
Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto saat meresmikan Sistem Siber TNI di Gedung Siber Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur pada Senin (18/3/2019) Foto: Dok. Pusat Penerangan TNI
Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto saat meresmikan Sistem Siber TNI di Gedung Siber Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur pada Senin (18/3/2019) Foto: Dok. Pusat Penerangan TNI
Cyberthreat.id - Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC, Pratama Persadha, mengatakan TNI harus melakukan penguatan kemampuan cyber defence (pertahanan siber) dan juga cyber intelligence (intelijen siber_ untuk menghadapi perang di masa depan. Kedua hal itu memerlukan paradigma baru di lingkungan TNI, terutama terkait ruang siber.
"Diharapkan dalam waktu singkat TNI memiliki SDM organik yang terampil dan bisa membantu penguatan pengamanan siber di lingkungan TNI. Tugas utama sendiri adalah memperkuat cyber defence sebagai tugas utama TNI," kata Pratama kepada Cyberthreat.id Selasa (6 Oktober 2020).
Menurut Pratama, TNI saat ini perlu memperkuat SDM agar tidak tergantung pihak luar, terutama pihak asing. TNI juga disarankan melakukan penguatan infrastruktur agar tidak menjadi sasaran peretasan dengan mudah.
Terkait pertahanan siber TNI, hal mendasar yang harus dilakukan adalah membentuk sistem yang bisa memonitoring dan mendeteksi dini adanya serangan. Bila hal ini sudah berhasil diimplementasikan, maka TNI bisa fokus ke langkah selanjutnya untuk penguatan SDM dan infrastruktur.
"Penguatan kemampuan TNI ini harus dilakukan secara gradual. Bila dilakukan langsung ke ofensif misalnya tanpa memperkuat SDM dan infrastuktur pertahanan, dikhawatirkan ini akan membuat banyak serangan yang menembus lingkungan TNI," kata Pratama.
Pratama menambahkan, Kementerian Pertahanan dan TNI sudah menyadari betul kondisi siber global saat ini dimana setiap konflik yang melibatkan kekuatan militer ternyata juga melibatkan operasi siber, seperti konflik Rusia vs Georgia maupun Ukraina.
Bahkan, Menteri Pertahanan sendiri beberapa pekan sebelum HUT TNI ke-75 sudah memberikan arahan untuk penguatan siber di lingkungan TNI. Menhan meminta TNI fokus memperkuat SDM dan juga kemampuan pertahahan siber.
"Kebijakan Menhan ini bisa dilihat dari TNI AD dan TNI AU yang sudah membentuk satuan khusus siber. Bahkan TNI AD sudah membentuk Puspansiad (Pusat Sandi dan Siber TNI AD) yang bertugas pada penguatan pertahanan siber TNI AD," ujarnya.
Sebelumnya, saat memberi sambutan dalam HUT TNI yang dilakukan secara virtual pada Senin (5 Oktober 2020), Presiden Joko Widodo meminta TNI bergerak ke transformasi digital.
"Kita harus melakukan tranformasi digital dan personel yang mampu memahami dan memanfaatkan lompatan bidang teknologi informasi, teknologi nano, dan teknologi kecerdasan buatan," ujar Jokowi.
Menurut Jokowi, TNI harus mampu mengantisipasi karakteristik pertempuran baru dengan taktik serangan di masa depan yang mempunyai daya hancur lebih besar (high level distraction). []
Editor: Yuswardi A. Suud
Berita terkait:
Share: