IND | ENG
FinCEN Files Ungkap Bocoran Dokumen Transaksi Kotor Senilai US$ 2 Triliun oleh Bank Besar Dunia

Ilustrasi: ICIJ

FinCEN Files Ungkap Bocoran Dokumen Transaksi Kotor Senilai US$ 2 Triliun oleh Bank Besar Dunia
Yuswardi A. Suud Diposting : Senin, 21 September 2020 - 23:50 WIB

Cyberthreat.id - Kolaborasi jurnalis dari 88 negara di dunia mengungkap bagaimana bank-bank besar di dunia mengizinkan pelaku tindak kriminal memindahkan uang kotor ke seluruh dunia. Dokumen-dokumen itu berisi rahasia sistem perbankan internasional yang sebelumnya ditutup rapat-rapat. Saking rahasianya, data ini tak bisa diminta secara legal lewat aturan kebebasan informasi.

Dilansir dari BBC, bocoran dokumen itu terdiri dari 2.100 berkas, sebagian besar berisi dokuen yang dikirimkan bank-bank ke otoritas Amerika Serikat antara tahun 2000 hingga 2017. Dokumen itu semacam catatan kecurigaan bank atas apa yang mungkin dilakukan oleh nasabahnya.

Bocoran data itu berasal dari Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) di Amerika Serikat. Media Buzzfeed News yang pertama kali mendapatkan dokumen itu, lantas membagikannya ke ICIJ, organisasi wartawan investigasi dunia. Lantaran luasnya cakupan informasi, ICIJ berkolaborasi dengan 108 kantor berita di 88 negara. Menurut Buzfeed News dan ICIJ, mereka bekerja lebih dari setahun untuk mengolah dan memverifikasi data yang sebelumnya ditutup rapat-rapat itu.

Tidak jelas benar bagaimana Buzzfeed memperoleh bocoran dokumen itu. ICIJ mengatakan dokumen itu berbasis bocoran data. Namun, menurut ICIJ,"Buzzfeed News tidak berkomentar tentang sumber datanya."

Media-media yang terlibat, secara serentak menurunkan laporan hasil investigasinya pada Minggu tengah malam (20 September 2020) waktu Indonesia. Lalu, dhuar, bagaikan bom waktu, laporan itu menyentak pemerintah dan industri perbankan.

FinCEN adalah Jaringan Penegakan Kejahatan Keuangan AS. Mereka bertugas memerangani kejahatan keuangan. Jika ada transaksi yang mencurigakan (Suspicius activity reports/SAR) yang menggunakan mata uang Dolar AS, pihak perbankan wajib memberitahukannya ke FinCEN, bahkan jika transaksinya terjadi di luar Amerika.

Masalahnya, meskipun sudah diberitahukan ke FinCEN, namun, transaksi itu diloloskan oleh bank.

Seperti diketahui, para pelaku kriminal kerap melakukan pencucian uang kotor dengan memasukkannya ke rekening bank terkemuka sehingga tidak akan dikaitkan dengan kejahatan.

"Bank seharusnya memastikan bahwa mereka tidak membantu klien mencuci uang atau memindahkannya dengan cara yang melanggar peraturan," tulis BBC.

Dari dokumen FinCEN yang diperoleh, terdapat hampir 90 institusi keuangan di dalamnya, Namun, tercatat ada 7 bank besar yang meloloskan transaksi dalam jumlah besar, yaitu:

1. HSBC, bank terbesar di Inggris, mengizinkan penipu memindahkan jutaan dolar uang curian ke seluruh dunia, bahkan setelah diberitahu penyelidik AS bahwa skema itu adalah tindak penipuan.

2. JP Morgan mengizinkan sebuah perusahaan memindahkan lebih dari US$1 miliar melalui rekening London tanpa mengetahui siapa pemiliknya. Bank kemudian menemukan perusahaan itu mungkin dimiliki oleh mafia yang masuk dalam daftar 10 Orang Paling Dicari FBI.

3. Ada bukti bahwa salah satu rekan terdekat Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan Barclays Bank di London untuk menghindari sanksi yang dimaksudkan untuk menghentikannya menggunakan layanan keuangan di Barat. Sebagian uang tunai digunakannya untuk membeli karya seni.

4. Inggris disebut "yurisdiksi berisiko tinggi" seperti Siprus, menurut divisi intelijen FinCEN. Itu lantaran lebih dari 3.000 perusahaan Inggris masuk dalam file FinCen- lebih banyak dari negara lain mana pun.

5. Bank sentral Uni Emirat Arab gagal menindaklanjuti peringatan tentang sebuah perusahaan lokal yang membantu Iran menghindari sanksi.
   
6. Deutsche Bank memindahkan uang kotor untuk kejahatan terorganisir, terorisme, dan pengedar narkoba.  

7. Standard Chartered memindahkan uang tunai untuk Bank Arab selama lebih dari satu dekade setelah rekening klien-klien di bank Yordania digunakan untuk mendanai terorisme.

Awal September lalu, FinCEN mengatakan kebocoran laporan itu dapat berdampak pada keamanan nasional AS, risiko investigasi, dan mengancam keselamatan mereka yang mengajukan laporan.

"Pengungkapan SAR yang tidak sah dapat mengganggu investigasi penegakan hukum yang sedang atau akan kami tegakkan. Membocorkan dokumen memungkinkan pelaku kriminal membuang bukti yang relevan dengan mengetahui adanya investigasi atau kemungkinan diinvestigasi," kata Ketua Dewan FinCEN USDT, Jimmy Kirby.

"Membocorkan juga menempatkan saksi dan korban pada risiko cedera fisik," tambahnya.
Namun, pekan lalu badan itu mengumumkan proposal untuk merombak program anti pencucian uang.

Inggris juga telah mengumumkan rencana untuk mereformasi daftar informasi perusahaannya untuk menekan penipuan dan pencucian uang.[]

#fincenfiles   #fincen   #pencucianuang   #perbankan

Share:




BACA JUGA
CHAVECLOAK, Trojan Perbankan Terbaru
Malware Carbanak Banking Muncul Kembali dengan Taktik Ransomware Baru
Kepala BSSN: Keamanan Siber Perbankan, Tanggungjawab Perbankan!
Trojan Android GoldDigger, Targetkan Aplikasi Perbankan di Negara-negara Asia Pasifik
BBTok, Trojan Baru Perbankan yang Tekniknya Sulit Dipahami