberikan tebusannya maka file tidak bisa dibuka hingga mengancam akan mempublikasikan itu ke publik.
Untuk itu, menurut dia, keamanan siber itu menjadi sangat dibutuhkan, terlebih saat pandemi ini semua terkoneksi dengan internet, perusahaan mulai terkoneksi ke internet atau individu ke internet. Dengan terkoneksi ke internet, maka menurutnya ancaman siber itu pun juga ada.
Namun, karena ancaman juga selalu berkembang, Charles mengajak masyarakat untuk belajar terus menerus karena keamanan siber tidak akan ada habis-habisnya, termasuk mengikuti perkembangan terbaru dari sistem dan aplikasi yang selalu baru.
“Namanya ancaman itu tidak pernah ada habisnya. Jadi hari ini aplikasi dirilis versi 5 nanti dua bulan tiga bulan dirilis versi 6, dengan rilisnya versi baru, tentunya ada fitur baru, ada ancaman baru, jadi tidak pernah ada habis-habisnya, “ kata dia.
“Begitu berhenti belajar ya kita sudah tertinggal dengan kerentanan yang baru, kita tidak pernah tahu,” tambahnya. []
Editor: Yuswardi A. Suud
Share: