
Ilustrasi | Foto: Govtech.com
Ilustrasi | Foto: Govtech.com
Jakarta, Cyberthreat.id – Internet telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat dunia, tak terkecuali kalangan petani. Bahkan, sebagian para petani di pantai selatan Australia Barat sangat mengeluhkan jaringan internet yang lambat sehingga mengaganggu aktivitas sehari-hari.
Alih-alih mengharapkan The National Broadband Network (NBN), perusahaan penyedia jaringan internet, memperbaiki atau memperbarui jaringannya , masyarakat petani tersebut justru berinisiatif membuat jaringan sendiri.
Tahun lalu, para petani bermitra dengan perusahaan telekomunikasi untuk menyambungkan jaringan serat optik. Didanai dari hibah sebesar US$ 277.500 dari Pemerintah Australia Barat, lokasi yang menjadi pilot project yaitu menghubungkan jaringan internet di 50 peternakan dalam radius 100 kilometer.
Dengan jaringan internet 4G tersebut, petani memungkinkan untuk memproses data dari sensor, kamera, dan traktor. “Proyek ini diharapkan akan beroperasi lebih cepat dari jadwal pada pertengahan 2019 dan menjadi proyek jaringan pertama di negara ini,” demikian laporan dari ABC, Minggu (17/3/2019).
Andrew Slade, petani gandum juga peternak domba, mengatakan sangat terbantu dengan kecepatan internet. Ia mencontohkan ketika Telstra, perusahaan telekomunikasi berpusat di Melbourne, meluncurkan jaringan 5G, dirinya mendapatkan sinyal internet yang kuat saat bekerja di ladang.
“Ada banyak teknologi saat ini yang diaktifkan secara digital,” ujar Slade. “Seperti teknologi monitoring jarak jauh atau penangkapan telematika dari traktor, atau hal-hal sederhana untuk mengontak staf.”
Karena alasan-alasan itulah, kata Slade, proyek jaringan 4G itu penting untuk dibangun. “Seluruh komunitas pertanian berjuang dengan konektivitas internet dan kami mendesak agar lebih banyak internet. Karena di situlah keuntungan produktivitas di masa mendatang,” ujar Slade.
Perusahaan telekomunikasi, Pivotal Satellite, yang bekerja sama dengan University of New England di Armidale, juga mengembangkan internet bagi petani. Jaringan internet tersebut untuk mendukung produktivitas, keberlanjutan, dan keselamatan hewan ternak.
“Yang kami lakukan adalah mengadopsi teknologi yang berkembang di kota-kota, lalu diterapkan di pedesaan dengan solusi yang berbeda,” ujar Manajer Pivotel Satellite WA Business Nicholas Hart.
Proyek kerja sama itu membangun teknologi kecerdasan buatan. Teknologi itu diharapkan tidak hanya bisa mengenali sapi, tapi juga memberitahu petani tentang kondisi sapi secara real-time berdasarkan analisis kamera pengawas (CCTV).
Share: