
Kane Gamble via Motherboard
Kane Gamble via Motherboard
Cyberthreat.id - Pada 19 April 2020 malam, jarum jam terasa lambat bergerak bagi Kane Gamble. Di kamar tidurnya di rumah orang tuanya di Leicester, Inggris, pria yang dikenal dengan nama Cracka itu tak sabar menunggu tengah malam tiba. Itu adalah menit-menit terakhir ia menjalani hukuman tak boleh bersentuhan dengan komputer dan internet.
Gamble atau Cracka dulunya dikenal sebagai anggota paling menonjol dari kelompok peretas bernama Crackas With Attitude atau CWA.
Pada akhir 2015 hingga awal 2016, Gamble membuat kehebohan dengan meretas akun pribadi beberapa pejabat pemerintah Amerika Serikat, termasuk akun email AOL milik Direktur CIA saat itu John Brennan dan akun internet rumah DIrektur Intelijen Nasional saat itu James Clapper. Ia juga menghajar beberapa situs web lembaga pemerintah Amerika. Saat itu, Gamble berusia 15 tahun.
Ketika tindakannya terbongkar oleh aparat penegak hukum Gamble akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman dua tahun penjara oleh hakim Inggris. Hakim menyebutnya sebagai pemimpin CWA. Sejak ditangkap, ia tidak boleh menggunakan komputer dan dilarang menggunakan perangkat apa pun yang terhubung ke internet hingga 20 April 2020.
Para peretas CWA bukanlah yang paling trampil di dunia. Tetapi mereka keras dan cerdik.
"Kami tidak bodoh, tetapi kami juga tidak terlalu pintar. Mungkin di tengah-tengah," kata Gamble kepada wartawan CNN seperti dikutip dari Motherboard.
Lembaga intelijen Amerika FBI bahkan menyebutnya sebagai "hacktivist", istilah yang merujuk kepada kelompok peretas yang memperjuangkan keadilan sosial dengan menjadikan politisi dan polisi sebagai target peretasan.
Pada 2018, hakim Inggris yang menjatuhkan vonis dua tahun penjara menyebutnya sebagai pemimpin "geng dunia maya" yang melakukan "serangan yang sangat kejam lewat terorisme dunia maya yang bermotif politik."
"Saya pikir itu gila haha," kata Gamble menanggapi tudingan hakim kepadanya.
"Jelas bukan teroris dunia maya, itu benar-benar salah dipahami. Saya pikir mereka menganggapnya jauh lebih serius dari yang sebenarnya. Saya mengerti apa yang kami lakukan adalah serius, tetapi kami bukan teroris. Kami adalah, kurasa, hanya anak-anak yang menyebabkan masalah," katanya.
Pada malam ketika masa "puasa internet" berakhir, Gamble segera membuat Twitter dan berhubungan dengan teman-teman lamanya.
"Itu adalah perasaan yang sangat aneh. Rasanya menyenangkan," ujarnya baru-baru ini seperti dilansir Motherboard.
Gamble mengatakan dia banyak merenung tentang apa yang sudah dilakukan dan menyesalinya sekarang.
"Saya pikir banyak hal yang lebih serius dari yang saya kira saat itu, [saya] tidak menyadari betapa seriusnya sampai saya dituntut dengan tuduhan seperti itu," katanya. "Saya bukan orang itu lagi [...] Saya masih muda dan bodoh."
Dalam beberapa bulan terakhir, Gamble mengatakan bahwa dia sedang berupaya mempersiapkan dirinya untuk memulai karier di industri keamanan siber, belajar sebanyak mungkin tentang aplikasi web, keamanan seluler, dan infrastruktur internet.
Dia mengatakan telah menemukan kekurangan di dua aplikasi perpesanan populer dan mendapat bug bounty melalui program perusahaan yang memberi penghargaan kepada peretas dan peneliti yang memperingatkan tentang adanya masalah di sistem mereka.
"Saya lebih tua sekarang dan saya tidak tertarik pada kejahatan," kata Gamble.
"Saya hanya ingin melanjutkan hidup saya sekarang."[]
Share: