
Ilustrasi | Foto: Unsplash
Ilustrasi | Foto: Unsplash
Cyberthreat.id – Pemerintah Amerika Serikut tuding peretas (hacker) yang didukung pemerintah China sebagai dalang penyerangan ke perusahaan bioteknologi AS, Moderna Inc.
Moderna Inc saat ini sedang meneliti tentang vaksin virus corona. Peretas tersebut diduga berupaya mencuri data pengembangan riset vaksin virus corona.
Pemerintah China, Jumat (31 Juli 2020), membantah tudingan itu. “Tudingan itu tak berdasar dan tanpa bukti, dan China tidak perlu serta terlibat dalam pencurian teknologi,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, seperti dikutip dari Reuters, diakses Senin (3 Agustus).
Pekan lalu, Departemen Kehakiman AS mengumumkan kepada publik sebuah dakwaan terhadap dua warga negara China yang didakwa memata-matai AS terhadap tiga entitas yang berpusat di AS.Sayangnya, mereka tidak menyebutkan tiga nama entitas tersebut yang terlibat dalam penelitian medis untuk memerangi virus corona baru.
Surat dakwaan itu mengatakan, peretas China "melakukan pengintaian" terhadap jaringan komputer sebuah perusahaan biotek Massachusetts yang diketahui sedang meneliti vaksin virus corona pada Januari.
Moderna, yang berpusat di Massachusetts dan mengumumkan calon vaksin COVID-19 pada Januari, mengonfirmasi kepada Reuters bahwa perusahaan telah berkomunikasi dengan FBI.
Perusahaan telah diberitahu adanya upaya "kegiatan pengintaian informasi" yang dicurigai oleh kelompok peretas yang disebutkan dalam dakwaan tersebut.
Kegiatan pengintaian bisa saja, seperti serangkaian tindakan, termasuk meneliti situs web publik untuk mengetahui kerentanan yang ada, sehingga bisa dipakai celah untuk masuk ke jaringan.
"Moderna tetap waspada terhadap ancaman keamanan siber potensial, mempertahankan tim internal, menjaga hubungan baik dengan layanan eksternal untuk terus melihat ancaman dan melindungi informasi berharga yang kami miliki," kata juru bicara Moderna, Ray Jordan, yang menolak untuk memberikan perincian lebih lanjut.
Pejabat keamanan A.S., yang berbicara dengan syarat anonim, tidak memberikan perincian lebih lanjut. FBI dan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS menolak untuk mengungkapkan identitas perusahaan yang menjadi target para peretas.
Calon vaksin Moderna adalah salah satu taruhan paling awal dan terbesar dari pemerintahan Trump untuk memerangi pandemi.
Pemerintah federal mendukung pengembangan vaksin perusahaan dengan hampir setengah miliar dolar dan membantu Moderna meluncurkan uji klinis hingga 30.000 orang mulai selama Juli lalu.
China juga berlomba untuk mengembangkan vaksin, menyatukan sektor-sektor negara, militer dan swasta untuk memerangi penyakit yang telah menewaskan lebih dari 660.000 orang di seluruh dunia.
Siapa peretas ini?
Surat dakwaan 7 Juli lalu menyebutkan dua peretas China, yang diidentifikasi sebagai Li Xiaoyu dan Dong Jiazhi. Mereka telah berpengalaman dalam peretasan selama satu dekade dan paling baru menargetkan kelompok penelitian medis COVID-19.
Jaksa penuntut mengatakan Li dan Dong bertindak sebagai karyawan kontrak untuk Kementerian Keamanan Negara China, sebuah badan intelijen negara.
Dua perusahaan riset medis tak dikenal lainnya yang disebutkan dalam dakwaan Departemen Kehakiman digambarkan sebagai perusahaan bioteknologi yang berbasis di California dan Maryland.
Jaksa mengatakan para peretas “mencari celah keamanan” dan “melakukan pengintaian” terhadap mereka.
Di Maryland, aturan setempat meminta agar perusahaan yang meneliti obat antivirus atau vaksin agar terbuka ke publik. Jika mengacu pada itu, ada dua perusahaan yang mengembangkan vaksin pada bulan Januari. Dua perusahaan itu: Gilead Sciences Inc dan Novavax Inc.
Sayangnya kedua perusahaan enggan memberi tanggapan lebih.. Novavax tidak mengomentari kegiatan keamanan siyber spesifik, tetapi mengatakan: "Tim keamanan siber kami telah diberitahu tentang dugaan ancaman asing yang diidentifikasi dalam berita.”[]
Redaktur: Andi Nugroho
Share: