
Logo Telegram | Foto: freepik.com
Logo Telegram | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Gelombang protes besar-besaran terjadi di Belarusia sejak Pilpres 9 Agustus lalu.
Massa memprotes hasil pilpres yang kembali memenangkan Alexander Lukashenko menjadi presiden keenam kalinya. Massa menyebut Lukashenko selama ini juga bersikap otoriter.
Protes yang berjalan selama beberapa pekan, layaknya demonstrasi besar berbulan-bulan di Hong Kong pada tahun lalu, juga memanfaatkan aplikasi telekomunikasi untuk berkoordinasi.
Telegram, pesaing WhatsApp, menjadi pilihan para demonstran untuk berkomunikasi.
Telegram selama ini terkenal dengan fitur-fitur obrolan yang lebih aman dibanding WhatsApp. Telegram juga mendukung file berukuran besar.
Di saluran publik Telegram, para pengguna yang tergabung bisa mendapati agenda protes, waktu, dan lokasi—tentu tak lupa ajakan provokasi pengobar semangat.
“Hari ini akan menjadi hari penting dalam memperjuangan kebebasan kita...,” sebuah bunyi pesan di Telegram, Selasa (18 Agustus 2020), demikian laporan APNews, Jumat (21 Agustus).
Berita Terkait:
Pengikut saluran Telegram lain juga ikut berkomentar terkait penggunaan Telegram.
"Saluran Telegram dan situs web yang bukan milik pemerintah kami adalah sumber informasi utama hari ini karena kami sama sekali tidak dapat mengandalkan media pemerintah," kata Roman Semenov, yang mengikuti saluran NEXTA dan bergabung dalam unjuk rasa di Minsk, pada Rabu (20 Agustus) malam.
“Ini adalah revolusi Telegram,” kata dia.
Telegram memiliki fitur yang sangat berbeda dengan WhatsApp. Pengguna Telegram bisa mencari grup-grup atau saluran publik atau privat dengan tema-tema bermacam-macam, mulai seks hingga politik. Tak terkecuali, agenda khusus seperti demonstrasi di Belarusia.
Saluran publik Telegram yang paling populer mengabarkan agenda protes, membagikan video dan foto di Belarusia, seperti NEXT, NEXTA Live, dan Belarus of the Brain.
“Saluran tersebut telah menjadi cara utama memfasilitasi gelombang protes,” kata Franak Viacorka, Vice President of the Digital Communication Network. Franak juga seorang jurnalis dan aktivis yang sejak muda terlibat dalam pergerakan menentang Lukashenko.
Pada hari-hari setelah pilpres dan internet sempat dipadamkan, pengguna NEXTA Live meningkat dari ratusan hingga lebih dari 2 juta. Sementara, saluran NEXTA memiliki lebih dari 700.000 pengikut
Saluran NEXTA Live yang dilihat Cyberthreat.id pada Senin (24 Agustus) pukul 10.01 WIB telah mencapai 2,16 juta pengikut.
Pengaruh saluran-saluran Telegram di negara berpenduduk 9,5 juta cukup besar, sampai-sampai aparat hukum mengejar pengelola saluran tersebut.
Pekan lalu, aparat penegak hukum Belarusia membuka penyelidikan kriminal terhadap NEXTA dan pendirinya, blogger berusia 22 tahun, bernama Stepan Putilo.
Putilo ditudih menyerukan kerusuhan massal dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Blogger Igor Losik, yang mendirikan Belarus of the Brain, lebih dulu ditangkap sebelum pemilihan, tetapi salurannya terus beroperasi.
“Kami benar-benar telah menjadi pengeras suara dari situasi yang sedang berlangsung di Belarusia saat ini,” Putilo, warga Belarusia yang tinggal di Warsawa, Polandia, kepada Lithuania Delfi.
“Kami telah menjadi suara revolusi, tetapi bukan atas keinginan kami sendiri. Itu baru saja terjadi,” ia menambahkan.
Putilo pertama kali membuat NEXTA (diucapkan NEKH-ta dan berarti "seseorang" dalam bahasa Belarusia) sebagai saluran YouTube pada tahun 2015, ketika dia baru berusia 17 tahun.
Profilnya meningkat tahun lalu ketika video berdurasi 30 menit tentang Lukashenko. Judul video itu “Lukashenko. Criminal Records” telah dilihat hampir 3 juta kali. Pengadilan di Belarusia menyatakan video tersebut ekstremis, tetapi kini masih tersedia di YouTube.
Putilo beralih ke Telegram pada 2018. Dua salurannya sebagian besar berfokus pada politik Belarusia. Timnya menerima ribuan pesan dari pengguna yang mengirimkan foto, video, dan tautan berita setiap hari. Bahkan, tak jarang sumber yang membagikan itu berasal dari orang dalam pemerintahan atau penegak hukum.
Putilo belum menanggapi permintaan komentar.
Ketika protes dimulai, saluran NEXTA menjadi tempat pertama di internet yang memuat gambar-gambar mengerikan dari polisi yang bentrok dengan pengunjuk rasa. Pekan lalu, saluran itu diisi dengan video para pekerja yang melakukan protes di pabrik industri.
Jurnalis di Belarusia memuji saluran itu sebagai “berita terbaru”, tapi tetap media tradisional juga memainkan peran penting.
“Saluran Telegram memang membantu menembus pemblokiran informasi, tetapi saya harus mengatakan bahwa itu bukan hanya mereka,” kata Andrei Bastunets, kepala Asosiasi Jurnalis Belarusia.
“Saluran Telegram (dijalankan oleh blogger) memainkan peran memobilisasi, pengorganisasian, sementara informasi yang lebih seimbang dapat ditemukan di saluran Telegram dari kantor media.”
Platform media sosial telah memainkan peran utama dalam pemberontakan sebelumnya, termasuk di Arab Spring, protes anti-pemerintah di Hong Kong dan demonstrasi menentang ketidakadilan rasial di Amerika Serikat.
Namun, sejak 2016, ketika Rusia dituduh menggunakan Facebook dan platform lain dalam upaya mempengaruhi atau mencampuri pemilu AS, banyak yang melihat media sosial lebih distopia, kata Hans Kundnani, peneliti senior di lembaga think tank berbasis di London, Chatham House.
“Apa yang terjadi di Belarusia saat ini adalah semacam pengingat bahwa sebenarnya media sosial dapat digunakan secara positif dari perspektif demokrasi,” kata Kundnani.[]
Share: